Pendidikan
merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia, karena dengan
mendapatkan pendidikan manusia dapat mengoptimalkan segala potensinya baik
potensi yang berupa lahiriyah maupun yang berupa batiniyahnya. Berbagai macam
potensi tersebut ketika dikembangkan dengan baik akan mengantarkan manusia pada
kesejahteraan yang sejati, yaitu tercapainya puncak dari hasrat kebahagiaan
manusia, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Urgensi
pendidikan dalam kehidupan manusia, menjadikan pendidikan sendiri sebagai titik
sentral dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, sehingga dalam hal ini
ada berbagai macam tokoh pemikir pendidikan dari berbagai macam golongan yang
sangat serius dalam menyikapi problem-problem pendidikan yang terjadi dalam
sosio-cultural masyarakat mereka, sehingga pada akhirnya mereka menciptakan
sebuah konsep pendidikan yang merekanilai sebagai konsep pendidikan yang sesuai
dengan nilai-nilai idealitas insan kamil, tentunya itu semua tidak terlepas
dari kondisi sosio-cultural masyarakat mereka. Sehingga dalam pendidikan
sendiri ada berbagai macam konsep pendidikan yang disesuaikan dengan
sosio-kultural yang berkembang di lingkungan masing-masing tokoh pendidikan
tersebut.
Salah
satu tokoh pendidikan yang eksis hingga saat ini adalah Hamka dan Syed Muhammad
Naquib Al Attas. Hamka sendiri dalam pemikirannya membedakan istilah pendidikan
dengan pengajaran yang mana dalam segi kebahasaan keduanya berbeda. Sedangkan Syed
Muhammad Naquib al Attas sendiri merupakan tokoh pemikir kelahiran Indonesia yang
hijrah ke Malaysia dan menjadi orang pertama yang melakukan Islamisasi
Science dan menjadi tokoh pemikir yang disegani di dunia internasional. Pemikirannya tentang pendidikan tidak jauh
berbeda dengan Hamka yang membedakan istilah pendidikan dengan pengajaran,
hanya saja dalam pemikirannya, al Attas juga melihat pendidikan dari sudut
politik pendidikan yang saat ini mengandung unsur sekulerisme. Hal itu dapat
dilihat dari adanya sekulerisasi antara science dengan agama pada saat ini.
Kalau
kita cermati bersama, corak pemikiran antara hamka dan al attas seakan saling
mendukung antara satu sama lain, hal itu karena corak pemikiran hamka yang
cenderung sufis dihubungkan dengan corak pemikiran al attas yang cenderung
filosofis. Dan adanya pertemuan antara kedua pemikiran ini melahirkan sebuah
konsep yang bercorak tasawwuf falsafi. Sehingga ketika sebuah konsep yang bercorak tasawwuf falsafi itu diterapkan dalam kehidupan masyarakat, maka akan melahirkan tatanan masyarakat yang berkualitas dan diridhoi Allah Swt