Pengaruh globalisasi tidak hanya berdampak kepada sektor perdagangan dan ekonomi , tetapi bisa jadi pengaruhnya kepada moral, budaya dan tradisi-tradisi yang berkembang di tengah masyarakat. Oleh karena itu, bagi umat muslim menjadi suatu keharusan untuk merespons arus global ini sebagai sesuatu yang sedang melintasi kehidupan kita.
A. PENDAHULUAN
Banyak agenda yang telah, sedang dan akan dilaksanakan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan Islam. Mulai dari perbaikan system, kurikulum, orientasi tujuan dan hingga integrasi antara ilmu agama dengan ilmu umum yang diwujudkan dengan perubahan IAIN menjadi UIN. Upaya-upaya perbaikan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan era globalisasi yang sedang bergulir saat ini. Dimana pengaruh globalisasi sangat terasa di berbagai segment kehidupan.
Globalisasi sebagai proses percepatan untuk menyatukan dunia[1], telah menjadi megatrend abad 21. Bagi sebagian kalangan masyarakat dunia globalisasi disambut dengan hangat dan tangan terbuka. Tapi, bagi sebagian yang lain menolaknya dengan berbagai reaksi dan kecaman. Karena tak jarang globalisasi menyisakan berbagai problem kemanusiaan yang tak kunjung usai.
Arus globalisasi merupakan sebuah fenomena yang diikuti oleh arus perubahan sosial secara massif sebagai arus sejarah yang tak dapat terelakan[2]. Sehingga hal tersebut dapat memberikan efek yang sangat besar bagi kehidupan umat manusia. Bahkan Nasr Abu Zaid ( dalam Sharodi dkk, 2005 ) menyatakan bahwa pada masa tersebut manusia mengalami split personality ( kepribadian yang pecah).
Oleh karenanya adalah sebuah ancaman, tantangan dan peluang bagi sistem pendidikan Islam untuk menunjukan peran dan eksistensinya dalam percaturan global yang terjadi saat ini. Pendidikan Islam yang tidak hanya sarat akan nilai-nilai kemanusiaan ( humanity ), tetapi juga petunjuk ( al huda, guidance) yang memberikan daya pembeda untuk membedakan antara yang benar dengan yang salah ( al furqon )[3]. Dengan demikian pendidikan Islam diharapkan
mampu mengembalikan manusia menjadi pribadi yang utuh ( integrated personality ) bukan pribadi yang pecah (split personality ).
Berangkat dari beberapa asumsi di atas, dalam makalah ini kami akan mengkaji mengenai hakikat gobalisasi, dampak globalisasi, peluang Pendidikan Islam di era globalisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan untuk menuju Pendidikan Islam yang berdaya saing tinggi di tengah bergulirnya arus Globalisasi.
B. HAKIKAT GLOBALISASI
John Naisbitt dan Patricia Aburdance futurolog Amerika , memprediksi bahwa pada awal abad ke-21 akan muncul era baru dalam tata kehidupan manusia di muka bumi, baik dalam aspek politik, ekonomi maupun aspek kehidupan lainnya. Spektrum tantangan masa depan ini amat luas kaitannya dengan globalisasi yang semakin menguat luas dan mengakibatkan batas-batas politik, ekonomi, dan sosial budaya antar bangsa menjadi semakin samar dan hubungan antarnegara menjadi transparan[4].
Gejala tersebut semakin nampak diperkuat dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Arus informasi yang begitu mudah diakses dan menjangkau hingga pelosok-pelosok dunia. Jarak yang jauh menjadi terasa menjadi dekat. Peran dan pengaruh negara-negara maju terhadap negara-negara berkembang semakin kentara.
Globalisasi telah mengubah wajah dunia. Dari era industrialisasi menuju era informasi tanpa batas. Dimana batas-batas geografis atau territorial seakan tidak ada lagi. Kebudayaan asing bisa memasuki suatu negara dengan bebas. Perdagangan antarbangsa pun menjadi semakin mudah karena tiadanya batas-batas hukum yang rigid. Akan tetapi krisis multidemsional juga terjadi di berbagai belahan dunia. Sebagai contoh di negeri kita sendiri Indonesia, krisis multidimensi ini tampak di berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi, perdagangan NAPZA, perdangan wanita dan anak-anak ( trafficking ) dan sebagainya.
