Apa
yang dapat membuat manusia dikatan sebagai manusia yang sebenarnya? Apakah
ketika mereka hidup dan tumbuh layaknya sebuah pohon yang hidup dan tumbuh?
Apakah ketika mereka makan dan kawin layaknya seekor binatang yang selalu
melakukan hal demikian?. Kira-kira beberapa pertanyaan itu merupakan sebuah
pertanyaan yang sangat mudah untuk kita jawab, tapi sangat sulit atau bahkan
tidak pernah kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kajian
tentang kemanusiaan merupakan sebuah kajian yang sering kita dengar di
masjid-masjid, kampus-kampus, bahkan di sekolah-sekolah, tapi yang sering kita
dengar hanyalah sebuah kajian yang hanya mengantarkan kita pada kebingungan
yang berkelanjutan karena dalam kajian tersebut hanya membahas hal-hal yang
bersifat teoritis dan dogmatis. Kajian-kajian tentang kemanusiaan tersebut
seolah-olah hanya sebatas formalitas yang tidak memiliki tujuan, sebuah kajian
yang tidak menemukan titik temu antara fakta dengan keharusan yang semestinya
terjadi di lingkungan masyarakat.
Ada
sebagian orang yang mengatakan bahwa “bagaimana kita akan mengkaji sebuah hal
yang bersifat praktik, jika kita tidak mengetahui hal-hal yang bersifat
teoritis?”, sering sekali saya dengar orang-orang mengatakan demikian, bahkan
sangat sering sekali seolah-olah mengajak kita untuk tidur nyenyak berjama’ah
dengan pembahasan tentang kemanusiaan yang tidak menemukan titik temu dalam
realitas sosial.
Memang
tidak dapat salahkan ketika ada sebagian orang yang melontarkan statment
seperti yang disebutkan diatas, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita tidak
akan dapat membawa perubahan sosial atau yang sering kita sebut dengan
transformasi sosial jika kita tidak matang secara keilmuan. Tapi ketika kita
hanya fokus pada hal-hal yang bersifat teoritis dan terjebak dalam dunia angan
yang tujuannya hanya untuk kepuasan intelektual kita saja, maka ilmu yang kita
miliki bisa dikatakan dengan ilmu yang tidak bermanfaat.
Hal
demikian kiranya sering terjadi di era Globalisasi ini, khususnya di Indonesia.
Banyak sekali orang-orang yang mengatasnamaka kaum intelektual terjebak dalam
dunia angannya sendiri, mereka selalu mengkaji hal-hal yang bersifat teoritis
tanpa berupaya melakukan perubahan sosial yang notabene saat ini sedang terjadi
gejolak sosial. Gejolak sosial tersebut tidak hanya terjadi karena adanya
kesenjangan ekonomi dalam masyarakat, tapi juga disebabkan oleh adanya ketidak
adilan dalam hal kemanusiaan.
Akhir-akhir
ini dunia Internasional dikejutkan dengan adanya krisis kemanusiaan yang
menimpa kaum minoritas Rohingya di Miyanmar, krisis kemanusiaan tersebut
setidaknya telah mengorbankan lebih dari 300 orang perminggu. Banyak sekali
pihak-pihak internasional yang mengecam hal tersebut, tapi apa gunanya sebuah
kecaman jika tidak dibuktikan dengan tindakan nyata. Krisis kemanusiaan
tersebut tidak hanya karena adanya gerakan anti islam yang dikomandani oleh Laknatullah
Wiratu, tapi juga karena adanya krisis keadilan di negara tersebut. Pernah saya
baca dalam sebuah buku yang ditulis oleh saudara Said Muniruddi yang berjudul “Bintang
Arsy” bahwa salah satu aspek yang melatar belakangi terciptanya peradaban yang
maju adalah keadilan, Karena kadilan merupakan nilai universal yang menjadi
penentu kesejahteraan dan kemajuan suatu bangsa.
Salah
seorang sahabat Nabi Saw yang bernama Ali bin Abi Thalib pun pernah mengatakan
bahwa: “Pemimpin yang adil meskipun kafir, lebih baik dari pada pemimpin
yang beragama islam tapi dhalim”, hal tersebut menunjukkan begitu
universalnya keadilan bagi manusia, karena keadilan merupakan bagian dari
fitrah manusia. Manusia bisa dikatakan telah menjadi manusia yang sebenarnya
ketika mereka mengoptimalkan fitrahnya, sebaliknya manusia belum bisa dikatakan
sebagai manusia ketika dia keluar dari fitrah yang telah digariskan oleh Allah
Swt. Hal tersebut juga berlaku dalam upaya membentuk peradaban yang maju,
ketika sebuah bangsa terbawa oleh arus nafsu syaitoniyahnya yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai fitrahnya, maka bangsa tersebut tidak akan pernah mencapat
kesejahteraannya, dan sebaliknya ketika suatu bangsamenjunjung tinggi
nilai-nilai fitrahnya maka mereka akan dengan mudah mencapai kesejahteraan yang
diimpikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
partisipasi pemikiran anda kami tunggu