SIAPA pun yang terjun dalam bidang politik pasti memiliki kepentingan
kekuasaan. Kekuasaan di mata Islam bukanlah barang terlarang,
sebaliknya kekuasaan dan politik dianjurkan selama tujuannya untuk
menjalankan visi-misi kekhalifahan. Untuk itu kekuasaan harus didapatkan
dengan tetap berpegang pada etika Islam. Sebagai agama yang sempurna,
Islam telah memberikan panduan etika dalam kehidupan manusia. Karena itu
etika dalam politik menjadi suatu keharusan.
Fakta
memperlihatkan bahwa tidak sedikit yang menghalalkan segala cara dalam
memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Bertemunya berbagai kepentingan
antarkelompok dalam kalangan elite politik adalah sebuah keniscayaan
akan terjadinya konflik bahkan berujung pada penyelesaian dengan jalan
kekerasan, jika tidak ada kesepahaman bersama.
Etika politik
adalah sesuatu yang sangat penting dalam Islam, karena politik dipandang
sebagai bagian dari ibadah, maka politik harus dilakukan berdasarkan
prinsip-prinsip ibadah. Di samping itu, politik berkenaan dengan prinsip
Islam dalam pengelolaan masyarakat, karena itu prinsip-prinsip hubungan
antarmanusia seperti saling menghargai hak orang lain dan tidak
memaksakan kehendak harus berlaku dalam dunia politik.
Mestinya
ketika membahas tentang etika politik saat ini tidak dipandang seperti
berteriak di padang pasir yang tandus dan kering. Sementara realitas
politik itu sebenarnya pertarungan antara kekuatan dan kepentingan yang
tidak ada kaitan dengan etika. Politik dibangun bukan dari yang ideal
dan tidak tunduk kepada apa yang seharusnya. Dalam politik,
kecenderungan umum adalah tujuan menghalalkan segala cara seperti yang
diajarkan oleh Machiavelli. Sementara Immanuel Kant menyebutkan bahwa
ada dua watak yang terselip di setiap insan politik, yaitu watak merpati
dan watak ular.
Pada satu sisi insan politik memiliki watak
merpati yaitu memiliki sikap lemah lembut dan penuh kemuliaan dalam
memperjuangkan idealisme, tetapi di sisi lain juga memiliki watak ular
yang licik dan selalu berupaya untuk memangsa merpati. Jika watak ular
yang lebih menonjol daripada watak merpati, inilah yang merusak
pengertian politik itu sendiri yang menurut filosof Aristoteles bahwa
politik itu sendiri bertujuan mulia. Untuk itulah pentingnya etika
politik sebagai alternatif untuk mewujudkan perilaku politik yang
santun.
Pemikiran Aristoteles sejalan dengan konteks pemikiran
Islam, al-Ghazali yang tidak memisahkan antara etika dan politik,
keduanya saudara kembar yang tidak mungkin dipisahkan. Keduanya akan
menentukan nilai baik-buruk atau benar-salah dari setiap tindakan dan
keinginan masyarakat. Maka politik sebagai otoritas kekuasaan untuk
mengatur masyarakat agar sesuai dengan aturan-aturan moral, bertanggung
jawab, dan mengerti akan hak serta kewajibannya dalam hubungan
kemasyarakatan secara keseluruhan.
Di sini terlihat Islam sebagai
way of life (pandangan hidup) yang baik dan memiliki moral code atau
rule of conduct dalam melayani rakyat. Islam datang dengan resource yang
jelas dan dapat dipertanggungjawabkan yaitu Alquran sebagai sumber
utama dan dipertegaskan dengan Sunnah Nabi. Alquran sebagai dasar bagi
manusia kepada hal-hal yang dilakukan memberikan tekanan-tekanan atas
amal perbuatan manusia (human action) dari pada gagasan. Artinya Alquran
memperlakukan kehidupan manusia sebagai keseluruhan aspek yang organik,
semua bagian harus dibimbing dengan petunjuk dan perintah-perintah etik
yang bersumber dari wahyu, yang mengajarkan konsep kesatuan yang padu
dan logis.