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan globalisasi sehingga ada masyarakat dunia yang begitu gegap gempita menyambutnya dan di sisi lain ada yang begitu geram menolaknya?
Dalam pengertian umum Davies dan Nyland[5] menemukan lima pengertian globalisasi yaitu 1) Internasionalisasi, 2) Liberasi, 3) Universalisasi, 4) Westernisasi atau Modernisasi dan 5) Suprateritorialitas, Yang mengandung makna bahwa ruang sosial tidak lagi ditetapkan atas dasar tempat, jarak dan batas-batas wilayah. Menurut Peter. J.M Nas, globalisasi dapat dipahami sebagai reaksi dan elaborasi terhadap gejala sosiologis yang sekarang sedang terjadi yaitu berkembangnya “ the world system and modernization”[6]. Menurut Featherstone globalisasi melahirkan “Global culture ( which ) is encompassing the world at the international level”.
Selain itu globalisasi juga dimaknai sebagai sebuah proses terintegrasinya bangsa-bangsa dunia dalam sebuah system global yang melintasi batas-batas negara ( trans-nasional). Negara-negara nasional-teritorial tersebut mengalami deteritorialisasi. Dengan deteritorialisasi tersebut, batas-batas geografis menjadi kurang bermakna karena jarak ruang dan waktu sudah bisa diatasi dengan keunggulan teknologi informasi. Batas-batas nasional menjadi kabur dan digantikan dengan dengan transnasional[7].
Dari beberapa definisi mengenai globalisasi di atas, meskipun dengan menggunakan gaya yang berbeda-beda semua mengacu pada pemahaman yang sama yakni integrasi bangsa-bangsa dalam satu sistem global. Yang menghilangkan batas-batas geografis, politik, ekonomi, sosial dan
lainnya. Sehingga, seakan tidak ada lagi rahasia bagi suatu negara tanpa diketahui oleh negara lain. Karena keunggulan teknologi informasi yang menyebabkan akses informasi begitu mudah dan tanpa batas.
Globalisasi telah membawa masyarakat dunia pada sebuah tatanan budaya global. Isu-isu semacam civil society, hak asasi manusia, liberalisasi, multikuluralisme dan sebagainya berkembang dengan pesat menjangkau pelosok-pelosok Negara.
Sedangkan secara historis kecenderungan globalisasi dapat dikategorikan menjadi tiga tahap[8] yaitu a) Gelombang pertama antara tahun 1870-1914. periode ini ditandai dengan perkembangan dalam peralatan transportasi dan penurunan rintangan perdagangan sehingga meningkatkan perdagangan internasional dan investasi negara-negara Amerika utara dan Eropa ke berbagai kawasan. b) Gelombang kedua antara tahun 1950-1980 yang ditandai oleh integrasi negara-negara kaya seperti Jepang, Amerika dan Eropa. Jurang pemisah antara negara maju dengan negara berkembang semakin besar, c) Gelombang globalisasi mutakhir mulai tahun 1980 sampai sekarang yang ditandai oleh kemajuan teknologi transportasi, komunikasi, perkembangan sejumlah negara berkembang yang membuka diri terhadap perdagangan luar negeri dan investasi asing.
Menurut Mansour Fakih[9] pada dasarnya globalisasi terjadi ketika ditetapkannya formasi sosial global baru dengan ditandai oleh diberlakukannya secara global suatu mekanisme perdagangan melalui penciptaan kebijakan free trade yang ditandatangani pada April 1994 yang dikenal dengan General Agreement on Tariff and Trade ( GATT ). Tahun 1995 didirikan World Trade Organization ( WTO ) yang mengambil alih tugas GATT. Sehingga WHO menjadi salah satu aktor dan forum perundingan antarperdagangan dari mekanisme globalisasi yang terpenting.
