Oleh:
Moh Khorofi[1]
Email:
mkhorofi199@gmail.com
Abstak: artikel ini membahas tentang dimensi aksiologi pendidika islam,
cakupan penbahasa dalam artikel ini mencakup pengertian aksiologi yang
merupakan cabang dari ilmu filsafat, hakikat nilai sebagai tolak ukur antara
tercapai tidaknya tujuan pendidikan islam, sumber-sumber nilai dalam kehidupan
manusia sehari-hari, kaitannya antara nilai dengan tujuan pendidikan islam, dan
implikasi sistem nilai terhadap pendidikan islam. Dalam artikel ini pendekatan
yang digunakan adalah perbandingan teori-teori dari beberapa ahli yang kemudia
disimpulkan sehingga melahirkan simpulan-simpulan baru tentang sub-sub menu
yang dibahas dalam artikel ini.
Kata kunci: aksiologi, nilai, pendidikan islam
Pendahuluan
Pendidikan
dalam islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi, karena pendidikan merupakan
jalan bagi setiap pribadi muslim untuk mendapatkan kemuliaan di dunian dan di akhirat,
karena pendidikan bagaikan sebuah lentera yang akan menerangi jalang orang yang
memegangnya. Pendidikanmerupakan proses memanusiakan manusia menjadi manusia
yang lebih baik. Menurut Heri Jauhari Muchtar pendidikan adalah segala usaha
yang dilakukan untuk mendidik manusia sehingga dapat tumbuh dan berkembang serat
memiliki potensi atau kemampuan
sebagaimana mestinya.[2] Sedangkan
menurut zuhairini pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya
sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat dan budaya.[3] Pendidikan
adalah sebuah upaya dimana membentuk setiap manusia menjadi manusia yang
berkualitas sehingga tercipta tatanan masyarakat yang beradab.
Pendidikan
islam merupakan sebuah system pendidikan yang berlandaskan pada sumber pokok
ajaran islam yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Pendidikan islam juga merupakan
sebuah sistem pendidikan dimana setiap peribadi muslim berusaha memperdalam
ajaran-ajaran islam dan memperluas khazanah keilmuan yang lain. adanya sistem
pendidikan islam tidak hanya dikarenakan anjuran agama islam tentang pendidikan
saja, akan tetapi diterapkannya pendidikan islam di indonesia juga dikarenakan
banyaknya masyarakat muslim yang kurang memahami tentang ajaran-ajaran islam
itu sendiri dan semakin berkurangnya jumlah generasi penerus para cendikiawan
muslim di indonesia sehingga timbul berbagai macam degaradasi dalam lingkungan
masyarakat muslim baik degaradasi norma, hukum, ekonomi, dan sebagainya.
Dalam
rangka mengatasi berbagai problem yang multidimensi tersebut, maka pendidikan
islam menjadi sebuah sistem untuk mencari kebenaran sedalam-dalamnya, mengkaji
berbagai persoalan secara holistis dan radikal untuk mencapai kebenaran yang
sebenar-benarnya. Dengan begitu banyaknya pengkajian secara mendalam dalam
pendidikan islam tidak heran jika menghasilkan teori-teori baru atau bahkan sebuah
pembaharuan terhadap pendidikan islam yang penerapannya disesuaikan dengan
zaman.
Kajian
filsafat dalam mengembangkan pendidikan islam tidak terlepas dari tiga aspek
filosofis, yaitu: ontologi yang mengkaji tentang hakekat pendidikan islam,
epistimologi yang mengkaji tentang sumber-sumber pendidikan islam, dan
aksiologi yang mengkaji tentang nilai-nilai dalam pendidikan islam.
Aksiologi
sebagai cabang dari ilmu filsafat memiliki peran yang sangat penting dalam
pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan, karena aksiologi berperan sebagai
tolak ukur keberhasilan suatu ilmu atau pendidikan dengan melihat
manfaat-manfaat atau nilai-nilai (values) yang terkandung dalam suatu ilmu atau
dalam pelaksanaan pendidikan.
Manusia
sebagai makhluk yang berakal yang diciptakan alllah swt memiliki kecenderungan
untuk memilih atau menilai antara yang baik dan buruk (etika), indah dan jelek
(estetika) dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah dalam kehidupan manusia,
nilai sangat berpengaruh terhadap terbentuknya suatu norma, aturan, etika,
budaya, dan sebagainya.
Demikian
pentingnya nilai dalam kehidupan manusia tidak membuat nilai-nilai yang telah
disetujui oleh mayoritas manusia diterima sepenuhnya oleh masyarakat itu
sendiri, hal ini dikarenakan adanya hubungan antara nilai-nilai dengan
interpersonal manusia. Tidak jarang ditemukan manusia yang melanggar
nilai-nilai yang telah disepakati bersama dikarenakan adanya ketidak sesuaian
antara interpersonal manusia (kesadaran, keinginan, kepribadian, dan gairah)
dengan nilai-nilai yang telah berlaku.
