1. Pengertian Mahasiswa
Mahasiswa
adalah kaum terdidik, terpelajar, berwawasan luas, penuh dengan gagasan
dan semangat akan perubahan kearah yang lebih baik (progresif).
Mahasiswa juga merupakan golongan yang paling sadar di tengah-tengah
masyarakat, yang selalu menjadi agen of social change, agen of social
control, agen of inovation and agen of motivation.
Sebagai
kaum terdidik, mahasiswa sesunguhnya harus menjadi pioneer dan tumpuan
serta pengarah dan pemberi contoh kepada masyarakat untuk bagaimana
kemudian melaksanakan tugas-tugas kekhalifahannya dengan penuh kesadaran
dan rasa tanggung jawab, mengajarkan bagaimana hubungan yang baik antar
sesama manusia (hablumminannaas) lebih-lebih dengan sang Khalik (HablumminAllah).
Mahasiswa
harus ingat bahwa dirinya mesti tetap berpegang teguh pada nilai-nilai
sebuah objektifitas kebenaran dan terlepas dari kepentingan-kepentingan
individualistis atau kelompok dan golongan-golongan tertentu, idealisme
mahasiswa harus menjadi doktrin yang mengakar pada dirinya agar tidak
mudah terombang ambing oleh arus perubahan social dan tidak mudah
melacurkan diri pada kepentingan-kepentingan di luar dirinya, dengan
tetap berpegang teguh dalam membela kebenaran dan kejujuran serta
membela rakyat yang lemah dan tertindas (mustad’afiin) dari belenggu dan kezaliman penguasa (mustakbiriin).
Untuk
itulah mahasiswa harus tetap meningkatkan kualitas pribadinya, mengasah
bakat-bakat dan potensi yang dimilikinya serta mempertajam daya
intelektualitasnya guna menjadi senjata dalam melaksanakan misi
perubahan kearah yang lebih baik.
2. Dinamika Gerakan Mahasiswa dan Kekuatan Perubahan
Keberadaan
mahasiswa sesungguhnya tidak bisa di lepaskan dalam konteks kebangsaan,
karena mahasiswa dan pemuda adalah kaum yang menjadi tumpuan bangsa
dari semua kalangan. Fakta sejarahlah yang menjadi tolak ukur vitalnya
posisi mahasiswa dalam pergerakan dan perjuangan, disaat-saat kritis
bangsa kita di tengah-tengah penjajahan secara fisik, ternyata kaum
terpelajar dan mahasiswa mampu menyelesaikannya secara psikis.
Setiap
perkembangan bangsa, fase kemajuan peradaban itu pasti ada “gelora
darah muda” yang mempeloporinya, yang kalau di Indonesia di mulai
sebelum berbentuk Negara yaitu dengan menganut system kerajaan, yang
mana sudah ada sosok pemuda yang mengisi ruang kepemimpinan pembaharuan,
seperti “Hayam Wuruk” raja maja pahit yang baru berusia 16 tahun, di
masa kepemimpinannya hampir semua kerajaan bersatu saat itu, bangsa
Indonesia dikenal dengan sebutan nusantara atau nuswantoro (bahasa
jawanya).
Begitu
juga dengan fisi penjajahan belanda, pemuda yang merasa sakit, gelisah
dan terbakar semangatnya terhadap penjajah belanda kembali tampil dalam
runag-ruang pembelaan bangsa, seperti halnya perjuangan pangeran
Diponegoro yang memilih berperang melawan belanda bersama
pejuang-pejuang muda lainnya
Dalam
fase perjuangan berikutnya, lagi-lagi dunia di gegerkan dengan gerakan
pemuda Indonesia yang tidak henti-hentinya melawan penjajahan belanda,
yang dipelopori oleh mahasiswa STOVIA dengan perjuangan intelektualnya
memakai strategi berpencar dan tidak sentralistik yakni dengan
organisasi yang terkena dengan nama BUDI UTOMO, maka dengan dasar itulah
melalui proses yang panjang maka lahirlah Sumpah Pemuda pada tanggal 28
oktober 1928 yang terkenal itu.
