Kamis, 07 September 2017

POLITIK DALAM KESENJANGAN SOSIAL



Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di Dunia. Kawasannya yang dikelilingi gunung-gunung merapi menjadikan Indonesia memiliki lahan-lahan subur yang cocok ditanami berbagai macam tumbuhan. Tidak hanya itu, Indonesia juga dikarunai berbagai macam budaya dari penduduknya yang berasal dari berbagai suku, ras, dan agama. Itu semua menjadikan Indonesia sebagai tempatnya surga dunia yang diidam-idamkan semua bangsa di Dunia.
Dengan Kompleksitas kekayaan alam Indonesia yang tidak terhitung tersebut tidak heran jika bangsa Indonesia menjadi bangsa yang makmur dan menjadi bangsa terkaya di Dunia. Tapi ketika berbicara idealitas suatu bangsa yang memiliki kekayaan alam yang sangat berlimpah seperti Indonesia, maka kita akan dihadapkan pada kondisi dimana bangsa lain akan berupaya mengekploitasi kekayaan alam Indonesia demi kekayaan negaranya sendiri.
Tidak jarang negara-negara yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah seperti Indonesia mamiliki masyarakat yang terbelakang dan memiliki utang luar negeri yang begitu besar, hal tersebut karena ketidak mampuan bangsa Indonesia dalam menghadapi dinamika dalam dan luar negerinya, sehingga berbagai kesenjangan terjadi di Indonesia, mulai dari kesenjangan ekonomi, pendidikan, bahkan hukum sekalipun. Tidak jarang keadilan digadaikan demi memenuhi hawa nafsu segelintir kelompok masyarakat, sehingga berdampak pada perilaku anarkis dari beberapa golongan yang telah diambil hak mendapat keadilannya.
Kesenjangan-kesenjangan dikalangan masyarakat terus terjadi hingga saat ini. Kesenjangan-kesenjangan tersebut yang pada awalnya mendapat respon keras dari beberapa golongan, saat ini seakan telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia, kenapa tidak? Ketika di daerah pedesaan yang notabene memerluka peran pemerintah dalam membangun infratruktur dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas seakan sekarang telah dipolitisasi. Artinya tidak jarang proyek pembangunan infrastruktur dan masyarakat dijadikan sebuah lahan oleh kebanyakan orang untuk mendapatkan keuntungan, sehingga Mindset yang terbangun dikalangan masyarakat adalah proyek sebagai penghasilan, bukan pembangunan.
Kesenjangan-kesenjangan yang terjadi di masyarakat seharusnya tidak terjadi dinegara yang menganut ekonomi kerakyatan ini, sebuah model perekonomian yang menepis segala macam kapitalisme yang berusaha menggerogoti bangsa ini. Tapi sayangnya di Indonesia sendiri terjadi kesenjangan antara realita yang terjadi dengan keharusan yang semestinya terjadi di negeri tercinta ini.  Kesenjangan yang dimaksud adalah adanya ketidak sesuaian antara sistem ekonomi kerakyatan yang didengung-dengungkan dengan sistem ekonomi kapital yang dilaksanakan.