Sedangkan apabila dilihat dari sejarah perjalanan peradaban umat manusia, dapat diketahui bahwa sebenarnya gejala globalisasi telah ada sejak dulu. Meskipun tidak menggunakan istilah globalisasi. Semangat globalisasi dapat ditemukan pula dalam kitab suci umat Islam, Yakni Al Qur‟an yang menurut hemat penulis mengindikasikan adanya semangat globalisasi yang hendak dibangun oleh umat Islam. Diantara ayat yang menunjukan semangat tersebut adalah friman Allah yang artinya sebagai berikut :
“Dan Kami tidak mengutus engkau ( Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam[10]” dan juga “ Wahai manusia Kami telah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahateliti[11]”.
Musthafa Al Maraghy memberi penjelasan mengenai surat Al Anbiya ayat 107 diatas dengan mengatakan bahwa Rasulullah Muhammad saw diutus dengan membawa ajaran yang mengandung maslahat di dunia dan di akherat[12]. Sedangkan mengenai surat Al Hujurat ayat 13 beliau berkomentar “Allah menerangkan bahwa manusia seluruhnya berasal dari seorang ayah dan ibu. Maka kenapalah saling olok-olok sesama saudara hanya saja Allah menjadikan mereka bersuku-suku dan berkabilah-kabilah yang berbeda-beda agar diantara mereka terjadi saling kenal dan tolong menolong dalam kemaslahatan-kemasalahatan mereka yang bermacam-macam.[13]
Tentunya sangat jauh semangat globalisasi yang diindikasikan Allah dalam kitabNya yang mulia Al Qur‟anil Adhim dengan proses dan gejala globalisasi yang bergulir dewasa ini. Kehidupan global yang diharapkan Islam adalah sebagai wujud mencari ridho Allah. Sementara globalisasi
yang bergulir saat ini adalah kolaborasi dan pergantian wajah dari kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme yang sarat akan kepentingan-kepentingan negara-negara maju yang dipaksakan kepada kepada negara-negara yang berkembang.
C. DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM
Sebagaimana disinggung diatas bahwa globalisasi telah menumbuhkan dua sisi yang paradoks yakni sisi positif dan sisi negative. Dalam sisi positifnya globalisasi memberikan peluang besar bagi semua bangsa dan kalangan untuk berekspresi dan berapresiasi dalam ruang global terhadap berbagai fenomena yang berkembang baik secara politis, ekonomi dan akademik[14].
Sisi negatifnya wajah globalisasi tidak sepenuhnya ramah bagi kemanusiaan seperti kepastian negara-negara dunia untuk bekerja sama sebagai komunitas yang hidup di bumi yang satu dalam mengatasi ketidakadilan global, kemiskinan, kerusakan lingkungan , perdamaian dunia dan lain-lain.
Dari sisi perspektif Pendidikan Islam kedua dampak tersebut memberikan implikasi yang siginifikan. Dengan terbukanya cakrawala dunia sebagai imbas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, didukung dengan teknologi informasi yang canggih, semakin mempermudah pelaksanaan proses pembelajaran dan pendidikan. Informasi bisa diakses dengan mudah dan murah, transfer dan alih tangan IPTEK pun semakin mudah dan hemat biaya.
Kecendrungan global mendorong umat Islam untuk terus meningkatkan kompetensinya dalam dunia persaingan yang semakin kompetitif. Keterbukaan akses dan kemudahan komunikasi dan transportasi memudahkan para pelajar muslim untuk menimba ilmu di luar negeri.
Di satu sisi globalisasi juga memberikan efek yang negatif bagi keberadaan pendidikan Islam. Pendidikan Islam dihadapkan dengan berbagai problem keummatan yang bersifat universal. Bergesernya paradigma masyarakat dunia yang cenderung materialisdan hedonis, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat tapi tanpa nilai, kegersangan ruhani, dehumanisasi dan lain-lain merupakan problem keummatan yang harus dihadapi sebagai imbas negatif dari bergulirnya globalisasi.
