Minggu, 27 Agustus 2017

KETIDAK ADILAN GENDER

Persoalan gender saat ini telah mencapai puncak pembahasannya, karena dalam beberapa dekade ini persoalan gender telah menjadi bahan kajian yang cukup serius, baik dikalangan mahasiswa, santri, maupun masyarakat. Adanya berbagai macam kajian tersebut telah melahirkan tema-tema baru seputar permasalahan gender, mulai dari pengklasifikasian gender sampai pada analisis ketidak adilan gender dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam tulisan ini kita akan mengkaji seputar tentang ketidak adilan gender. jika kita ingin mengupas dan mengkaji ketidak adilan gender, maka kita tidak boleh melupakan perbedaan antara gender dengan sex. perbedaan antara gender dan sex, dalam hal ini dapat kita jadikan sebagai sebuah pintu masuk bagi kita untuk menulusuri seputar gender dan sex, karena ketika kita tidak memahami perbedaan antara gender dan sex, maka hasil kajian kita tentang ketidak adilan gender akan bias.
Gender merupakan suatu sifat yang melekat pada seorang Laki-laki dan Perempuan yang dikonstruksi secara sosial atau secara kultural. Contohnya seperti pandangan masyarakat tentang perempuan yang harus mengurus segala urusan rumah tangga dan mengurus anak, itu adalah sebuah konstruk yang terbangun melalui sosial. Sedangkan sex merupakan sebuah perbedaan antara Laki-laki dan Perempuan dilihat dari unsur biologis yang telah menjadi kodrat manusia tersebut, dan itu tidak dapat diubah, dimanapun dan kapanpun. Contohnya bagi seorang laki-laki, mereka memiliki Penis, sedangkan perempuan memiliki sebuah vagina. Dari sini kita dapat membedakan antara gender dengan sex, bahwa sex merupakan perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari unsur biologisnya, sedangkan gender merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari strata sosialnya.
Adanya perbedaan gender seakan telah melahirkan apa yang sering kita sebut dengan ketidak adilan gender, yang dimaksud denga. ketidak adilan gender ini adalah adanya pemetakan atau pengkelas-kelasan antara laki-laki dan perempuan dalan sosial, hal ini tidak hanya ditemui di daerah perkotaan, tapi untuk kalangan pedesaan itu sudah menjadi hal yang lumrah, di daerah pedesaan seorang perempuan mengerjakan sebuah pekerjaan dominan yang merangkul semua pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, menyapu, mengepel, dan bahkan mendidikan anak, sedangkan seorang suami pergi pagi pulang sore untuk mencari nafkah. Adanya pemetakan seperti ini dalam masyarakat, khususnya di daerah pedesaan seakan konstruk berfikir mereka telah dipengaruhi oleh corak berfikir Karl Max yang melalui analisis kelasnya telah melahirkan Kapitalisme.
Pada era Globalisasi ini, problem seperti ini sudah saatnya untuk dihapuskan dalam pandangan masyarakat, baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan, itu semua bisa kita capai dengan mengubah konstruk berfikir masyarakat tentang kesetaraan gender, dan itu semua tidak akan terlepas dari adanya proses sosialisasi dan pendidikan bagi masyarakat, baik itu merupakan pendidikan formal, in formal, maupun non formal, karena ketiganya mencakup Tri pusat pendidikan yang menjadi landasan konsep pendidikan kemasyarakatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

partisipasi pemikiran anda kami tunggu