Manusia merupakah makhluk ciptaan tuhan yang sempurna, karena
manusia tidak hanya tersusun dari unsur fisik saja, tapi lebih dari itu dalam
diri manusia juga terdapat unsur metafisik yang didalamnya meliputi roh, akal,
bahkan nafsu. Sehingga tidak heran ketika salah seorang anak cucu adam merasa
tersinggung dengan ucapan atau tindakan orang disekelilingnya, tubuh mereka secara
otomatis akan merespon, dan respon tersebut bervariasi, ada yang mengekspresikannya
dengan hanya diam, menangis, dan bahkan ada yang tertawa. Dari sini kita dapat
melihat adanya keterikatan antara unsur fisik manusia dengan unsur metafisik
manusia.
Kompleksitas dalam diri manusia, yang dibuktikan dengan adanya
unsur fisik dan metafisik dalam diri manusia terkadang diekspresikan secara berlebihan, tidak jarang
ketika salah seorang anak cucu adam dihadapkan pada kondisi tertekan dalam
suatu musibah mereka sering menangis sekeres-kerasnnya dan bahkan tidak jarang
ditemukan sebuah kasus adanya anak cucuk adam yang gila atau bahkan bunuh diri
karena begitu banyaknya permasalahan yang mereka hadapi. Dalam kasus yang
berbeda ada juga anak cucu adam ketika dihadapkan pada sebuah kenikmatan yang
tidak disangka-sangka, ekspresi yang mereka tampakkan cenderung berlebihan,
sampai-sampai masuk dalam kategori ‘ujub atau sombong.
Di era globalisasi ini, berlebihan dalam mengekspresikan perasaan
disebut dengan istilah “Baper” lengkapnya adalah “bawa perasaan”. Istilah Baper
sendiri umumnya lebih sering disampaikan oleh kaula muda kepada orang yang
mudah tersinggung dan mudah terbawa perasaan. Istilah ini juga muncul dari
semakin ramainya pergaulan di kalangan pemuda. Namun seiring dengan
perkembangan zaman yang semakin maju, penggunaaan istilah baper seakan tidak
menemui titik keadilan, kenapa demikian? Karena dengan kosa kata yang demikian
luas, hanya digunakan untuk pengekspresian perasaan negatif, tidak menyentuh perasaan-perasaan yang lain
seperti senang, tertawa, dan empati. seakan tidak ada unsur berlebihan dalam
ekspresi-ekspresi yang sifatnya positif seperti senang, tertawa, dan empati.
Dalam islam sendiri berlebihan dalam mengekspresikan perasaan tidak
diperbolehkan, walaupun perasaan itu negatif ataupun positif. Dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dijelaskan:
احبب حبيبك هوناما, عسي ان يكون بغيضك يوماما, و ابغض بغيضك هوناما,
عسي ان يكون حبيبك يوم ما
Artinya:
“Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu
disuatu hari nanti dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kau benci
(secara) biasa-biasa saja, siapa tahu pada suatu hari dia akan menjadi
kecintaanmu” (HR. Turmudzi).
Dari Hadits tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa
kecintaan dan kebencian yang berlebihan atau dalam konteks ini disebut dengan
istilah baper, tidak diperbolehkan dalam Islam.
Lantas, adakah baper yang diperbolehkan dalam islam? Seyogyanya baper
atau berlebihan dalam berperasaan tidak diperbolehkan dalam Islam terlepas itu
perasaan positif maupun perasaan negatif. Tapi ada satu pengecualian baper yang
diperbolehkan dalam Islam, yaitu terlalu mencintai Allah dan Rasul-Nya. Menurut
Haidar Baqir, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan puncak dari segala
cinta manusia di muka bumi, sehingga ketika seorang manusia telah berada
dipuncak kecintaan tersebut dia akan mencapai derajat Ma’rifatullah.
Dengan demikian segala beper atau berlebihan dalam berperasaan
dalam konteks kemanusia tidak diperbolehkan dalam Islam karena pada hakikatnya
manusia memiliki keterikatan dan keterbutuhan antara manusia yang satu dengan
yang lain, beda halnya dengan berlebih-lebihan dalam mencintai Allah dan Rasul-Nya
yang merupakan Frame Center dari seluru makhluk di Dunia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
partisipasi pemikiran anda kami tunggu