Dilihat
dari subyeknya manusia memiliki dua macam nilai, yaitu nilai dalam angan (Conceived
Values) dan nilai praktis sebagai keharusan (Operative Values).[4]
Manusia yang melaksanakan Operative Values adalah manusia yang ideal,
mereka merupakan pribadi yang dapat menerima dan menjalankan nilai-nilai yang
telah disepakati bersama, sebaliknya manusia yang tidak ideal adalah mereka
yang hanya melaksanakan Conceived Values, mereka merupakan pribadi yang
tidak dapat menerima, menjalankan, dan memahami hakikat dari nilai itu sendiri.
Sebagai
contoh ada seorang lelaki yang menduduki jabatan strategis dalam pemerintahan
dan dia melakukan sebuah kerjasama politik dengan para pengusaha, akan tetapi
dia kurang mengetahui dan memahmi terhadap nilai-nilai atau undang-undang yang
telah disepakati bersama sehingga tanpa pikir panjang dia menyetujui kerjasama
tersebut, dan pada akhirnya karena telah terlanjur melakukan kerjasama, maka
dia menyalahkan nilai-nilai atau undang-undang yang telah disepakati bersama
tersebut dan membuat sebuah kebijakan baru yang sesuai dengan nilai-nilai yang
dianggap benar oleh dirinya sendiri. Hal inilah yang dimaksud dengan manusia
yang tidak ideal, karena tidak memahami dan meresapi nilai-nilai yang telah
berlaku dan membuat nilai baru yang sesuai dengan keinginannya.
Adanya
manusia yang tidak ideal dalam menerima nilai-nilai yang telah disepakati
menghasilkan berbagai nilai-nilai baru yang bersifat egosentris, hal ini tidak
dapat dipungkiri oleh setiap bangsa. Karena nilai-nilai egosentris tersebut
berada dalam berbagai dataran masyarakat dunia yang meliputi pendidikan,
ekonomi, hukum, dan sebagainya.
Aksiologi
banyak membahas tentang hakikat nilai yang didalamnya meliputi baik dan buru, benar
dan salah, tujuan dan fungsinya dalam pendidikan islam. Pendidikan islam
diorientasikan pada upaya menciptakan generasi muda yang berkarakter, kreatif,
dan memiliki kualitas dan kapabilitas yang mumpuni dalam bidangnya sesuai
dengan nilai-nilai yang diharapkan dalam komponen-komponen pendidikan islam.
Pengertian
aksiologi
Aksiologi
secara etimologi (kebahasaan) berasal dari bahasa yunani, yaitu axio
yang memiliki arti nilai atau manfaat dan logos yang memiliki arti ilmu
pengetahuan[5]
perpaduan antara axio dan logos untuk menentukan bahwa aksiologi
tersebut adalah sebuah ilmu tentang nilai atau manfaat dari suatu pengetahuan karena
apabila axio tidak tidak dipadukan dengan logos maka axio tersebut hanyalah
sebuah nilai biasa bukan merupakan sebuah ilmu yang membahas tentang nilai
(values). sedangkan secara terminologi (istilah) para ahli memiliki berbagai
macam definisi terkait aksiologi
Salah satunya adalah Jujun S. Sumiasumantri
mengartikan aksiologi sebagai Teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari
pengetahuan yang diperoleh.[6] Dalam
teorinya ini, Jujun S. Sumiasumantri lebih menjelaskan aksiologi sebagai sebuah
nilai atau manfaat dari suatu pengetahuan yang baru diperoleh manusia, sehingga
jika suatu pengetahuan dikatakan pengetahuan apabila pengetahuan tersebut
memiliki nilai (value).
Senada dengan pendapat Jujun S.
Sumiasumantri, secara komprehensif Sarwan sebagai dikutip oleh Lies, Bambang,
dkk mendefinisikan bahwa aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi,
realitas, dan arti dari nilai-nilai ( kebaikan, keindahan, dan kebenaran).[7]
Dalam definisi tersebut dapat dipahami bahwa definisi sarwa lebih memandang
aksiologi sebagai sebuah studi tentang hakikat nilai-nilai yang sedang terjadi
di lingkungan manusia meliputi kebaikan-keburukan, keindahan-kejelekan, dan
kebenaran-kebatilan.
Selanjutnya Yulia Siska mendefinisikan
bahwa Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, pada
umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.[8] Komposisi
pendapat Yulia siska ini tidak jauh berbeda dengan kedua tokoh sebelumnya yang
membedakan hanyalah redaksi bahasanya yang lebih jelas.
Dengan
demikian aksiologi dapat diartikan dengan sebuah ilmu tentang hakikat tertinggi
dari nilai-nilai etika dan estetika
dalam masyarakat baik dalam ekonomi, sosial, budaya, politik, dan sebagainya.
Kaitannya
dengan pendidikan, aksiologi banyak memberikan kontribusi karena aksiologi
merupakan bagian dari ilmu filsafat yang membahas tentang nilai (value) dari
suatu ilmu, hal ini senada apabila kita terapkan dalam pengaplikasian
pendidikan islam karena kualitas dari suatu pendidikan dapat diketahui apabila
nilai (values) atau manfaatnya tinggi.
