Dakwah dalam termonologi sejarah Islam
adalah gerakan yang tertua, sejak Adam a.s diciptakan dan menerima
amanah Ilahi menjadi Khalifah fil Ardhi, starting point gerakan
dakwah mulai digerakan dan ditujukan kepada bani Adam. Misi pengembanan
dakwah merupakan misi utama para nabi dan rosul. Nabi Muhammad SAW
Rosul terakhir pilihan Allah telah berhasil menyempurnakan misi dakwah
para Rosul sebelumnya, Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin menerobos
dimensi kehidupan manusia secara individu maupun sosial untuk hanya
menerima Allah Al-Kholiq yang diibadahi dengan menjadikan al-Qur’an dan
Sunnah Rosululloh sebagai pedoman hidup manusia. Islam telah menembus
batas-batas wilayah, budaya, adat istiadat untuk hanya menerima Syari’at
Islam yang menyelamatkan hidup dan kehidupan dhohir bathin di dunia dan
akherat.
Sejarah Dakwah Islam di Indonesia
memberikan perubahan yang luar biasa bagi peradaban manusia Indonesia.
Kiprah para wali – Wali Songo di tanah Indonesia yang berhasil
mendirikan kekuasaan Islam di Jawa (Kerajaan Islam Demak), Sumatera
(Kerajaan Samudera Pasai), Maluku, Ternate, Tidore dan lain-lain menjadi
bukti adanya akar Ideologis dari setiap gerakan dakwah di masa lalu
untuk terbagunnya sosio politik Islam. Kiprah gerakan dakwah tidak
pernah berhenti oleh jaman dalam situasi dan kondisi apapun juga. Sejak
Belanda datang untuk menjajah negeri ini sampai hengkang yang
selanjutnya di ambil alih oleh Fasisme Jepang juga pada masa Revolusi
Nasional, spirit yang menyala dari setiap pembela Allah dan Rosul-Nya
terus terwariskan dari generasi ke generasi menggelora di dalam dada
menjadi aksi tiada henti sampai Fatah dan Falah di dapatkan.
Beragam macam dan corak gerakan dakwah
yang ada di Indonesia sampai saat ini menghasilkan apresiasi yang
beragam. Disatu sisi macam dan corak dakwah membentuk suatu “pelangi”
indah yang membawa kepada kemasyalahatan umat Islam, ada kegairahan
dalam mengenal, memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Umat Islam dibuat
“melek” terhadap tawaran-tawaran dakwah yang dijalankan baik secara
gerak organisasi maupun individu-individu aktifis dakwah. Dakwah menjadi
“santapan” empuk yang mengisi lorong-lorong akal yang awalnya dangkal,
relung-relung ruhani yang awalnya gersang dan gerak jasmani yang awalnya
rigid – kaku untuk beramal. Dengan adanya ragam dan corak dakwah,
manusia seakan diisi oleh sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk menjalani
hidup dan kehidupan dunia secara hakiki.
Disisi yang lain macam dan corak dakwah
membentuk “benang kusut” yang tiada ujung pangkal. Dakwah seyogyanya
membuahkan yang “Hak” terlihat benarnya dan yang “Bathil” terbukti
salahnya. Dakwah seyogyanya menghasilkan keseragaman pola pikir, pola
sikap dan pola tindak umat Islam secara sinergis membentuk Ummatan
Wahidathan. Tapi apa yang terjadi “benang kusut” gerakan dakwah berbuah
kontra-produktif dari tujuan Allah SWT yang memerintahkan kepada Ummat
Islam untuk tampil sebagai “Pelaku Dakwah”.
Akhirnya semakin lama “pelangi” yang
indah di langit biru bersentuhan dengan “benang kusut” di padang gersang
yang semerawut. Warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu dan
abu-abu (Mejikuhibiniu) tak terlihat secara indah tetapi
berubah menjadi samar dalam “bola kusut warna pelangi dakwah”. Dakwah
yang menyerukan kebenaran bertempur dengan dakwah yang menyerukan
kesesatan. Lalu siapa yang menjadi pemenang ????
Secara
teoritik, Drs. H. Syukriadi Sambas M.Si., Dosen IAIN Sunan Gunung Jati
membagi dakwah dalam katagori pelaku terdiri dari (a) Dakwah Allah, (b)
Dakwah Nabi, (c) Dakwah Umat Nabi, (d) Dakwah Kafir dan (e) Dakwah
Syaitan.
Dakwah Allah adalah dakwah ilahiyah yang bersifat tanajuli dengan pesan dakwah berupa shirath mustaqim dan tujuan dakwah adalah dar as-salam.
Dakwah nabi dan rosul adalah membawa pesan informasi Ilahiyah kepada
ummat manusia agar hanya beribadah kepada Allah SWT, dakwah umat nabi
dan rosul menyampaikan pesan al-Islam sebagai ajaran Ilahi yang mengatur
tata kehidupan umat manusia yang menjamin keselamatan hidup di dunia
dan akherat. Sementara dakwah kafir dan dakwah syetan adalah segala
macam bentuk ajakan untuk menyimpangkan manusia dari kewajiban
melaksanakan Islam secara kaffah .
Problemnya adalah perseteruan dakwah umat
nabi dan dakwah kafir atau dakwah syetan bisa menggunakan “al-Islam”
sebagai pesan dan alat untuk mencapai maksud dan tujuan masing-masing.
Orang-orang kafir dari kubu zionisme, komunisme ataupun salibisme yang
merupakan musuh umat Islam sepanjang jaman, bisa “memanfaatkan” umat
Islam untuk menghancurkan Islam itu sendiri dan konyolnya umat Islam
“tertentu” dengan “santai” melaksanakan program-progam mereka sebagai
sebuah kewajiban .
Indonesia sebagai bangsa dengan mayoritas umat Islam, adalah sasaran empuk dari zionisme, komunisme ataupun salibisme
yang berselingkuh dengan Nasionalisme, Sukuisme dan Ashobiyyah-isme
dalam melaksanakan proyek internasional untuk menghantam gerakan Islam,
dan mencabut fikrah islamiyah dari tatanan kehidupan. Beragam bentuk dan
pola mereka gunakan yang didukung oleh SDM dan dana yang sungguh luar
biasa. Disinilah pertarungan sesungguhnya terjadi.
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (Qs. Al-Baqarah :120)
“Akan datang di satu masa, dimana
kalian dikerumuni dari berbagai arah, bagaikan segerombolan orang-orang
yang rakus yang berkerumun berebut disekitar hidangan. Diantara para
sahabat bertanya keheranan : “ Apakah karena diwaktu itu kita berjumlah
sedikit, ya Rasululloh? Rasul menjawab : “Bukan, bahkan jumlah kalian
waktu itu banyak. Akan tetapi kalian laksana buih terapung-apung. Pada
waktu itu rasa takut di hati lawanmu telah dicabut oleh Allah, dan dalam
jiwamu tertanam penyakit al-wahnu” Apa itu Alwahnu?” Tanya sahabat.
Jawab Rosululloh : “cinta yang berlebih-lebihan terhadap dunia dan takut
yang berlebih-lebihan terhadap mati”. (Hadist Rosululloh)
wallahu a'lam bissawab...
bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
partisipasi pemikiran anda kami tunggu