Dalam etika politik yang merupakan etika sosial, untuk
dapat mewujudkan pandangannya dibutuhkan persetujuan dari masyarakat
karena menyangkut tindakan kolektif. Maka hubungan antara pandangan
seseorang (etika individual) dengan tindakan kolektif membutuhkan
perantara yang berfungsi menjembatani kedua pandangan ini berupa
nilai-nilai. Melalui nilai-nilai inilah politikus berusaha meyakinkan
masyarakat agar menerima pandangannya sehingga mendorong kepada tindakan
bersama. Karena itu, politik disebut juga seni meyakinkan melalui
wicara dan persuasi, bukan manipulasi dan kekerasan.
Nilai-nilai kebenaran
Etika politik merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan dan tangung jawab atas realitas kehidupan. Untuk itu realitas politik diupayakan dengan mengkonsepkan dan mengelaborasikan secara mendalam fenomena terhadap pandangan Alquran tentang etika dalam pelayanan rakyat.
Etika politik merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai kebenaran, kejujuran, keadilan dan tangung jawab atas realitas kehidupan. Untuk itu realitas politik diupayakan dengan mengkonsepkan dan mengelaborasikan secara mendalam fenomena terhadap pandangan Alquran tentang etika dalam pelayanan rakyat.
Islam menetapkan nilai-nilai dasar dalam
kehidupan politik, yaitu:
Pertama, prinsip musyawarah (syura), dalam
Islam tidak hanya dinilai prosedur pengambilan keputusan yang
direkomendasikan, tetapi juga merupakan tugas keagamaan. Seperti yang
telah dilakukan oleh Nabi dan diteruskan oleh khulafaur rasyidin. Firman
Allah Swt:
“..dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu...”
(QS. Ali Imran: 159)
Kedua, prinsip persamaan (musawah), dalam
Islam tidak mengenal adanya perlakuan diskriminatif atas dasar perbedaan
suku bangsa, harta kekayaan, status sosial dan atribut keduniaan
lainnya. Yang menjadikannya berbeda di mata Allah hanya kualitas
ketakwaan seseorang sebagaimana firmanNya: “...Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal.”
(QS. Al-Hujarat: 13).
Ketiga, prinsip keadilan
(‘adalah), menegakkan keadilan merupakan suatu keharusan dalam Islam,
terutama bagi para penguasa. Islam juga memerintahkan untuk menjadi
manusia yang lurus, bertanggung jawab dan bertindak sesuai dengan
kontrol sosialnya sehingga terwujud keharmonisan dan keadilan hidup,
sebagaimana firman Allah Swt: “...Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8).
Keempat, prinsip kebebasan
(al-Hurriyah), dalam Islam prinsip kebebasan pada dasarnya adalah
sebagai tanggung jawab terakhir manusia. Konsep kebebasan harus
dipandang sebagai tahapan pertama tindakan ke arah perilaku yang diatur
secara rasional berdasarkan kebutuhan nyata manusia, baik secara
material maupun secara spiritual. Kebebasan yang dipelihara oleh politik
Islam adalah kebebasan yang mengarah kepada ma’ruf dan kebaikan. Allah
berfirman: “... Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan
kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa
tidak akan memikul dosa orang lain...” (QS. Al-An’am: 164).
Politik
merupakan pemikiran yang mengurus kepentingan masyarakat berupa
pedoman, keyakinan hukum atau aktifitas dan informasi. Prinsip-prinsip
Islam dalam politik tersebut menentang pandangan politik menghalalkan
segala cara. Pelaksanaan prinsip Islam dalam politik berlaku menyeluruh
dalam sistem pemerintahan, karena sistem itu menjadi bagian yang
integral dalam Islam.
Wallahu a'lam Bissawab....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
partisipasi pemikiran anda kami tunggu