Rabu, 30 Agustus 2017

BAPER ISLAMI



Manusia merupakah makhluk ciptaan tuhan yang sempurna, karena manusia tidak hanya tersusun dari unsur fisik saja, tapi lebih dari itu dalam diri manusia juga terdapat unsur metafisik yang didalamnya meliputi roh, akal, bahkan nafsu. Sehingga tidak heran ketika salah seorang anak cucu adam merasa tersinggung dengan ucapan atau tindakan orang disekelilingnya, tubuh mereka secara otomatis akan merespon, dan respon tersebut bervariasi, ada yang mengekspresikannya dengan hanya diam, menangis, dan bahkan ada yang tertawa. Dari sini kita dapat melihat adanya keterikatan antara unsur fisik manusia dengan unsur metafisik manusia.
Kompleksitas dalam diri manusia, yang dibuktikan dengan adanya unsur fisik dan metafisik dalam diri manusia terkadang  diekspresikan secara berlebihan, tidak jarang ketika salah seorang anak cucu adam dihadapkan pada kondisi tertekan dalam suatu musibah mereka sering menangis sekeres-kerasnnya dan bahkan tidak jarang ditemukan sebuah kasus adanya anak cucuk adam yang gila atau bahkan bunuh diri karena begitu banyaknya permasalahan yang mereka hadapi. Dalam kasus yang berbeda ada juga anak cucu adam ketika dihadapkan pada sebuah kenikmatan yang tidak disangka-sangka, ekspresi yang mereka tampakkan cenderung berlebihan, sampai-sampai masuk dalam kategori ‘ujub atau sombong.
Di era globalisasi ini, berlebihan dalam mengekspresikan perasaan disebut dengan istilah “Baper” lengkapnya adalah “bawa perasaan”. Istilah Baper sendiri umumnya lebih sering disampaikan oleh kaula muda kepada orang yang mudah tersinggung dan mudah terbawa perasaan. Istilah ini juga muncul dari semakin ramainya pergaulan di kalangan pemuda. Namun seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, penggunaaan istilah baper seakan tidak menemui titik keadilan, kenapa demikian? Karena dengan kosa kata yang demikian luas, hanya digunakan untuk pengekspresian perasaan negatif,  tidak menyentuh perasaan-perasaan yang lain seperti senang, tertawa, dan empati. seakan tidak ada unsur berlebihan dalam ekspresi-ekspresi yang sifatnya positif seperti senang, tertawa, dan empati.
Dalam islam sendiri berlebihan dalam mengekspresikan perasaan tidak diperbolehkan, walaupun perasaan itu negatif ataupun positif. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dijelaskan:
احبب حبيبك هوناما, عسي ان يكون بغيضك يوماما, و ابغض بغيضك هوناما, عسي ان يكون حبيبك يوم ما
Artinya:
“Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu disuatu hari nanti dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu pada suatu hari dia akan menjadi kecintaanmu” (HR. Turmudzi).
Dari Hadits tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kecintaan dan kebencian yang berlebihan atau dalam konteks ini disebut dengan istilah baper, tidak diperbolehkan dalam Islam.
Lantas, adakah baper yang diperbolehkan dalam islam? Seyogyanya baper atau berlebihan dalam berperasaan tidak diperbolehkan dalam Islam terlepas itu perasaan positif maupun perasaan negatif. Tapi ada satu pengecualian baper yang diperbolehkan dalam Islam, yaitu terlalu mencintai Allah dan Rasul-Nya. Menurut Haidar Baqir, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan puncak dari segala cinta manusia di muka bumi, sehingga ketika seorang manusia telah berada dipuncak kecintaan tersebut dia akan mencapai derajat Ma’rifatullah.
Dengan demikian segala beper atau berlebihan dalam berperasaan dalam konteks kemanusia tidak diperbolehkan dalam Islam karena pada hakikatnya manusia memiliki keterikatan dan keterbutuhan antara manusia yang satu dengan yang lain, beda halnya dengan berlebih-lebihan dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya yang merupakan Frame Center dari seluru makhluk di Dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

partisipasi pemikiran anda kami tunggu