Demokrasi
Kesenjangan-kesenjangan yang terjadi tentunya tidak akan lepas dari adanya peran politisi di negeri ini. Indonesia yang yang menganut sistem demokrasi menjadikan Indonesia sebagai negara yang dinamis, hal tersebut karena kentalnya dinamika politik di negeri ini. Dinamika politik tersebut tidak hanya terjadi dikalangan para politisi partai politik, tapi lebih luas lagi hal tersebut juga terjadi dikalangan para pengusaha. Peran pengusaha dalam dunia politik di tanah air sangat kuat, kenapa demikian? Karena dalam setiap kontestasi politik di tanah air pasti memerlukan kos politik, dan para pengusa Inklud didalamnya dengan menawarkan bantuan dana, tentunya itu semua tidak gratis.
Kontrak politik antara para pengusaha dengan para politisi bisa berupa kebijakan yang berpihak kepada para pengusaha atau bisa juga berupa lahan pertambangan. Contohnya ketika ada salah seorang politisi yang didukung oleh salah seorang pengusaha menang dalam kontestasi politik, maka tidak sedikit kebijakan yang dia tetapkan menguntungkan pada pengusaha tersebut, dan hal ini biasa kita sebut dengan Cartle Oligarki.
Tidak hanya karena adanya kontrak politik antara Parpol dengan para pengusaha, tapi lebih dari itu juga karena minimnya kesadaran masyarakat kita dalam berpolitik, sehingga tidak jarang masyarakat kita terjebak dalam Mindset Money Politic yang hanya menawarkan kesejahteraan sementara. Menyebarnya Mindset Money Politic dalam masyarakat juga didukung oleh kurangnya kesadaran masyarakat dalam berpolitik, dan hal demikian telah mencoreng idealitas konsep demokrasi di negeri ini.
Dari adanya problematika yang bersifat kompleks seputar demokrasi di negeri ini, Dedi Mulyadi berusaha mengklasifikasikan demokrasi menjadi tiga sesuai dengan tingkat kesadaran masyarakat Indonesia. Pertama, demokrasi langsung, dalam demokrasi ini diisi oleh masyarakat yang benar-benar sadar akan pentingnya politik bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini. Kedua, demokrasi tunjukan, dalam tipe yang kedua ini diterapkan bagi masyarakat yang kurang sadar akan pentingnya politik dalam menyejahterakan bangsa. Ketiga, demokrasi perwakilan yang diterapkan bagi masyarakat yang tidak sadar akan pentingnya politik dalam menyejahterakan bangsa.
Dari ketiga macam demokrasi tersebut, saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada kondisi dimana masyarakatnya kurang faham terhadap pentingnya politik dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera, dan demokrasi langsung yang diterapkan, Hal tersebut seolah menjadi dilema bagi bangsa Indonesia. Pantaslah jika praktik Money Politic menjamur dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia saat ini.

Politisasi pendidikan
Jika kita berbicara tentang menjamurnya Mindset Money Politic dalam masyarakat, maka tidak akan lepas dari adanya peran pendidikan didalamnya. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam upaya mengoptimalkan potensi dasar manusia yang berupa Intelektual Quetion, Emosional Question, dan Spiritual Question. Tapi seiring carut marutnya kontestasi perpolitikan di Indonesia dan menyebarkan paradigma Money Politic dikalangan masyarakat Indonesia menyebabkan usahan pendidikan di negeri ini seakan tidak membuahkan hasil. Pendidikan yang menjadi harapan satu-satunya dalam memperbaiki moral bangsa tidak lepas dari jamahan Money Politic.
Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya para pendidik yang tidak mendidik, maksudnya adalah tidak sedikit para pendidik yang telah mengalami perubahan orientasi dalam mengajar. Sehingga yang terjadi adalah berbondong-bondongnya para pendidik dalam mengejar pangkat dan tunjangan yang tujuannya hanya untuk kepuasan pribadi dan keluarganya, padahal pendidikan merupakan asal-muasal para politisi di negeri ini. Jika pendidikan di negeri ini baik, maka akan baik pula SDM yang dikeluarkan. Ada sebuah hadits yang mengatakan:
العلم امام العمل, والعمل تابعه
“Ilmu adalah imamnya amal, dan amal mengikuti ilmu”
Hadits tersebut menunjukkan begitu pentingnya pendidikan dalam menciptakan manusia-manusia yang berilmu dalam bermoral tinggi. Karena dengan adanya manusia yang berilmu dan bermoral tinggi, maka Money Politic tidak akan mudah masuk kedalam konstruk berfikir masyarakat Indonesia.