Kemudian
tepatnya pada tanggal 17 agustus 1945 mahasiswa dan pemuda waktu itu
mendesak Soekarno dan Hatta untuk membacakan teks proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia dan terbukti Indonesia bisa merdeka. Kemudian
penurunan Soekarno sebagai presiden juga dilakukan oleh mahasiswa karena
krisis ekonomi yang berkepanjangan dan pemberontakan yang dilakukan
oleh G 30.S/PKI, maka mahasiswa turun ke jalan-jalan dengan aksi TRITURA
yang terkenal itu sampai dikeluarkannya Supersemar kepada Soeharto. Dan
lagi-lagi gerakan Reformasi pada tahun 1997 kembali mahasiswa dengan
aksinya berhasil menurunkan presiden Soeharto karena KKNnya setelah
kurang lebih 32 tahun berkuasa dan mempercepat pemilu tahun 1999 sebagai
awal terbukanya keran demokrasi di indonesia.
Itulah
sedikit kilas balik tentang perjuangan yang talah dilakukan oleh
mahasiswa dan pemuda Indonesia dalam mengisi ruang-ruang perubahan di
negeri tercinta ini yang dalam catatan histories bangsa tercatat dengan
tinta emas, oleh karena itu sebagai kaum muda maka kita harus tetap pada
garis independensi dan idealisme yang kita miliki dengan tetap
melakukan pembelaan terhadap rakyat yang tertindas (mustad’afiin)
dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai idealisme, kebenaran,
kejujuran, keadilan tanpa balutan kepentingan-kepentingan
individualistis dan golongan-golongan tertentu.
B. Hakikat Keberadaan HMI
1. Makna HMI Sebagai Organisasi Yang Berazaskan Islam
Hari
ini telah Kusempurnakan bagi kamu agamamu dan telah Ku cukupkan
kepadamu nikmat-Ku dan Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS.
Al-Maidah : 3).
Islam
sebagai ajaran yang hak dan sempurna hadir di bumi diperuntukkan untuk
mengatur pola hidup manusia agar sesuai denga fitrah kemanusiaannya
yakni seebagai khalifah di muka bumi ini, dengan kewajiban mengabdikan
diri semata-mata kehadirat Allah SWT.
Kelahiran
HMI dari rahim pergolakan revolusi fisik bangsa pada tanggal 5 februari
1947 didasari pada semangat mengimplementasikan nilai-nilai keislaman
dalam berbagai aspek ke-indonesiaan
Islam
yang senantiasa memberikan energi perubahan mengharuskan pada
penganutnya untuk melakukan inovasi, internalisasi, eksternalisasi
maupun obyektifikasi. Dan yang paling fundamental adalah peningkatan
gradasi umat diukur dari kualitas keimanan yang datang dari kesadaran
paling dalam bukan dari pengaruh eksternal, perubahan bagi HMI adalah
merupakan suatu keharusan dengan semakin meningkatnya keyakinan akan
islam sebagai landasan teologis dalam berinteraksi secara vertical
maupun horizontal, maka pemilihan islam sebagai azas merupakan pilihan
dasar dan bukan implikasi dari sebuah dinamika kebangsaan. Maka dengan
islam sebagai azas dasar HMI itu berarti Islam harus menjiwai dan di
jiwai oleh setiap kader HMI dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai “Khalifatun fil ardi”.
2. Makna Independensi HMI
Menurut
fitrah kejadiannya, maka manusia diciptakan bebas dan merdeka,
karenanya kemerdekaan pribadi adalah hak yang pertama, tidak ada sesuatu
yang lebih berharga dari pada kemerdekaan itu. Sifat dan suasana bebas
dan kemerdekaan diatas adalah mutlak diperlukan terutama pada fase saat
manusia berada dalam pembentukan dan pengembangan.
Atas
dasar keyakinan itulah, maka HMI sebagai organisasi mahasiswa harus
pula bersifat independen, penegasan ini dirumuskan dalam pasal 6
Anggaran Dasar HMI yang mengemukakan secara tersurat bahwa “HMI adalah
organisasi yang bersifat independent” sifat dan watak independen bagi
HMI adalah merupakan hak azasi yang pertama dan utama.
Watak
independensi HMI adalah sifat organisasi yang secara etis merupakan
karakter dan kepribadian kader HMI, implementasinya harus terwujud
didalam bentuk pola pikir, pola sikap dan pola laku setiap kader HMI
baik dalam dinamika dirinya sebagai kader HMI maupun dalam melaksankan
hakekat dan mission organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Watak
independent HMI yang tercermin secara etis dalam pola pikir, pola sikap
dan pola laku setiap kader akan membentuk “Independensi Etis HMI”,
sementara watak independent HMI yang teraktualisasi di dalam kiprah
organisasi HMI akan membentuk “Independensi Organisatoris HMI”.