Hakikat Nilai
Nilai
(values) merupakan bagian dari pembahasan aksiologi. Nilai sangat sulit
dipahami karena sifatnya yang abstrak dan tersembunyi, sehingga melahirkan
berbagai definisi tentang nilai. Menurut Gordon Alport sebagaimana dikutip oleh
Rohmat Mulyana nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas
keyakinannya.[9]
Dalam teorinya ini Gordon Alport melihat nilai dari sudut pandang psikologi
yaitu dilihat dari salahsatu aspek kejiwaan manusia yang disebut keyakinan.
Karena keyakinan menempati posisi yang lebih tinggi daripada hasrat, motif,
keinginan, sikap, dan kebutuhan. Oleh karena itu, keputusan benar atau salah,
baik atau buruk, indah atau tidak indah, pada wilayah ini merupakan hasil dari
serentetan proses psikologis yang kemudian mengarahkan individu untuk suatu
tindakan atau perbuatan yang sesuai dengan nilai pilihannya.
Selanjutnya
dalam encyclopedi britannica sebagaimana dikutip oleh siswanto ditulis bahwa:
... what is
value.... the immediate and natural answer to this question is say that value
is a determination or quality of an abject which involves any sort of
appriciation or interest. Artinya: ....apakah nilai itu.....jawaban langsung
dan wajar atas pertanyaan ini ialah bahwa nilai itu adalah suatu penetapan atau
suatu kualitas suatu objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat.[10]
Dan
menurut kupperman sebagaimana dikutip oleh rohmat mulyana mengatakan bahwa
nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan
pilihannya diantara cara-cara tindakan alternatif.[11]
Definisi ini menekankan nilai dan norma sebagai faktor eksternal yang
mempenaruhi prilaku manusia. Apabila kita cermati bersama maka akan kita
ketahui bahwa definisi ini dilihat dari sudut pandang sosiologis. Dalam
definisi ini kupperman memandang norma merupakan hal yang sangat penting dalam
kehidupan sosial karena dengan adanya norma dan penegakan norma, maka akan
tercipta kehidupan yang tenang, tentram, dan terbebas dari tuduhan masyarakat
yang ingin merugikan kita. Oleh sebab itu salah satu hal yang sangat penting
dalam pertimbangan nilai (value judgement) adalah pelibatan nilai-nilai
normatif yang berlaku di masyarakat.
Sedangkan
menurut ahmad tafsir nilai adalah harga, sesuatu dikatan nilainya tinggi
apabila harganya tinggi, dan sesuatu dikatan nilainya rendah apabila harganya
rendah.[12]
Jadi segala sesuatu yang berharga berarti bernilai, hanya saja tinggi rendahnya
suatu nilai ditentukan oleh orang yang menginterpretasikannya.
Dari
beberapa definisi diatas dapat kita pahami bahwa nilai adalah pandangan manusia
terhadap suatu peristiwa, suatu perbuatan, atau suatu benda, apakah sesuatu itu
baik atau buruk, benar atau salah, dan indah atau tidak indah. Sehingga dengan
adanya nilai, manusia dapat menentukan sikapnya terhadap suatu hal tersebut
apakah sikap negatif atau sikap positif.
Nilai
bersifat ideal, abstrak, dan tidak dapat disentuh oleh panca indera, sedangkan
yang dapat ditangkap oleh manusia hanyalah barang atau tingkahlaku yang
mengandung nilai tersebut. Nilai juga bukan fakta yang berbentuk kenyataan dan
konkrit.[13]
Akan tetapi nilai memiliki hubungan yang sangat erat dengan fakta karena nilai
lahir dari sebuah konsekuensi penyikapan atau penilain terhadap suatu hal yang
faktual. Artinya ketika seseorang melihat suatu peristiwa, merasakan suatu
suasana, mempersepsikan suatu benda, atau merenungkan suatu peristiwa, maka
disanalah kita akan mendapatkan nila.
Nilai
tidak dapat diuji karena sifatnya yang abstrak akan tetapi nilai dapat
dibandingkan antara nilai yang satu dengan nilai yang lain. tidak ada sesuatu
yang ada tidak bernilai karena pada hakikatnya adanya segala sesuatu yang ada,
besar atau kecil, baik atau buruk, indah atau tidak indah, semuanya memiliki
nilai tersendiri apakah nilainya tinggi atau rendah. Sebagai contoh si fulan
hitam dan si fulun putih, tidak dibenarkan apabila kita mengatakan atau menilai
si fulan jelek karena berkulit hitam dan si fulun tampan karena berkulit putih,
akan tetapi dapat dibenarkan apabila kita berkata atau menilai si fulan tampan
dan si fulun lebih tampan daripada si fulan.