Penutup
Kesenjangan sosial masyarakat Indonesia yang merupakan kesenjangan ekonomi pada dasarnya terjadi karena ketidak mampuan sistem perpolitikan bangsa Indonesia dalam menghadapi dinamika di dalam dan luar negeri yang notabene ada karena adanya upaya eksploitasi bangsa asing untuk menguas kekayaan alam Indonesia, eksploitasi yang dilakukan tersebut tidak dilakukan secara sederhana, tapi dilakukan secara kompleks, mulai dari eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Sehingga berdampak pada adanya ketidak sucian penerapan demokrasi di negeri ini, dan hal tersebut diperparah dengan adanya politisasi pendidikan di negeri ini.
Oleh sebab itu, adanya tindakan tegas dari komponen pemerintah sangat diperlukan dalam membendung problematika sosial yang bersifat multidimensi tersebut, tindakan tegas yang dimaksud adalah sebuah keberanian dalam bertindak tanpa adanya tendensi dari pihak lain. disamping itu juga perlu adanya pembenahan dalam kebijakan pendidikan, karena melalui pendidikan para politisi lahir, dan melalui politik birokrasi kebijakan pendidikan dapat ditetapkan.

Selasa, 05 September 2017

KEMANUSIAAN DAN KEADILAN



Apa yang dapat membuat manusia dikatan sebagai manusia yang sebenarnya? Apakah ketika mereka hidup dan tumbuh layaknya sebuah pohon yang hidup dan tumbuh? Apakah ketika mereka makan dan kawin layaknya seekor binatang yang selalu melakukan hal demikian?. Kira-kira beberapa pertanyaan itu merupakan sebuah pertanyaan yang sangat mudah untuk kita jawab, tapi sangat sulit atau bahkan tidak pernah kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian tentang kemanusiaan merupakan sebuah kajian yang sering kita dengar di masjid-masjid, kampus-kampus, bahkan di sekolah-sekolah, tapi yang sering kita dengar hanyalah sebuah kajian yang hanya mengantarkan kita pada kebingungan yang berkelanjutan karena dalam kajian tersebut hanya membahas hal-hal yang bersifat teoritis dan dogmatis. Kajian-kajian tentang kemanusiaan tersebut seolah-olah hanya sebatas formalitas yang tidak memiliki tujuan, sebuah kajian yang tidak menemukan titik temu antara fakta dengan keharusan yang semestinya terjadi di lingkungan masyarakat.

Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa “bagaimana kita akan mengkaji sebuah hal yang bersifat praktik, jika kita tidak mengetahui hal-hal yang bersifat teoritis?”, sering sekali saya dengar orang-orang mengatakan demikian, bahkan sangat sering sekali seolah-olah mengajak kita untuk tidur nyenyak berjama’ah dengan pembahasan tentang kemanusiaan yang tidak menemukan titik temu dalam realitas sosial.  
Memang tidak dapat salahkan ketika ada sebagian orang yang melontarkan statment seperti yang disebutkan diatas, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita tidak akan dapat membawa perubahan sosial atau yang sering kita sebut dengan transformasi sosial jika kita tidak matang secara keilmuan. Tapi ketika kita hanya fokus pada hal-hal yang bersifat teoritis dan terjebak dalam dunia angan yang tujuannya hanya untuk kepuasan intelektual kita saja, maka ilmu yang kita miliki bisa dikatakan dengan ilmu yang tidak bermanfaat.

Hal demikian kiranya sering terjadi di era Globalisasi ini, khususnya di Indonesia. Banyak sekali orang-orang yang mengatasnamaka kaum intelektual terjebak dalam dunia angannya sendiri, mereka selalu mengkaji hal-hal yang bersifat teoritis tanpa berupaya melakukan perubahan sosial yang notabene saat ini sedang terjadi gejolak sosial. Gejolak sosial tersebut tidak hanya terjadi karena adanya kesenjangan ekonomi dalam masyarakat, tapi juga disebabkan oleh adanya ketidak adilan dalam hal kemanusiaan.

