Salah satu problem
mendasar yang dialami manusia di zaman modern ini yaitu krisis ekologis atau
permasalahan lingkungan. Sebab manusia modern telah medeklarasikan alam. Alam
telah dipandang sebagai sesuatu yang harus digunakan dan dinikmati semaksimal
mungkin. Dominasi terhadap alamlah yang menyebabkan masalah bencana, kepadatan
penduduk, kurangnya ruang bernafas, kemacetan kehidupan kota, pengurasan jenis
sumber alam, hancurnya keindahan alam. Arti dominasi atas alam dan konsepsi
materialistik tentang alam yang dianut manusia modern ini telah didukung dengan
nafsu dan ketamakan yang semakin banyak menuntut lingkungan.
Semua ini dalam
pandangan filosofis akibat dari cara pandang yang dualistik-mekanistik dan
materialistik. Cara pandang ini menyebabkan terjadinya dikotomik atau
diversitas (pembedaan) seperti; subyek-obyek, manusia-alam, manusia-Tuhan,
suci-sekuler, timur-barat. Cara pandang dikotomik ini menyebabkan tidak
harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam yang telah dihancurkan. Semua ini
terkait dengan ketidakseimbangan yang disebabkan oleh hancurnya harmoni antara
Tuhan dan manusia.
Sekarang ini Indonesia
masih memiliki 10% hutan tropis yang masih tersisa. Setiap tahunnya keadaan
luas hutan terus menyusut dengan sangat cepatnya dan sangat menghawatirkan
kondisi spesies hutan maupun pesisir. Hutan di Indonesia masih memiliki 12%
jumlah spesies binatang menyusui atau mamalia, 16% spesies binatang reptil dan
ampibi, 1.519 spesies burung dan 25% dari spesies ikan. Jumlah spesies tersebut
bahkan terus berkurang atau lenyap seiring dengan kondisi luas hutan yang terus
menyusut.
Aktivitas manusia
melakukan penebangan hutan yang terlalu cepat dan eksploitasi hutan untuk
industri serta pengalihan lahan hutan menjadi pemukiman dan pertanian. Dari
aspek ini, hutan menjadi gundul dan mengakibatkan semburan miliaran ton
partikel, gas karbondioksida serta klorofluorokarbon. Emisi karbon ini
ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaruhi,
seperti batu bara, gas, dan minyak bumi.
Kerusakan hutan khususnya di
Indonesia sebagai paru-paru dunia memiliki andil besar sebagai pemicu perubahan
iklim dan pemanasan global akibat dari menipisnya lapisan ozon.
Kondisi
lingkungan dengan dirusaknya hutan, pembakaran, illegal logging, lahan petanian
di sulap menjadi area industri dan perumahan. Telah
membawa dampak negatif seperti kekeringan dan pada musim penghujan akan
menyebabkan bencana banjir serta tanah longsor. Indonesia merupakan salah satu
negara yang sangat merasakan dampak kerusakan sistem cuaca. Perubahan iklim dan
terjadinya bencana yang bertubi-tubi akan mengancam ketersediaan sumber daya
alam. Kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan membawa akibat terhadap alam
lingkungannya. Pencemaran udara, tanah, dan air, yang terkadang membawa akibat
seperti tidak suburnya lahan pertanian, banjir dan tanah longsor.
Bukan penuan alam
Bukan penuan alam
Sudah
jelas diketahui bahwa kerusakan alam dan lingkungan hidup yang dasyat bukan di
sebabkan oleh penuaan alam itu sendiri tetapi justru diakibatkan oleh
tangan-tangan yang selalu berdalih memanfaatkannya, yang sesungguhnya sering
kali mengeksploitasi tanpa memperdulikan kerusakan lingkungan.
Dalam hal ini sesuai
dengan pandangan dunia baru perlu rekonstruksi non dikotomik yang menempatkan
kesadaran (mind) dan materi (matter) serta tidak terjadi pembedaan antara
subyek obyek, manusia, alam dan Tuhan. Maka diperlukan langkah-langkah
partisipatif untuk mencegah problem kondisi lingkungan dan sumber daya alam.
