Kamis, 16 Oktober 2014

MISSION HMI

A.     Makna HMI Sebagai Organisasi Mahasiswa
1.    Pengertian Mahasiswa
Mahasiswa adalah kaum terdidik, terpelajar, berwawasan luas, penuh dengan gagasan dan semangat akan perubahan kearah yang lebih baik (progresif). Mahasiswa juga merupakan golongan yang paling sadar di tengah-tengah masyarakat, yang selalu menjadi agen of social change, agen of social control, agen of inovation and agen of motivation.
Sebagai kaum terdidik, mahasiswa sesunguhnya harus menjadi pioneer dan tumpuan serta pengarah dan pemberi contoh kepada masyarakat untuk bagaimana kemudian melaksanakan tugas-tugas kekhalifahannya dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab, mengajarkan bagaimana hubungan yang baik antar sesama manusia (hablumminannaas) lebih-lebih dengan sang Khalik (HablumminAllah).
Mahasiswa harus ingat bahwa dirinya mesti tetap berpegang teguh pada nilai-nilai sebuah objektifitas kebenaran dan terlepas dari kepentingan-kepentingan individualistis atau kelompok dan golongan-golongan tertentu, idealisme mahasiswa harus menjadi doktrin yang mengakar pada dirinya agar tidak mudah terombang ambing oleh arus perubahan social dan tidak mudah melacurkan diri pada kepentingan-kepentingan di luar dirinya, dengan tetap berpegang teguh dalam membela kebenaran dan kejujuran serta membela rakyat yang lemah dan tertindas  (mustad’afiin) dari belenggu dan kezaliman penguasa (mustakbiriin).
Untuk itulah mahasiswa harus tetap meningkatkan kualitas pribadinya, mengasah bakat-bakat dan potensi yang dimilikinya serta mempertajam daya intelektualitasnya guna menjadi senjata dalam melaksanakan misi perubahan kearah yang lebih baik.
2.    Dinamika Gerakan Mahasiswa dan Kekuatan Perubahan
Keberadaan mahasiswa sesungguhnya tidak bisa di lepaskan dalam konteks kebangsaan, karena mahasiswa dan pemuda adalah kaum yang menjadi tumpuan bangsa dari semua kalangan. Fakta sejarahlah yang menjadi tolak ukur vitalnya posisi mahasiswa dalam pergerakan dan perjuangan, disaat-saat kritis bangsa kita di tengah-tengah penjajahan secara fisik, ternyata kaum terpelajar dan mahasiswa mampu menyelesaikannya secara psikis.
Setiap perkembangan bangsa, fase kemajuan peradaban itu pasti ada “gelora darah muda” yang mempeloporinya, yang kalau di Indonesia di mulai sebelum berbentuk Negara yaitu dengan menganut system kerajaan, yang mana sudah ada sosok pemuda yang mengisi ruang kepemimpinan pembaharuan, seperti “Hayam Wuruk” raja maja pahit yang baru berusia 16 tahun, di masa kepemimpinannya hampir semua kerajaan bersatu saat itu, bangsa Indonesia dikenal dengan sebutan nusantara atau nuswantoro (bahasa jawanya).       
Begitu juga dengan fisi penjajahan belanda, pemuda yang merasa sakit, gelisah dan terbakar semangatnya terhadap penjajah belanda kembali tampil dalam runag-ruang pembelaan bangsa, seperti halnya perjuangan pangeran Diponegoro yang memilih berperang melawan belanda bersama pejuang-pejuang muda lainnya
Dalam fase perjuangan berikutnya, lagi-lagi dunia di gegerkan dengan gerakan pemuda Indonesia yang tidak henti-hentinya melawan penjajahan belanda, yang dipelopori oleh mahasiswa STOVIA dengan perjuangan intelektualnya memakai strategi berpencar dan tidak sentralistik yakni dengan organisasi yang terkena dengan nama BUDI UTOMO, maka dengan dasar itulah melalui proses yang panjang maka lahirlah Sumpah Pemuda pada tanggal 28 oktober 1928 yang terkenal itu.
Kemudian tepatnya pada tanggal 17 agustus 1945 mahasiswa dan pemuda waktu itu mendesak Soekarno dan Hatta untuk membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dan terbukti Indonesia bisa merdeka. Kemudian penurunan Soekarno sebagai presiden juga dilakukan oleh mahasiswa karena krisis ekonomi yang berkepanjangan dan pemberontakan yang dilakukan oleh G 30.S/PKI, maka mahasiswa turun ke jalan-jalan dengan aksi TRITURA yang terkenal itu sampai dikeluarkannya Supersemar kepada Soeharto. Dan lagi-lagi gerakan Reformasi pada tahun 1997 kembali mahasiswa dengan aksinya berhasil menurunkan presiden Soeharto karena KKNnya setelah kurang lebih 32 tahun berkuasa dan mempercepat pemilu tahun 1999 sebagai awal terbukanya keran demokrasi di indonesia.
Itulah sedikit kilas balik tentang perjuangan yang talah dilakukan oleh mahasiswa dan pemuda Indonesia dalam mengisi ruang-ruang perubahan di negeri tercinta ini yang dalam catatan histories bangsa tercatat dengan tinta emas, oleh karena itu sebagai kaum muda maka kita harus tetap pada garis independensi dan idealisme yang kita miliki dengan tetap melakukan pembelaan terhadap rakyat yang tertindas (mustad’afiin) dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai idealisme, kebenaran, kejujuran, keadilan tanpa balutan kepentingan-kepentingan individualistis dan golongan-golongan tertentu.