Akhir-akhir ini dunia Internasional dikejutkan dengan adanya krisis kemanusiaan yang menimpa kaum minoritas Rohingya di Miyanmar, krisis kemanusiaan tersebut setidaknya telah mengorbankan lebih dari 300 orang perminggu. Banyak sekali pihak-pihak internasional yang mengecam hal tersebut, tapi apa gunanya sebuah kecaman jika tidak dibuktikan dengan tindakan nyata. Krisis kemanusiaan tersebut tidak hanya karena adanya gerakan anti islam yang dikomandani oleh Laknatullah Wiratu, tapi juga karena adanya krisis keadilan di negara tersebut. Pernah saya baca dalam sebuah buku yang ditulis oleh saudara Said Muniruddi yang berjudul “Bintang Arsy” bahwa salah satu aspek yang melatar belakangi terciptanya peradaban yang maju adalah keadilan, Karena kadilan merupakan nilai universal yang menjadi penentu kesejahteraan dan kemajuan suatu bangsa.

Salah seorang sahabat Nabi Saw yang bernama Ali bin Abi Thalib pun pernah mengatakan bahwa: “Pemimpin yang adil meskipun kafir, lebih baik dari pada pemimpin yang beragama islam tapi dhalim”, hal tersebut menunjukkan begitu universalnya keadilan bagi manusia, karena keadilan merupakan bagian dari fitrah manusia. Manusia bisa dikatakan telah menjadi manusia yang sebenarnya ketika mereka mengoptimalkan fitrahnya, sebaliknya manusia belum bisa dikatakan sebagai manusia ketika dia keluar dari fitrah yang telah digariskan oleh Allah Swt. Hal tersebut juga berlaku dalam upaya membentuk peradaban yang maju, ketika sebuah bangsa terbawa oleh arus nafsu syaitoniyahnya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai fitrahnya, maka bangsa tersebut tidak akan pernah mencapat kesejahteraannya, dan sebaliknya ketika suatu bangsamenjunjung tinggi nilai-nilai fitrahnya maka mereka akan dengan mudah mencapai kesejahteraan yang diimpikan.

Minggu, 03 September 2017

IDUL ADHA DAN KEMEROSOTAN MORAL





Idul Adha telah tiba, berbagai macam tradisi tentang Idul Adha terlihat menghiasi ramainya Idul Adha tahun ini. Tradisi-tradisi yang berkembang seiring berjalannya perjalanan sejarah peradaban manusia lahir dari adanya interaksi antar masyarakat setempat, juga beberapa yang lain lahir dari interaksi antara masyarakat setempat dengan masyarakat dari daerah lain, hal ini biasa kita sebut dengan akulturasi budaya. Tradisi-tradisi yang berkembang tersebut seakan telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sampang.
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya saat sedang berlangsungnya uforia Idul Adha, saya dikagetkan dengan sebuah pemandangan yang tidak biasa, sebuah kejadian yang menurut saya diluar dari kebiasaan masyarakat Sampang yang terkenal dengan kesantunannya. Yaitu arakan-arakan yang berlebihan dengan diiringi musik remix di atas mobil lengkap dengan para penarinya di atas mobil. Bagi sebagian orang yang telah terbiasa dengan ramainya dunia malam itu sudah biasa, tapi bagi orang-orang yang tidak terbiasa dengan itu semua, itu bagian dari kemerosotasn nilai-nilai luhur bangsa yang menjadi landasan moral bangsa Indonesia.
Kemerosotan nilai-nilai yang terjadi saat ini seakan mengisyaratkan bahwa di era Globalisasi ini sudah saatnya bangsa Indonesia khususnya masyarakat Sampang melakukan reformasi akhlak. Sebuah reformasi dimana nilai-nilai luhur bangsa yang termaktub dalam pancasila menjadi dasar beretika bangsa, etika yang dimaksud tidak hanya dalam berperilaku dalam lingkungan masyarakat, tapi lebih dari itu etika yang dimaksud juga dalam lungkungan politik. Hal ini merupakan bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang bermoral di bumi pertiwi ini.
Semua itu mengingatkan saya kepada sebuah sabda Nabi Saw yang mengatakan bahwa “aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak”. sebuah misi kenabian seorang hamba Allah yang bernama Muhammad, yang dilahirkan ditengah-tengah kerasnya krisis moral yang terjadi pada saat itu dikalangan bangsa Arab menjadikan Rasul Allah ini tetap tegar dan dengan kesabarannya beliau berhasil membawa umat manusia hijrah dari kegelapan moral menuju peradaban yang diridhai Allah Swt. hal itu menunjukkan betapa pentingnya akhlak bagi perkembangan peradaban manusia.
Oleh sebab itu, kirannya adanya reformasi akhlak bagi bangsa ini perlu segera dilakukan untuk mengatasi degradasi moral yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa ini, tentunya hal tersebut tidak hanya dapat dilakukan melalui pendidikan dengan kurikulum 2013-nya saja, dan tidak pula dapat dicapai hanya dengan pengawalan transformasi sosial saja, tapi lebih dari itu keduannya harus saling bersinergi antara penanaman nilai-nilai dalam pendidikan dengan proses pengawalan transformasi sosial dalam lingkungan masyarakat.