Nilai
terkadang bersifat subyektif karena terkadang manusia memberikan penilaian
terhadap suatu hal dengan berlandaskan egoisme atau dalam hal ini disebut
dengan nilai angan (Conceived Values), nilai yang berlandaskan egoisme
ini terjadi pada orang yang memandang nilai hanya untuk kepuasan intelek
pribadi saja. dan terkadang nilai bersifat objektiv atau nilai praktis sebagai
keharusan (Operative Values), operative values merupakan nilai yang
sejalan dengan kesepakan sosial masyarakat dan dilaksanakan oleh seluruh
masyarakat.
Sumber Nilai Dalam
Kehidupan Manusia
Nilai merupakan
standart tingkah laku, keindahan, keadilan, dan efisiensi yang mengikat manusia
dan sepatutnya dijalankan serta dipertahankan. Nilai menjadi suatu pola
normatif yang menjadi standar tingkah laku yang diinginkan dan sesuai dengan
sistem sosial.
Demikian dengan
nilai dalam islam yang menjadi kumpulan prinsip hidup , ajaran-ajaran yang
mengajarkan manusia tentang hidup didunia sebagai makhluk sosial yang saling
membutuhkan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.
Sumber nilai
yang berlaku dalam kehidupan sosial manusia digolongkan menjadi dua macam,
yaitu:
1.
Nilai
ilahiyah
Nilai
ilahiyah merupakan nilai yang dititahkan tuhan melalui para rasulnya, yang
berbentuk takwa, iman, dan adil yang diabadikan dalam wahyu tuhan. Nilai-nilai
ilahi selamanya tidak akan berubah. Nilai-nilai ilahi mengandung kemutlakan
bagi kehidupan manusia selaku makhluk sosial dan tidak berkecenderungan berubah
karena adanya tuntutan zaman, hawa nafsu, dan interfensi siapapun.[14]
2.
Nilai
insaniyah
Inilai
insaniyah tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari
peradaban manusia. Nilai ini bersifat dinamis dan keberlakuan serta kebenaranya
bersifat relatif yang dibatasi oleh ruang dan waktu.[15]
Nilai dan
Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan
adalah dunia cita, yaitu suasana ideal yang ingin diwijudkan. Menurut Ahmad D
Marimba sebagaimana dikutip oleh Zuhairini mengatakan bahwa dalam tujuan
pendidikan suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (Ultimate Aims Of
Education).[16]
Akan tetapi sebelum kita ketahui bersama apa saja tujuan pendidikan islam dan
kaitannya dengan nilai maka perlu kita ketahui terlebih dahulu definisi tentang
pendidikan islam.
Menurut
Dr. muhammad fadil al-djamaly sebagai dikutip oleh muzayyin arifin mengatakan
bahwa pendidikan islam adalah proses yang mengarahkan manusia kepada kehidupan
yang lebih baik dan yang mengangkat derajad kemanusiaannya sesuai dengan
kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar).[17]
Menurut
Ahmad Tafsir Pendidikan islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang
kepada seseorang agar dia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran
islam.[18]
Dalam definisinya ini Ahmad Tafsir melihat pendidikan islam lebih kepada
pendidikan oleh seseorang kepada orang lain, yang diselenggaran keluarga,
masyarakat, dan sekolah menyangkut aspek jasmaniyah, akal, dan hati peserta
didik.
Selanjutnya
secara lebih luas, Siswanto mengatakan bahwa pendidikan islam adalah rangkaian
proses yang sistematis, terencana dan komprehensif dalam upaya mentransfer
nilai-nilai kepada anak didik, mengembangkan potensi yang ada pada anak didik,
sehingga mampu mengembangkan kekhalifahan dimuka bumi dengan sebaik-baiknya,
sesuai dengan nilai-nilai ilahiyah yang didasarkan pada ajaran agama pada semua
dimensi kehidupannya.[19]
Dari
beberapa definisi tersebut dapat kita pahami bahwa pendidikan islam adalah
proses memaksimalkan potensi manusia baik intelektual, spiritual, maupun
emosional sesuai dengan ajaran islam sehingga terbentuk generasi penerus yang
diridhoi oleh Allah SWT. Adanya pembahasan tentang definisi pendidikan tersebut
tidak lain untuk memberikan batasan-batasan tentang tujuan pendidikan islam.
Apabila dalam definisi pendidikan islam tadi dibahas tentang proses, maka proses
tersebut akan berakhir dalam pencapaian tujuan akhir (Ultimate Aims) Pendidikan Islam.
Menurut
siswanto suatu tujuan yang hendak dicapai pada hakekatnya adalah suatu
perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia yang
diinginkan.[20]
Nilai-nilai ideal dapat mempengaruhi kepribadian manusia, sehingga dapat
terlihat dalam perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain,
nilai-nilai ideal atau dalam hal ini penulis menyebutnya dengan akhlak dapat
terlihat dari pola perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena
itu, apabila kita membahas nilai-nilai pendidikan, maka kita akan mengetahui
tujuan dari pendidikan itu sendiri, sebab dalam merumuskan tujuan pendidikan
islam terdapat nilai-nilai pendidikan islam yang terdapat dan tertanam dalam
peserta didik. Dan begitu juga apabila kita membahas tentang tujuan pendidikan
islam, maka tidak akan terlepas dari nilai-nilai pendidikan islam yang menjadi
identitas dari pendidikan islam itu sendiri.