B.    Hakikat Keberadaan HMI
1.    Makna HMI Sebagai Organisasi Yang Berazaskan Islam
Hari ini telah Kusempurnakan bagi kamu agamamu dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu (QS. Al-Maidah : 3).
Islam sebagai ajaran yang hak dan sempurna hadir di bumi diperuntukkan untuk mengatur pola hidup manusia agar sesuai denga fitrah kemanusiaannya yakni seebagai khalifah di muka bumi ini, dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata kehadirat Allah SWT.
Kelahiran HMI dari rahim pergolakan revolusi fisik bangsa pada tanggal 5 februari 1947 didasari pada semangat mengimplementasikan nilai-nilai keislaman  dalam berbagai aspek ke-indonesiaan
Islam yang senantiasa memberikan energi perubahan mengharuskan pada penganutnya untuk melakukan inovasi, internalisasi, eksternalisasi maupun obyektifikasi. Dan yang paling fundamental adalah peningkatan gradasi umat diukur dari kualitas keimanan yang datang dari kesadaran paling dalam bukan dari pengaruh eksternal, perubahan bagi HMI adalah merupakan suatu keharusan dengan semakin meningkatnya keyakinan akan islam sebagai landasan teologis dalam berinteraksi secara vertical maupun horizontal, maka pemilihan islam sebagai azas merupakan pilihan dasar dan bukan implikasi dari sebuah dinamika kebangsaan. Maka dengan islam sebagai azas dasar HMI itu berarti Islam harus menjiwai dan di jiwai oleh setiap kader HMI dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai “Khalifatun fil ardi”.    
2.    Makna Independensi HMI
Menurut fitrah kejadiannya, maka manusia diciptakan bebas dan merdeka, karenanya kemerdekaan pribadi adalah hak yang pertama, tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari pada kemerdekaan itu. Sifat dan suasana bebas dan kemerdekaan diatas adalah mutlak diperlukan terutama pada fase saat manusia berada dalam pembentukan dan pengembangan.
Atas dasar keyakinan itulah, maka HMI sebagai organisasi mahasiswa harus pula bersifat independen, penegasan ini dirumuskan dalam pasal 6 Anggaran Dasar HMI yang mengemukakan secara tersurat bahwa “HMI adalah organisasi yang bersifat independent” sifat dan watak independen bagi HMI adalah merupakan hak azasi yang pertama dan utama.
Watak independensi HMI adalah sifat organisasi yang secara etis merupakan karakter dan kepribadian kader HMI, implementasinya harus terwujud didalam bentuk pola pikir, pola sikap dan pola laku setiap kader HMI baik dalam dinamika dirinya sebagai kader HMI maupun dalam melaksankan hakekat dan mission organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Watak independent HMI yang tercermin secara etis dalam pola pikir, pola sikap dan pola laku setiap kader akan membentuk “Independensi Etis HMI”, sementara watak independent HMI yang teraktualisasi di dalam kiprah organisasi HMI akan membentuk “Independensi Organisatoris HMI”.
Artinya bahwa HMI secara organisatoris hanya berpegang pada nilai-nilai obyektifitas kebenaran dari yang Maha tunggal (Allah SWT) dan tidak akan pernah komit dengan kepentingan-kepentingan seorang atau golongan manapun.
C.    Tujuan (Mission) HMI
Dalam pasal 5 AD HMI di sebutkan secara tersurat bahwa tujuan HMI adalah “Terbinanya insan akademis, pencipta, penngabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhai Allah SWT”.
1.      Arti Insan Akademis
-      Berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif dan kritis