Rabu, 30 Agustus 2017

Pandangan Hamka dan Syed Muhammad Naquib Al Attas tentang Pendidikan



Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia, karena dengan mendapatkan pendidikan manusia dapat mengoptimalkan segala potensinya baik potensi yang berupa lahiriyah maupun yang berupa batiniyahnya. Berbagai macam potensi tersebut ketika dikembangkan dengan baik akan mengantarkan manusia pada kesejahteraan yang sejati, yaitu tercapainya puncak dari hasrat kebahagiaan manusia, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Urgensi pendidikan dalam kehidupan manusia, menjadikan pendidikan sendiri sebagai titik sentral dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, sehingga dalam hal ini ada berbagai macam tokoh pemikir pendidikan dari berbagai macam golongan yang sangat serius dalam menyikapi problem-problem pendidikan yang terjadi dalam sosio-cultural masyarakat mereka, sehingga pada akhirnya mereka menciptakan sebuah konsep pendidikan yang merekanilai sebagai konsep pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai idealitas insan kamil, tentunya itu semua tidak terlepas dari kondisi sosio-cultural masyarakat mereka. Sehingga dalam pendidikan sendiri ada berbagai macam konsep pendidikan yang disesuaikan dengan sosio-kultural yang berkembang di lingkungan masing-masing tokoh pendidikan tersebut.
Salah satu tokoh pendidikan yang eksis hingga saat ini adalah Hamka dan Syed Muhammad Naquib Al Attas. Hamka sendiri dalam pemikirannya membedakan istilah pendidikan dengan pengajaran yang mana dalam segi kebahasaan keduanya berbeda. Sedangkan Syed Muhammad Naquib al Attas sendiri merupakan tokoh pemikir kelahiran Indonesia yang hijrah ke Malaysia dan menjadi orang pertama yang melakukan Islamisasi Science dan menjadi tokoh pemikir yang disegani di dunia internasional.  Pemikirannya tentang pendidikan tidak jauh berbeda dengan Hamka yang membedakan istilah pendidikan dengan pengajaran, hanya saja dalam pemikirannya, al Attas juga melihat pendidikan dari sudut politik pendidikan yang saat ini mengandung unsur sekulerisme. Hal itu dapat dilihat dari adanya sekulerisasi antara science dengan agama pada saat ini.
Kalau kita cermati bersama, corak pemikiran antara hamka dan al attas seakan saling mendukung antara satu sama lain, hal itu karena corak pemikiran hamka yang cenderung sufis dihubungkan dengan corak pemikiran al attas yang cenderung filosofis. Dan adanya pertemuan antara kedua pemikiran ini melahirkan sebuah konsep yang bercorak tasawwuf falsafi. Sehingga ketika sebuah konsep yang bercorak tasawwuf falsafi itu diterapkan dalam kehidupan masyarakat, maka akan melahirkan tatanan masyarakat yang berkualitas dan diridhoi Allah Swt