Sebagaimana
pembahasan diatas, tujuan pendidikan islam berpatokan pada nilai-nilai yang
terkandung dalam identitas pendidikan islam seperti nilai-nilai sosial, nilai
ilmiah, nilai moral, dan nilai agama.[21]
Tampaknya apabila kita cermati nilai-nilai tersebut sudah pasti pendidikan
islam menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan seluruh aspek
kehidupan yang ideal dan menciptakan pengangan hidup dalam skala dunia.
Selanjutnya
menurut muzayyin arifin dengan berlandaskan pada do’a umat islam sehari-hari
berkata bahwa tujuan pendidikan islam tidak terlepas dari tiga dimensi
kehidupan yang mengandung nilai-nilai ideal, yaitu:
1.
Dimensi
yang mengandung nilai yang meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia.[22]
Dimensi nilai kehidupan ini mendorong manusia agar mengelola dan memanfaatkan
dunia untuk bekal dan sarana dalam kehidupan akhirat.
2.
Dimensi
yang mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih
kehidupan di akhirat.[23] Dimensi
ini menuntut manusia untuk tidak terbelenggu dalam kekmewahan duniawi, namun
juga menuntut manusia agar dapat menghilangkan kemiskinan karena kemiskinan
dapat menjadi penyebab terjerumusnya manusia dalam lingkaran kekufuran.
3.
Dimensi
yang mengandung nilai yang dapat memadukan (mengintegrasikan) antara
kepentingan hidup di dunia dan hidup di akhirat.[24]
Keseimbangan dan keserasian antara dua kepentingan ini dapat menjadi sebuah
benteng bagi manusia dari berbagai pengaruh negatif, baik pengaruh negatif yang
bersifat spiritual, sosial, kultural, ekonomi maupun ideologi dalam kehidupan
sehari-hari.
Sedangkan
dalam merumuskan tujuan pendidikan islam, Siswanto lebih komprehensif
menjelaskan bahwa dalam perumusan tujuan pendidikan islam haruslah berpatokan
pada empat aspek, yaitu:
1.
Berorientasi
pada tujuan dan tugas pokok manusia.
Tugas
yang dimaksud dalam aspek ini adalah manusia sebagai khalifah dibumi yang
bertugas untuk mengelolan bumi sebaik-baiknya agar manusia senantiasa beribadah
dan berada dijalan Allah.
2.
Berorientasi
pada sifat dasar (Nature) manusia.
Sifat
dasar yang dimaksud dalam sub bab ini adalah fitrah penciptaan manusia.
Sebagaimana diterangkan dalam QS. Ar-rum ayat 30.
óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ 4 w @Ïö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 Ï9ºs ÚúïÏe$!$# ÞOÍhs)ø9$# ÆÅ3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt ÇÌÉÈ
Artiinya: “Maka
hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui” (QS. ar-Rum: 30).
Maksud
dari fitrah Allah diatas adalah manusia diciptakan Allah mempunyai naluri
beragama Yaitu agama tauhid.[25]
kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka
tidak beragama tauhid itu hanyalah karena pengaruh lingkungan.
3.
Berorientasi
pada tuntutan masyarakat dan zaman.
Tuntutan
yang dimaksud oleh siswanto adalah berupa pelestarian nilai-nilai budaya yang
telah melembaga dalam kehidupan masyarakat dan nilai-nilai baru yang lahir karena
adanya percepatan perkembangan dunia modern
4.
Berorientasi
pada kehidupan ideal islami.[26]
Dalam
aspek ini siswanto senada dengan muzayyin arifin yang mengatakan bahwa sistempendidikan
islam haruslah mampu menyeimbangkan antara dimensi duniawi dan dimensi ukhrawi.
Keseimbangan antara dua dimensi tesebut dijelaskan oleh siswanto dapat
menangkal segala pengaruh negatif yang mendekati pribadi muslim dalam kehidupan
sehari-hari.
Sejalan dengan adanya patokan-patokan penting dalam perumusan
tujuan pendidikan islam, maka al-ghazali sebagai dikutip oleh abd rahman
assegaf mengatakan bahwa tujuan pendidikan islam adalah pencapaian ilmu agama
dan membentuk akhlak.[27]
al-Syaibani sebagaimana
dikutip oleh ahmad tafsir menjabarkan tujuan pendidikan islam menjadi tiga, yaitu:
a.
Tujuan
yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan,
tingkah laku, jasmani dan rohani, dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki
untuk hidup di dunia dan di akhirat.
b.
Tujuan
yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah
laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, dan memperkaya
pengalaman masyarakat.
c.