Artinya
bahwa HMI secara organisatoris hanya berpegang pada nilai-nilai
obyektifitas kebenaran dari yang Maha tunggal (Allah SWT) dan tidak akan
pernah komit dengan kepentingan-kepentingan seorang atau golongan
manapun.
C. Tujuan (Mission) HMI
Dalam pasal 5 AD HMI di sebutkan secara tersurat bahwa tujuan HMI adalah “Terbinanya
insan akademis, pencipta, penngabdi yang bernafaskan islam dan
bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhai
Allah SWT”.
1. Arti Insan Akademis
- Berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif dan kritis
- Memiliki
kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan
dirahasiakan, menghadapi sekelilingnya dengan penuh kesadaran dan mampu
berdiri dengan ilmu pilihannya baik secara teoritis maupun tekinis.
2. Arti Insan Pencipta
- Kreatif, menciptakan bentuk-bentuk yang baru, dan selalu mencari perbaikan pembaharuan
- Bersifat
independent, terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari potensi
sehingga dapat mengembangkan kreatifitasnya dan mampu melaksanakan kerja
kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.
3. Arti Insan Pengabdi
- Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan umat dan bangsa
- Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukan hanya sanggup membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya juga baik
- Mengamalkan ilmunya untuk kepentingan umat dan bangsa.
4. Arti Insan Yang Bernafaskan Islam
- Islam
yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola pikir, pola sikap dan pola
lakunya tanpa memakai merk islam, islam akan menjadi pedoman dalam
berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai universal islam.
5. Arti Masyarakat Adil Makmur Yang di Ridhoi Allah SWT
- Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat dari perbuatannya
- Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis
- Rasa
tanggung jawab, taqwa kepada Allah SWT, evaluatif dan selektif dalam
setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat adil
dan makmur.
D. Fungsi dan Peran HMI
1. Fungsi HMI Sebagai Organisasi Kader
Fungsi
kekaderan HMI adalah terbinanya manusia yang beriman, berilmu dan
berperikemanusiaan (beramal shaleh), maka setiap anggota HMI dimasa
mendatang akan meduduki jabatan dan fungsi pimpinan yang sesuai dengan
bakat dan profesinya
HMI
adalah organisasi yang fokusnya hanya membina kader-kader intelektual
untuk menjadi persiapan generasi penerus bangsa, di HMI setiap anggota
ditempa dan diasah pengetahuan (skill) dan dibina serta di bentuk
kreatifitasnya dengan sekian banyak jenjang-jenjang proses kaderisasi
baik yang formal maupun yang non formal.
Adapun
proses kaderisasi formal adalah Latihan Kader I (Basic training),
Latihan Kader II (Intermediet training) dan Latihan Kader III (Advance
training) serta pelatihan-pelatihan non formal seperti Up greading,
pelatihan keorganisasian, pelatihan kepemimpinan, pusdiklat, seminar dan
kajian-kajian lainnya.
Hal
tersebut dilakukan sebagai upaya sadar dalam HMI untuk mewujudkan
kader-kader yang berkualitas dan mamiliki daya saing tanpa melepas
motivasi dasar pembentukan organisasi yakni tetap berpegang teguh pada
nilai-nilai ke-Islaman yang universal, kader-kader berkualitas adalah
salah satu bentuk investasi besar terhadap bangsa yang diberikan HMI
dalam upaya mempermudah tercapainya mission perjuangan HMI yakni
terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhai Allah SWT.
2. Peran HMI Sebagai Organisasi Perjuangan
Tujuan
kehidupan manusia yang fitri adalah kehidupan yang menjamin adanya
kesejahteraan jasmani dan rohani secara seimbang atau dengan kata lain
kesejahteraan materiil dan spirituil yang menjadi tumpu dan tujuan hidup
manusia.
Maka
dalam konteks ini HMI adalah sebagai salah satu alat perjuangan
tersebut yakni untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkan
sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita yakni sebagai Khalifatun fil ardi.
Dengan IMAN, ILMU dan AMAL Kita Berjuang
YAKIN USAHA SAMPAI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
partisipasi pemikiran anda kami tunggu