Selasa, 14 Oktober 2014

HMI dan Sejarah Intelektual Indonesia

Oleh: Moh. Khorofi (Kader HMI Komisariat Sampang)

dalam wadah itu.......
Kita tuangkan suatu masyarakat tanpa eksploitasi
suatu masyarakat yang tiap manusia Indonesia merasa bahagia…
Suatu masyarakat yang tiada seorang ibu menangis
oleh karena tidak bisa memberi air susu kepada anaknya…
Suatu masyarakat yang tiap-tiap orang bisa menjadi cerdasss…
Suatu masyarakat yang benar-benar membuat bangga Indonesia ini,
Suatu bangsa yang terdiri dari ratusan Insan Kamil yang
hidup dengan bahagia di bawah kolong langit Allah Swt….
Ini tujuan kita, ini Maksud Kita, ini Tekad Kita dengan meng-ADA-kan
negara ini yang kita proklamirkan 17 Agustus 1945.
(Ir. Soekarno)

Adalah sebuah cita-cita besar yang tercermin dari kutipan pidato Bung Karno, salah satu Founding Father Indonesia. Soekarno memiliki cita-cita membangun masyarakat yang Insan Kamil (Hamba Paripurna). Cita-cita yang bisa kita maknai sebagai sebuah harapan besar untuk menyongsong kemajuan Indonesia di masa depan.

Sejalan dengan hal itu, berdirilah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sebuah organisasi mahasiswa islam yang berusaha menciptakan intelektual-ulama dan ulama-intelektual. Atau lazimnya disebut sebagai Insan Kamil sebagaimana dalam kutipan pidato Soekarno.Di HMI, istilah Insan Kamil ini, disebut sebagai insan cita yang memiliki 5 kualitas, 17 indikator dan 5 ciri lainnya yang kemudian disebut Intelektual Muslim Indonesia.

Himpunan Mahasiswa Islam (            HMI) merupakan sebuah organisasi yang lahir pada 5 Februari 1947. Diprakarsai oleh Lafran Pane, seorang intelektual muslim yang berasal dari Sipirok, Tapanuli, HMI mendedikasikan dirinya dalam mega proyek membangun ratusan juta Insan Kamil (baca: intelektual) di Indonesia.

Prof. Dr. Widjoyo Nitisastro menekankan bahwa intelektual adalah hati nurani masyarakat. Intelektual adalah penggugah hati masyarakat, menunjukkan apa yang tidak pada tempatnya, memberi peringatan sebelum terjadi hal-hal yang tidak benar dan membantu menunjukkan arah perkembangan yang benar. Tak heran, jika Ron Eyerman menyebutkan bahwa kaum akademisi belum tentu bisa disebut intelektual. Sebab, seorang intelektual pada dasarnya adalah seorang yang selalu mencari kebenaran melalui olah pikir dan tindakannya, bukan mencari keuntungan ataupun kekuasaan.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita memahami HMI adalah bagian dari organisasi mahasiswa islam yang terlahir di Indonesia yang berusaha membangun masyarakat intelektual di Indonesia dengan memperkaya wawasan keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan. Dalam hal ini, dapat kita maknai bahwa HMI memiliki tujuan mempertahankan NKRI dan menjunjung tinggi derajat rakyat Indonesia, menempatkan islam sebagai inspirasi, motivasi, dan sumber nilai yang harus ditegakkan, serta membangun etos keintelektualan mahasiswa yang independen atau bebas dari kepentingan golongan. Atas dasar ilmu yang dimiliki, ia mampu mewarnai dan memberikan sumbangan untuk Indonesia lebih baik. Tidak berlebihan jika Jenderal Sudirman mengatakan, HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia. Inilah sesungguhnya landasan fundamental dari bangunan intelektual muslim yang hendak dibentuk oleh HMI.

HMI merupakan bagian dari upaya membentuk intelektual muslim di Indonesia, sebagaimana pemikiran Lafran Pane. HMI didirikan agar usaha mencapai usaha tersebut terlaksana secara organisatoris dan teratur. Sebab, pemikiran Lafran Pane ini tidak mungkin dapat diwujudkan seorang diri.  
Wallahu a’lam bish-shawaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

partisipasi pemikiran anda kami tunggu