Tujuan
profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu,
sebagai seni, sebaga profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.[28]
Abdul Munir sebagai dikutip oleh siswanto menyebutkan bahwa tujuan
pendidikan islam adalah sebagai proses aktuaslisasi akal peserta didik yang
secara teknis terwujud dalam kecerdasan, terampil, dewasa, dan berkepribadian
muslim yang paripurna, memiliki kebebasan berkereasi dengan tetap menjaga nilai
kemanusiaan yang ada pada dalam diri manusia untuk dikembangkan secara
proporsional islami.[29]
Selanjutnya dalam kongres pendidikan islam sedunia tahun 1980
sebagai dikutip oleh muzammil arifin menetapkan bahwa pendidikan harus
ditujukan kearah pertumbuhan yang berkesinambungan dari kepribadian manusia
yang menyeluruh melalui latihan spiritual, kecerdasan dan rasio, perasaan, dan
panca indra. Oleh keranya maka pendidikan haruslah memberikan pelayanan kepada
pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya, yaitu aspek spiritual, intelektual,
imajinasi, jasmaniah, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara
kolektif, serta mendorong semua aspek itu ke arah kebaikan dan pencapaian
kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan terletak didalam sikap penyerahan diri
sepenuhnya kepada allah pada tingkat individual, masyarakat, dan pada tingkat
kemanusiaan pada umumnya.[30]
Menurut rumusan tujuan pendidikan islam tersebut, tampak bahwa tujuan
pendidikan islam tidaklah sempit dan menjangkau seluruh aspek kehidupan manusia
yang berakhir pada penyerahan diri manusia kepada allah swt.
Dengan demikian, pendidikan agama hanyalah bagian dari ruang
lingkup tujuan pendidikan islam, karena pada hakikatnya tujuan pendidikan islam
adalah terciptanya manusia yang paripurna dalam mengembangkan kehidupan di
dunia dan meraih kehidupan di akhirat atas dasar iman dan takwa kepada allah
swt.
Oleh sebab itu, muzayyin arifin mengklasisfikasikan tujuan
pendidikan islam menjadi tiga macam tujuan inti, sebagai berikut:
1.
Tujuan
normatif[31]
Suatu tujuan yang harus dicapai berdasarkan kaidah-kaidah
(norma-norma) yang mampu mengkristalisasikan nilai-nilai yang hendak di
internalisasikan. Tujuan ini mencakup:
a.
Tujuan
formatif yang bersifat memberikan persiapan dasar yang korektif.
b.
Tujuan
selektif yang bersifat memberikan kemampuan membedakan hal-hal yang benar dan
yang salah.
c.
Tujuan
determinatif yang bersifat memberikan kemampuan untuk mengarahkan diri kepada
sasaran-sasaran yang sejalan dengan proses kependidikan.
d.
Tujuan
integratif yang bersifat memberikan kemampuan untuk memadukan fungsi psikis
(penyerapan terhadap rangsangan pelajaran, pikiran, perasaan, kemauan, ingatan,
dan nafsu) kearah tujuan akhir proses kependidikan.
e.
Tujuan
aplikatif yang bersifat memberikan kemampuan penerapan segala pengetahuan yang
diperoleh kedalam pengalaman.
2.
Tujuan
fungsional[32]
Tujuan yang bersasaran pada kemampuan anak didik untuk memfungsikan
daya kognitif, afektif, dan psikomotor dari hasil pendidikan yang diperoleh
sesuai yang diterapkan, tujuan ini meliputi:
a.
Tujuan
individual, tujuan ini bersasaran pada pemberian kemampuan individual untuk
mengamalkan nilai-nilai yang diinternalisasikan kedalam pribadi berupa perilaku
moral, intelektual, dan skill.
b.
Tujuan
sosial, tujuan ini bersasaran pada pemberian kemampuan mengamalkan nilai-nilai
kedalam kehidupan sosial, interpersonal, dan interaksional dengan orang lain
dalam masyarakat.
c.
Tujuan
moral, tujuan ini bersasaran pada pemberian kemampuan untuk berperilaku sesuai
dengan tuntutan moral atas tuntunan morivasi yang bersumber dari agama
(teogenetis), dorongan sosial (sosiogenetis), dan dorongan biologis
(biogenetis).
d.
Tujuan
profesional, tujuan ini bersasaran pada pemberian kemampuan untuk mengamalkan
keahliannya sesuai dengan kompetensi.
3.
Tujuan
operasional[33]
Tujuan ini memiliki sasaran teknis managerial yang meliputi:
a.
Tujuan
umum atau tertinggi
Merupakan tujuan yang bersifat mutlak dan universal, yaitu tujuan
yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia
b.
Tujuan
intermedieir
Merupakan tujuan yang bersifat sementara untuk dijadikan sarana
mencapai tujuan tertinggi.
c.
Tujuan
parsial
Tujuan ini bersasaran pada salahsatu bagian dari keseluruhan aspek
dari tujuan umum, yang berfungsi untuk mempermudah pencapaian tujuan umum.
d.