Ancaman atau tantangan-tantangan globalisasi tersebut tak terelakkan lagi dan mengarah pada turbulensiarah pendidikan Islam. Menurut Abdurahman Assegaf arus globalisasi bukanlah lawan maupun kawan bagi pendidikan Islam, melainkan sebagai dinamisator bagi mesin yang namanya pendidikan Islam. Bila pendidikan Islam mengambil posisi anti global maka akan tidak stationare atau macet dan pendidikan Islampun mengalami intelectual shut down atau penutupan intelektual. Sebaliknya apabila pendidikan Islam terseret arus global dan kehilangan identitas ke Islamannya maka ia akan terlindas[15]
Dampak lain yang timbul sebagai akibat globalisasi adalah timbulnya ketidakadilan global dan kekerasan global. Sehingga dalam menghadapi hal tersebut sikap dan tindakan umat Islam sangat variatif, yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu[16]:
Pertama, golongan liberal mereka menerima ideology dan nilai-nilai yang berkembang seiring dengan arus globalisasi, dengan landasan berpikir bahwa untuk memajukan Islam harus menyesuaikan diri dengan polal pikir bangsa dan Negara maju. JIL termasuk dalam golongan ini.
Kedua, golongan moderat. Golongan ini dapat menerima globalisasi dengan berusaha memilih nilai-nilai yang positif dan memanfaatkan produk-produk globalisasi untuk memajukan Islam. NU dan Muhammadiyah Masuk dalam golongan ini.
Ketiga, golongan Fundamentalis. Sebagaimana dikatakan Samuel P Huntington[17] bahwa respon agama-agama untuk menyelamatkan manusia dari ekses negative globalisasi sering dalam bentuk gerakan “Fundamentalis”. Di kalangan Islam golongan fundamentalis menolak ideology-ideologi dan nilai-nilai yang mengiringi globalisasi. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah MMI, HT, IM, FPI dan lain-lain.
D. PELUANG PENDIDIKAN ISLAM DI TENGAH ARUS GLOBALISASI DAN ISLAMISASI PENGETAHUAN
Globalisasi menghendaki peningkatan kualitas masyarakat muslim secara menyeluruh supaya siap bersaing dengan masyarakat dunia yang lain. Keadaan demikian sangat potensial menimbulkan hal-hal berikut :
- Kegelisahan menghadapi persaingan yang tidak mencerminkan kepastian. Dalam kondisi demikian manusia membutuhkan dukungan, tempat berkonsultasi dan penyeimbang.
- manusia yang bersifat eksplosif atau mudah beringas hanya karena hal-hal sepele.
- Hubungan manusia yang bersifat keringa dari semangat efektifitas, karena senantiasa dipengaruhi oleh dorongan material.
- Perdagangan bebas NAPZA yang menyebabkan hilangnya makna nilai-nilai moralitas dan nilai-nilai agama.
Arus globalisasi juga mengubah sistem sosial. Perubahan sosial ini menurut Prof. Dr. Achmadi (2008:160-161) disebabkan oleh beberapa hal yakni[18]:
- Benturan nilai, budaya dan agama di seluruh dunia yang menurut Samuel P. Huntington disebut dengan benturan peradaban (The clash of civilization) yang berdampak pada perubahan nilai.
- Tuntutan liberalisasi dalam berbagai bidang kehidupan termasuk pendidikan di dalamnya yang menuntut adanya pengakuan atas pluralitas kehidupan.
- Tuntutan kompetensi dalam berbagai bidang kehidupan baik pada skala nasional, regional maupun internasional.
Dengan adanya peluang yang besar yang diberikan oleh globalisasi kepada berbagai kalangan termasuk di dalamnya adalah pendidikan Islam, untuk merespons dan mengapresiasi berbagai fenomena global yang terjadi, maka hal ini adalah peluang emas bagi sistem pendidikan Islam untuk tampil ke gelanggang globalisasi memberikan solusi-solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi oleh manusia di era globalisasi.
Pendidikan Islam yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber pada fundamental resource Islam yaitu Al Qur‟an dan Sunnah harus bisa mengatasi kecenderungan-kecenderungan negatif yang ditimbulkan oleh globalisasi seperti kegersangan ruhani, ketidakpastian, dan bergesernya nilai-nilai agama.
Karena pada dasarnya pendidikan Islam mengemban amanah yang meliputi empat fungsi pengembangan manusia yaitu pertama menyadarkan manusia secara individual pada posisi dan fungsinya di tengah makhluk lain, serta tanggung jawab dalam kehidupannya. Kedua menyadarkan manusia dalam hubungannya dengan masyarakat serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakat. Ketiga menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan
mendorongnya untuk beribadah kepadanya. Keempat menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah tuhan atas penciptaan makhluk lain dan mengambil manfaatnya[19].
