Minggu, 03 September 2017

IDUL ADHA DAN KEMEROSOTAN MORAL





Idul Adha telah tiba, berbagai macam tradisi tentang Idul Adha terlihat menghiasi ramainya Idul Adha tahun ini. Tradisi-tradisi yang berkembang seiring berjalannya perjalanan sejarah peradaban manusia lahir dari adanya interaksi antar masyarakat setempat, juga beberapa yang lain lahir dari interaksi antara masyarakat setempat dengan masyarakat dari daerah lain, hal ini biasa kita sebut dengan akulturasi budaya. Tradisi-tradisi yang berkembang tersebut seakan telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sampang.
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya saat sedang berlangsungnya uforia Idul Adha, saya dikagetkan dengan sebuah pemandangan yang tidak biasa, sebuah kejadian yang menurut saya diluar dari kebiasaan masyarakat Sampang yang terkenal dengan kesantunannya. Yaitu arakan-arakan yang berlebihan dengan diiringi musik remix di atas mobil lengkap dengan para penarinya di atas mobil. Bagi sebagian orang yang telah terbiasa dengan ramainya dunia malam itu sudah biasa, tapi bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan itu semua, itu bagian dari kemerosotasn nilai-nilai luhur bangsa yang menjadi landasan moral bangsa Indonesia.
Kemerosotan nilai-nilai yang terjadi saat ini seakan mengisyaratkan bahwa di era Globalisasi ini sudah saatnya bangsa Indonesia khususnya masyarakat Sampang melakukan reformasi akhlak. Sebuah reformasi dimana nilai-nilai luhur bangsa yang termaktub dalam pancasila menjadi dasar beretika bangsa, etika yang dimaksud tidak hanya dalam berperilaku dalam lingkungan masyarakat, tapi lebih dari itu etika yang dimaksud juga dalam lungkungan politik. Hal ini merupakan bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang bermoral di bumi pertiwi ini.
Semua itu mengingatkan saya kepada sebuah sabda Nabi Saw yang mengatakan bahwa “aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak”. sebuah misi kenabian seorang hamba Allah yang bernama Muhammad, yang dilahirkan ditengah-tengah kerasnya krisis moral yang terjadi pada saat itu dikalangan bangsa Arab menjadikan Rasul Allah ini tetap tegar dan dengan kesabarannya beliau berhasil membawa umat manusia hijrah dari kegelapan moral menuju peradaban yang diridhai Allah Swt. hal itu menunjukkan betapa pentingnya akhlak bagi perkembangan peradaban manusia.
Oleh sebab itu, kirannya adanya reformasi akhlak bagi bangsa ini perlu segera dilakukan untuk mengatasi degradasi moral yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa ini, tentunya hal tersebut tidak hanya dapat dilakukan melalui pendidikan dengan kurikulum 2013-nya saja, dan tidak pula dapat dicapai hanya dengan pengawalan transformasi sosial saja, tapi lebih dari itu keduannya harus saling bersinergi antara penanaman nilai-nilai dalam pendidikan dengan proses pengawalan transformasi sosial dalam lingkungan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

partisipasi pemikiran anda kami tunggu