Rabu, 30 Agustus 2017

Pandangan Hamka dan Syed Muhammad Naquib Al Attas tentang Pendidikan



Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia, karena dengan mendapatkan pendidikan manusia dapat mengoptimalkan segala potensinya baik potensi yang berupa lahiriyah maupun yang berupa batiniyahnya. Berbagai macam potensi tersebut ketika dikembangkan dengan baik akan mengantarkan manusia pada kesejahteraan yang sejati, yaitu tercapainya puncak dari hasrat kebahagiaan manusia, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Urgensi pendidikan dalam kehidupan manusia, menjadikan pendidikan sendiri sebagai titik sentral dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, sehingga dalam hal ini ada berbagai macam tokoh pemikir pendidikan dari berbagai macam golongan yang sangat serius dalam menyikapi problem-problem pendidikan yang terjadi dalam sosio-cultural masyarakat mereka, sehingga pada akhirnya mereka menciptakan sebuah konsep pendidikan yang merekanilai sebagai konsep pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai idealitas insan kamil, tentunya itu semua tidak terlepas dari kondisi sosio-cultural masyarakat mereka. Sehingga dalam pendidikan sendiri ada berbagai macam konsep pendidikan yang disesuaikan dengan sosio-kultural yang berkembang di lingkungan masing-masing tokoh pendidikan tersebut.
Salah satu tokoh pendidikan yang eksis hingga saat ini adalah Hamka dan Syed Muhammad Naquib Al Attas. Hamka sendiri dalam pemikirannya membedakan istilah pendidikan dengan pengajaran yang mana dalam segi kebahasaan keduanya berbeda. Sedangkan Syed Muhammad Naquib al Attas sendiri merupakan tokoh pemikir kelahiran Indonesia yang hijrah ke Malaysia dan menjadi orang pertama yang melakukan Islamisasi Science dan menjadi tokoh pemikir yang disegani di dunia internasional.  Pemikirannya tentang pendidikan tidak jauh berbeda dengan Hamka yang membedakan istilah pendidikan dengan pengajaran, hanya saja dalam pemikirannya, al Attas juga melihat pendidikan dari sudut politik pendidikan yang saat ini mengandung unsur sekulerisme. Hal itu dapat dilihat dari adanya sekulerisasi antara science dengan agama pada saat ini.
Kalau kita cermati bersama, corak pemikiran antara hamka dan al attas seakan saling mendukung antara satu sama lain, hal itu karena corak pemikiran hamka yang cenderung sufis dihubungkan dengan corak pemikiran al attas yang cenderung filosofis. Dan adanya pertemuan antara kedua pemikiran ini melahirkan sebuah konsep yang bercorak tasawwuf falsafi. Sehingga ketika sebuah konsep yang bercorak tasawwuf falsafi itu diterapkan dalam kehidupan masyarakat, maka akan melahirkan tatanan masyarakat yang berkualitas dan diridhoi Allah Swt

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

partisipasi pemikiran anda kami tunggu