Selasa, 05 September 2017

KEMANUSIAAN DAN KEADILAN



Apa yang dapat membuat manusia dikatan sebagai manusia yang sebenarnya? Apakah ketika mereka hidup dan tumbuh layaknya sebuah pohon yang hidup dan tumbuh? Apakah ketika mereka makan dan kawin layaknya seekor binatang yang selalu melakukan hal demikian?. Kira-kira beberapa pertanyaan itu merupakan sebuah pertanyaan yang sangat mudah untuk kita jawab, tapi sangat sulit atau bahkan tidak pernah kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian tentang kemanusiaan merupakan sebuah kajian yang sering kita dengar di masjid-masjid, kampus-kampus, bahkan di sekolah-sekolah, tapi yang sering kita dengar hanyalah sebuah kajian yang hanya mengantarkan kita pada kebingungan yang berkelanjutan karena dalam kajian tersebut hanya membahas hal-hal yang bersifat teoritis dan dogmatis. Kajian-kajian tentang kemanusiaan tersebut seolah-olah hanya sebatas formalitas yang tidak memiliki tujuan, sebuah kajian yang tidak menemukan titik temu antara fakta dengan keharusan yang semestinya terjadi di lingkungan masyarakat.

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa “bagaimana kita akan mengkaji sebuah hal yang bersifat praktik, jika kita tidak mengetahui hal-hal yang bersifat teoritis?”, sering sekali saya dengar orang-orang mengatakan demikian, bahkan sangat sering sekali seolah-olah mengajak kita untuk tidur nyenyak berjama’ah dengan pembahasan tentang kemanusiaan yang tidak menemukan titik temu dalam realitas sosial.  
Memang tidak dapat salahkan ketika ada sebagian orang yang melontarkan statment seperti yang disebutkan diatas, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita tidak akan dapat membawa perubahan sosial atau yang sering kita sebut dengan transformasi sosial jika kita tidak matang secara keilmuan. Tapi ketika kita hanya fokus pada hal-hal yang bersifat teoritis dan terjebak dalam dunia angan yang tujuannya hanya untuk kepuasan intelektual kita saja, maka ilmu yang kita miliki bisa dikatakan dengan ilmu yang tidak bermanfaat.

Hal demikian kiranya sering terjadi di era Globalisasi ini, khususnya di Indonesia. Banyak sekali orang-orang yang mengatasnamaka kaum intelektual terjebak dalam dunia angannya sendiri, mereka selalu mengkaji hal-hal yang bersifat teoritis tanpa berupaya melakukan perubahan sosial yang notabene saat ini sedang terjadi gejolak sosial. Gejolak sosial tersebut tidak hanya terjadi karena adanya kesenjangan ekonomi dalam masyarakat, tapi juga disebabkan oleh adanya ketidak adilan dalam hal kemanusiaan.

Akhir-akhir ini dunia Internasional dikejutkan dengan adanya krisis kemanusiaan yang menimpa kaum minoritas Rohingya di Miyanmar, krisis kemanusiaan tersebut setidaknya telah mengorbankan lebih dari 300 orang perminggu. Banyak sekali pihak-pihak internasional yang mengecam hal tersebut, tapi apa gunanya sebuah kecaman jika tidak dibuktikan dengan tindakan nyata. Krisis kemanusiaan tersebut tidak hanya karena adanya gerakan anti islam yang dikomandani oleh Laknatullah Wiratu, tapi juga karena adanya krisis keadilan di negara tersebut. Pernah saya baca dalam sebuah buku yang ditulis oleh saudara Said Muniruddi yang berjudul “Bintang Arsy” bahwa salah satu aspek yang melatar belakangi terciptanya peradaban yang maju adalah keadilan, Karena kadilan merupakan nilai universal yang menjadi penentu kesejahteraan dan kemajuan suatu bangsa.

Salah seorang sahabat Nabi Saw yang bernama Ali bin Abi Thalib pun pernah mengatakan bahwa: “Pemimpin yang adil meskipun kafir, lebih baik dari pada pemimpin yang beragama islam tapi dhalim”, hal tersebut menunjukkan begitu universalnya keadilan bagi manusia, karena keadilan merupakan bagian dari fitrah manusia. Manusia bisa dikatakan telah menjadi manusia yang sebenarnya ketika mereka mengoptimalkan fitrahnya, sebaliknya manusia belum bisa dikatakan sebagai manusia ketika dia keluar dari fitrah yang telah digariskan oleh Allah Swt. Hal tersebut juga berlaku dalam upaya membentuk peradaban yang maju, ketika sebuah bangsa terbawa oleh arus nafsu syaitoniyahnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai fitrahnya, maka bangsa tersebut tidak akan pernah mencapat kesejahteraannya, dan sebaliknya ketika suatu bangsamenjunjung tinggi nilai-nilai fitrahnya maka mereka akan dengan mudah mencapai kesejahteraan yang diimpikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

partisipasi pemikiran anda kami tunggu