Sehingga dengan kata lain, bila dikolaborasikan antara fungsi yang diemban pendidikan Islam tersebut dengan semangat universalisme atau globalisasi istilah sekarang yang terkandung dalam surat Al Anbiya ayat 107 dan Al Hujurat ayat 13 sebagaimana dikemukakan di atas maka pendidikan Islam akan mampu membawa manusia kembali kepada hakikatnya sebagai manusia yang dimnusiakan. Tidak ada lagi kegersangan ruhani, dan alienasi nilai-nilai agama atau ketidakpastian dan kebimbangan yang dihadapi manusia karena tidak memiliki pegangan.
E. ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan itu tidak netral, dan oleh karenanya yang empunya ilmu juga tidak dapat berbuat netral. Tak satupun penelitian yang murni untuk ilmu pengetahuan tanpa spirit (motivasi).
(Dr. Muhammad Shafiq)
Isu sentral lain yang berkembang sekaligus menjadi tantangan bagi pendidikan Islam di era globalisasi adalah Islamisasi pengetahuan. Meskipun masih terjadi adanya ketidaksepahaman antara para cendikiawan muslim. Tokoh sentral penggagas islamisasi pengetahuan ini antara lain adalah Ismail Raji‟ Al Faruqi, Naquib Al Attas, Hasan Bilgrami dan Ziaudin Sardar.
Usaha Islamisasi pengetahuan ini berangkat atau bertitik tolak dari adanya anggapan masyarakat yang mendikotomikan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Bahkan lebih ironis lagi dikatakan bahwa agama itu bukan ilmu, artinya wacana agama adalah wacana yang terlepas dari wacana ilmiah. Asumsi ini kemudian menimbulkan pengotakan yang lebih jauh yakni dengan apa yang disebut dengan reaveled knowledge (pengetahuan yang berasal dari Tuhan) dan scientific knowledge(pengetahuan yang bersumber dari analisis pikir manusia)[20]
Semua ilmu pengetahuan adalah anugrah Allah. Mengetahui segala sesuatu adalah salah satu sifatNya yakni al alim. Manusia menjadi makhluk yang penting karena mampu mengetahui, yang merupakan anugrah yang diberikan oleh Allah. Bagi manusia sifat mengetahui (ilmu) itu penting sebanding dengan eksistensi dirinya (wujud)[21]. Menruut Ibnu Khaldun ilmu pengetahuan dan pembelajaran adalah thabi‟I (pembawaan) manusia karena kesanggupan berfikir. Sehingga secara teologis, mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan itu pada hakikatnya proses identifikasi diri dengan asmaul husna “Al Alimu” (Allah yang Maha Tahu).[22]
Dengan demikian maka Islamisasi pengetahuan menjadi sangat penting karena memiliki dampak yang tidak hanya pada “out put” yang diluluskan, tetapi juga pada sistem pendidikan Islam.
Islamisasi pengetahuan bukan saja akan menghilangkan praktek dikotomik sistem pendidikan, tetapi juga mengikis dikotomik lembaga pendidikan serta dikotomik dalam menyikapi lembaga pendidikan.[23]
Dengan adanya integrasi ilmu pengetahuan atau Islamisasi ilmu pengetahuan, seperti yang telah dijalankan di Indonesia dengan mengubah IAIAN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) seperti yang dilakukan pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN Syarif Hidayatullah dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi UIN Sunan Kalijaga, diharapkan outcomes pendidikan Ilsam memiliki tiga kemampuan sekaligus yaitu kemampuan menganalisis secara akademik, kemampuan melakukan inovasi, dan kemampuan memimpin sesuai dengan tuntutan
peroslan kemasyarakatan keilmuan, maupun profesi yang ditekuninya dalam satu tarikan nafas etos keilmuan dan keagamaan. Serta memiliki pola pemahaman keilmuan yang holistik integralistik[24].