Tujuan
insidental
Tujuan ini merupakan tujuan yang bersasaran pada hal-hal yang tidak
direncanakan, tapi hal-hal tersebut memiliki keterkaitan dengan pencapaian
tujuan umum.
e.
Tujuan
khusus
Tujuan
ini bersasaran pada faktor-faktor khusus tertentu yang menjadi salah satu aspek
penting tujuan umum, yaitu memberikan dan mengembangkan kemampuan atau skill
khusus pada anak didik, sehingga mampu bekerja dalam bidang pekerjaan tertentu
yang berkaitan erat dengan tujuan umum.
Implikasi
Sistem Nilai Dalam Proses Pendidikan Islam
Sistem
nilai memiliki hubungan timbal balik dengan proses pendidikan. Dari perbuatan
pendidik, dapat diketahui bahwa nilai-nilai kependidikan terlihat secara
langsung maupun tidak langsung dalam setiap keputusan yang diambil oleh
pendidik. Nilai-nilai tersebut berhubungan erat dengan segala aspek tujuan dan
fungsi pendidikan seperti isi kurikulum, tujuan pengajaran, dan dimensi-dimensi
pendidikan lainnya.[34]
Hubungan yang erat antara nilai dengan pendidikan dapat terlihat dengan sangat
jelas dalam tujuan pendidikan yang mengandung nilai-nilai.
Sisitem
nilai memerlukan transmisi, pewaris, pelestarian dan pengembangan melalui
pendidikan.[35]
Demikian juga dengan proses pendidikan dibutuhkan sistem nilai agar proses
pendidikan tersebut berjalan dengan pasti, karena berpedoman pada garis
kebijaksanaan yang ditimbukan oleh nilai-nilai fundamentasl seperti agama,
sosial, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Hal tersebut menunjukkan bahwa
eksistensi pendidikan termasuk pendidikan islam merupakan sarana vital dalam
menumbuh kembangkan daya kreativitas dan keilmuan peserta didik, dan
melestarikan nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah, dan membekali anak didik
dengan kemampuan yang berkualitas dan produktif.
Oleh
karena itu, pendidikan islam bertugas mempertahankan, menanmkan, dan
mengembangkan fungsi nilai-nilai islam yang bersumber pada al-qur’an dan
al-sunnah. Disebabkan karena adanya modernisasi dalam kehidupan sehari-hari
sebagai dampak dari adanya pengaruh dari westernisasi budaya yang sewaktu-waktu
dapat memarjinalkan masyarakat islam. Maka pendidikan islam haruslah memberikan
kelenturan dalam mengembangkan nilai-nilainya tampa melanggar nilai-nilai yang
telah diwahyukan Allah SWT.
Terwujudnya
kondisi tersebut sebaiknya dijadikan targen pengembangan sistem pendidikan
islam. Oleh karena itu, menurut Mulkhan sebagai dikutip oleh siswantu
mengatakan bahwa pendidikan islam harus membentuk proses pengarahan
perkembangan kehudupan dan keberagaman peserta didik kearah idealitas kehidupan
islami. Dengan tetap mempertahankan dan memperlakukan peserta didik sesuai
dengan sosial budayanya masing-masing.[36]
Tidak
hanya itu saja, pendidikan islam hendaknya menjadikan nilai-nilai etika dan
estetika sebagai patokan penting dalam pengembangan pendidikan islam. Yaitu
dengan menggunakan pendekatan estetis dan etis, artinya setiap persoalan dapat
dilihat dari perseptif dari berbagai pihak tampa meninggalkan nilai-nilai etis
islam sebagai idealitas pendidikan islam. Dengan kata lain pendidika islam
diorientasikan untuk membentuk peserta didik yang kreatif, berilmu, tawaduk,
dan berseni sesuai dengan islam, sehingga pendidikan islam tetap unggul dan
diridhai oleh Allah SWT hingga akhir zaman.
Penutup
Aksiologi
merupakan bagian dari cabang ilmu filsafat yang membahas tentang nilai-nilai
atau manfaat-manfaat yang terkandung dalam ilmu. Nilai itu sendiri adalah
pandangan manusia terhadap suatu peristiwa, suatu perbuatan, atau suatu benda,
apakah sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, dan indah atau tidak
indah. Sehingga dengan adanya nilai, manusia dapat menentukan sikapnya terhadap
suatu hal tersebut apakah sikap negatif atau sikap positif.
Sumber
nilai dalam kehidupan manusia ada dua, yaitu nilai ilahiyah, yaitu nilai-nilai
yang diwahyukan oleh allah kepada rasulnya untuk diamalkan oleh sekalian ummat
manusia. Dan nilai insaniyah yaitu nilai-nilai yang lahir dari interaksi sosial
budaya manusia yang disepakati oleh sekelompok manusia, dan nilai ini bersifat
relatif karena antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya memiliki
nilai-nilainya masing-masing.