-      Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan, menghadapi sekelilingnya dengan penuh kesadaran dan mampu berdiri dengan ilmu pilihannya baik secara teoritis maupun tekinis.
2.      Arti Insan Pencipta
-      Kreatif, menciptakan bentuk-bentuk yang baru, dan selalu mencari perbaikan pembaharuan
-      Bersifat independent, terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari potensi sehingga dapat mengembangkan kreatifitasnya dan mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.
3.      Arti Insan Pengabdi
-      Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan umat dan bangsa
-      Sadar membawa tugas insan pengabdi, bukan hanya sanggup membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya juga baik
-      Mengamalkan ilmunya untuk kepentingan umat dan bangsa.
4.      Arti Insan Yang Bernafaskan Islam
-      Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola pikir, pola sikap dan pola lakunya tanpa memakai merk islam, islam akan menjadi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai universal islam.
5.      Arti Masyarakat Adil Makmur Yang di Ridhoi Allah SWT
-      Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat dari perbuatannya
-      Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis
-      Rasa tanggung jawab, taqwa kepada Allah SWT, evaluatif dan selektif dalam setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat adil dan makmur.
D.    Fungsi dan Peran HMI
1.      Fungsi HMI Sebagai Organisasi Kader
Fungsi kekaderan HMI adalah terbinanya manusia yang beriman, berilmu dan berperikemanusiaan (beramal shaleh), maka setiap anggota HMI dimasa mendatang akan meduduki jabatan dan fungsi pimpinan yang sesuai dengan bakat dan profesinya
HMI adalah organisasi yang fokusnya hanya membina kader-kader intelektual untuk menjadi persiapan generasi penerus bangsa, di HMI setiap anggota ditempa dan diasah pengetahuan (skill) dan dibina serta di bentuk kreatifitasnya dengan sekian banyak jenjang-jenjang proses kaderisasi baik yang formal maupun yang non formal.
Adapun proses kaderisasi formal adalah Latihan Kader I (Basic training), Latihan Kader II (Intermediet training) dan Latihan Kader III (Advance training) serta pelatihan-pelatihan non formal seperti Up greading, pelatihan keorganisasian, pelatihan kepemimpinan, pusdiklat, seminar dan kajian-kajian lainnya.
Hal tersebut dilakukan sebagai upaya sadar dalam HMI untuk mewujudkan kader-kader yang berkualitas dan mamiliki daya saing tanpa melepas motivasi dasar pembentukan organisasi yakni tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ke-Islaman yang universal, kader-kader berkualitas adalah salah satu bentuk investasi besar terhadap bangsa yang diberikan HMI dalam upaya mempermudah tercapainya mission perjuangan HMI yakni terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhai Allah SWT.
2.      Peran HMI Sebagai Organisasi Perjuangan
Tujuan kehidupan manusia yang fitri adalah kehidupan yang menjamin adanya kesejahteraan jasmani dan rohani secara seimbang atau dengan kata lain kesejahteraan materiil dan spirituil yang menjadi tumpu dan tujuan hidup manusia.
Maka dalam konteks ini HMI adalah sebagai salah satu alat perjuangan tersebut yakni untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang diinginkan sesuai dengan fitrah kemanusiaan kita yakni sebagai Khalifatun fil ardi.

Dengan IMAN, ILMU dan AMAL Kita Berjuang
YAKIN USAHA SAMPAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

partisipasi pemikiran anda kami tunggu