Dalam upaya Islamisasi pengetahuan, Ismail Raji Al Faruqi menawarkan beberapa konsep metodologi yaitu[25]:
- Keesaan Allah (Tauhid), Allah adalah penyebab pertama dan utama serta tujuan akhir dari segala sesuatu. Ilmu pengetahuan Islam mengakui bahwa tak ada wujud, kebenaran atau nilai di luar rangkaian dan jalinan yang selaras di situ Allah merupakan penyebab dan akhir.
- Kesatuan makhluk. Allah menciptakan segala sesuatu dan oleh karenya ciptaanNya ada sebagai keseluruhan integral yang memenuhi tatanan kosmis.
- Kesatuan kebenaran dan ilmu pengetahuan. Berkenaan dengan teori pengetahuan, Islam dapat diposisikan sebagai kesatuan kebenaran. Kesatuan ini diambil dari keesaan mutlak Allah. Sehingga kesatuan kebenaran mensyaratkan :
a. Tidak adanya klaim atas nama wahyu yang berlawanan dengan relaitas
b. Tidak adanya kontradiksi antara rasio dan wahyu adalah sesuatu yang mutlak
c. Tidak adanya penelitian alam atau bagian-bagiannya yang dianggap sebagai kesimpulan akhir.
d. Kesatuan hidup, meliputi :
1) Amanah. Sebagai kepercayaan Tuhan yang diberikan kepada manusia
2) Khilafah. Manusia sebagai kepercayaan Tuhan (amanah) menghasilkan ditetapkannya sebagai
wakil Allah di bumi.
3)Kelengkapan. Islam menghendaki budaya dan peradaban yang komprehensif.
F. PENUTUP
Dengan melakukan kajian terhadap makna dan hakikat pendidikan Islam serta Hakikat dan makna dari bergulirnya arus globalisasi saat ini dapat diambil suatu benang merah bahwa Pendidikan Islam saat ini mengalami sebuah tantang yang begitu besar yang harus diselesaikan sebagai imbas negative dari adanya globalisasi. Meskipun tak dapat dipungkiri bahwa globalisasi juga membawa dampak yang positif bagi kemajuan umat manusia termasuk umat Islam sendiri.
Globalisasi merupakan peluang bagi pendidikan Islam untuk mengembalikan manusia yang telah mengalami dehumanisasi dan kegersangan ruhani yang membutuhkan pegangan dan dukungan spiritual untuk menjalani hidup.
Maka sebagai penutup, dari makalah ini kami mengajak kepada rekan-rekan mahasiswa untuk senantiasa siap terhadap perubahan yang terjadi jadilah pembelajar yang teachable. Mari kita kembangkan semangat globalisasi yang diindikasikan dalam surat Al Anbiya ayat 107 dan surat Al Hujurat ayat 13 untuk mewujudkan terwujudnya Izzul Islam wal muslimin. Hidup dalam tatanan global yang diridoi oleh Allah. Amiin.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Amin. 2006. Islamic Studies di Perguruan Tinggi : Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Achmadi. 2008. Ideologi Pendidikan Islam : Paradigma Humanisme-Teosentris. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
________2008. Globalisasi, Fundamentalisme dan Kekerasan Perspektif Islam. Makalah Internasional dan Call for Paper UMM
Hamid, Endy Suandi. 2008. Globalisasi : Perspektif Ilmu Ekonomi dan Realitas Ekonomi Dunia. Makalah Internasional dan Call for Paper UMM.
Shafiq, Muhammad. 2000. Mendidik Generasi Baru Muslim. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tholkhah, Imam dan Ahmad Barizi. 2004. Membuka Jendela Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo.
Sahrodi, Jamali dkk. 2005. Membedah Nalar Pendidikan Islam. Yogyakarta : Pustaka Rihlah Group.
Mastuhu.1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam. Jakarta : Logos.
Maraghi, Mustafa Ahmad. 1993. Terjemah Tafsir Al Maraghi Juz 17. Semarang : Penerbit Thoha Putra.
_____________________1993. Terjemah Tafsir Al Maraghi Juz 17. Semarang : Penerbit Thoha Putra.
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur‟an. 2006. Al Qur‟an dan Terjemahnya. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Asykuri dkk. 2003. Civic Education. Yogyakarta : Diktilitbang PP Muhammadiyah.
Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
partisipasi pemikiran anda kami tunggu