Tujuan
pendidikan islam sebagaimana hasil kongres pendidikan islam sedunia tahun 1980
sebagai dikutip oleh muzammil arifin menetapkan bahwa pendidikan harus
ditujukan kearah pertumbuhan yang berkesinambungan dari kepribadian manusia
yang menyeluruh melalui latihan spiritual, kecerdasan dan rasio, perasaan, dan
panca indra. Oleh keranya maka pendidikan haruslah memberikan pelayanan kepada
pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya, yaitu aspek spiritual, intelektual,
imajinasi, jasmaniah, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara
kolektif, serta mendorong semua aspek itu ke arah kebaikan dan pencapaian
kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan terletak didalam sikap penyerahan diri
sepenuhnya kepada allah pada tingkat individual, masyarakat, dan pada tingkat
kemanusiaan pada umumnya.
Nilai
sangat berhubungan dengan pendidikan islam karena pendidikan islam merupakan
suatu proses mengoptimalkan kemampuan peserta didik sesuai dengan ajaran islam,
dan apabila kita berbicara tentang peroses maka akan kita dapati tujuan akhir
dari proses tersebut, dan apabila kita berbicara tentang tujuan maka tidak akan
tersepas dengan nilai-nilai sebagai idealitas pendidikan islam. Initinya
pendidikan islam haruslah memandang nilai-nilai sebagai tujuan pencapaian
pendidikan terlebih pada nilai-nilai etika dan estetika.
Daftat Pustaka
Arifin,
Muzayyin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012).
Assegaf,
Abd Rahman, Aliran Pemikiran Pendidikan Islam ( Jakarta: PT. Grafindo
Persada, 2013).
Jalaluddin,
Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sejarah dan Pemikirannya ( Jakarta: Kalam
Mulia, 2011).
Lies Sudibyo, Bambang Triyanto, dan Meidawati Suswandari, Filsafat
Ilmu (Yogyakarta: Deepublish, 2014).
Muchtar,Heri
Jauhari, Fikih Pendidikan ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005).
Mulyana,
Rohmat, Mengaktualisasikan Pendidikan Nilai ( Bandung: Alfabeta,
2011).
S.
Sumiasumantri, Jujun, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 2003).
Siska,
Yulia, Manusia dan Sejarah: Sebuah Tinjauan Filosofis (Penerbit
Garudhawaca, 2015).Zuhairini.
Dkk. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012).
Siswanto,
Filsafat dan Pemikiran Pendidikan Islam ( Surabaya: Pena Sabilillah,
2016).
Tafsir,
Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam ( Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2012).
Tafsir,
Ahmad, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2014).
Tafsir,
Ahmad, Ilmu Pendidikan Islam, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015).
Zuhairini,
Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Akasara, 2012).
[1] Penulis adalah
mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana Stain Pamekasan, Hp; 082333278114
[2] Heri Jauhari
Muchtar, Fikih Pendidikan ( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), 14.
[3] Zuhairini.
Dkk. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 150.
[4] Siswanto, Filsafat
dan Pemikiran Pendidikan Islam ( Surabaya: Pena Sabilillah, 2016), 85.
[5] Drs Lies Sudibyo M.H, Drs Bambang Triyanto M.M, dan Meidawati
Suswandari M.Pd S. Pd, Filsafat Ilmu (yogyakarta: Deepublish, 2014), 75.
[6] Jujun S.
Sumiasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan, 2003), 83.
[9] Rohmat Mulyana,
Mengaktualisasikan Pendidikan Nilai ( Bandung: Alfabeta, 2011), 9.
[10] Siswanto, Filsafat
dan Pemikiran, 87.
[11] Rohmat, Mengaktualisasikan,
9.
[12] Ahmad Tafsir, Filsafat
Pendidikan Islam ( Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2012), 50.
[13] Siswanto, Filsafat
dan Pemikiran, 87-88.
[14] Ibid, 89.
[15] Ibid.
[16] Zuhairini, Filsafat
Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Akasara, 2012), 159.
[17] Muzayyin Arifin,
Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 17.
[18] Ahmad Tafsir, Ilmu
Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014),
32.
[19] Siswanto, Filsafat
dan Pemikiran, 90.
[20] Ibid, 91.
[21] Zuhairini, Filsafat,
160.
[22] Muzayyin Arifin,
Filsafat, 109.
[23] Ibid.
[24] Ibid.
[25] Jalaluddin,
Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sejarah dan Pemikirannya ( Jakarta: Kalam
Mulia, 2011), 115.
[26] Siswanto, Filsafat
dan Pemikiran, 92.
[27] Abd Rahman
Assegaf, Aliran Pemikiran Pendidikan Islam ( Jakarta: PT. Grafindo
Persada, 2013), 112.
[28] Ahmad Tafsir, Ilmu
Pendidikan Islam, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), 67.
[29] Ibid, 93.
[30] Muzayyin Arifin,
Filsafat, 119-120.
[31] Ibid, 115.
[32] Ibid
[33] Ibid, 116.
[34] Siswanto, Filsafat
dan Pemikiran, 94.
[35] Ibid.
[36] Ibid, 96.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
partisipasi pemikiran anda kami tunggu