Dengan demikian
pembelajaran ekoeducation sangat di butuhkan, walaupun kenyataanya ecoeducation
merupakan pendidikan berwawasan lingkungan yang terintegrasikan dengan semangat
pentingnya pendidikan nilai berbasis agama. Hal ini sebagai upaya mewujudkan
tujuan pembagunan millenium (MGD) yang merupakan salah satu dari tujuan
tersebut yaitu memastikan keberlanjutan lingkungan hidup. Dengan
mensosialisasikan kepada masyarakat sadar dan peduli lingkungan serta
pelarangan penambangan, penebangan dan pembangunan pemukiman kawasan lindung.
Melakukan pemberantasan illegal logging dan juga melakukan rehabilitasi hutan.
Serta pemerintah harus mulai serius untuk tidak mengeluarkan izin yang terkait
dengan pengelolaan hutan terhadap pihak asing.
Ecoeducation merupakan
pebelajaran yang berorientasi kepada revitalisasi pendidikan yang selama ini
gagal menanamkan nilai-nilai lingkungan. Maka melalui ecoeducation diharapkan
terjadi penyadaran lingkungan dan semangat konservasi alam dan lingkungan. Hal
ini bisa dilakukan dengan mengalang penanaman pohon untuk setiap warga
masyarakat Indonesia. Serta melalui penataan daerah berbasis lingkungan, sebab
selama ini daerah-daerah rawan bencana terjadi akibat adanya pengalihan fungsi
dari lahan pertanian ke perindustrian dan hutan ke perumahan dan pertanian.
Membangun kembali daerah-daerah hutan tropis sebagai kawasan yang dilindungi
dan memberikan yang terbaik terhadap spesies penghuni hutan atau lingkungan.
Selama ini memang
bidang pendidikan menghadapi tantangan zaman global sebagai akibat dari dampak
krisis ekologi, dalam hal ini perlu adanya konstruksi paradigma baru pada arah
epistemologi. Format pendidikan yang sesuai kondisi di atas, perlu menyajkan
salah satu strategi dengan pembelajaran ekoeducation yang berbasis agama
sebagai sumber penanaman jiwa anak didik. Pembelajaran ekoeducation yaitu upaya
kegiatan belajar mengajar dengan mengintroduksi keanekaragaman hayati pada
setiap mata pelajaran dan penanaman nilai spiritualitas supaya tumbuh kesadaran
hubungan harmoni antara manusia, Tuhan dan alam.
Keeratan hubungan antara manusia dengan alam dan lingkunganya itu tercermin juga di dalam cara hidup mereka dalam mata pencaharian hidup. Cara pencaharian hidup masyarakat sederhananya biasanya memang amat ditentukan oleh alam dan lingkungannya. Misalnya; suatu kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, mereka otomatis sangat bergantung dari alam pegunungan dengan cara bertani, berternak, berkebun, dan berladang.
Keeratan hubungan antara manusia dengan alam dan lingkunganya itu tercermin juga di dalam cara hidup mereka dalam mata pencaharian hidup. Cara pencaharian hidup masyarakat sederhananya biasanya memang amat ditentukan oleh alam dan lingkungannya. Misalnya; suatu kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan, mereka otomatis sangat bergantung dari alam pegunungan dengan cara bertani, berternak, berkebun, dan berladang.
Kelompok
masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, meraka sangat bergantung dari kondisi
pesisir dengan cara melaut, pertambakan, dan sangat bergantung dari hasil laut
Pembelajaran ekoeducation juga perlu diberikan kepada setiap masyarakat, sebab masyarakat merupakan sistem sosial yang memiliki interaksi dan komunikasi langsung dengan lingkungan hidupnya. Masyarakat memiliki andil besar dalam melestarikan dan menjaga keseimbangan (equilibrium) lingkungan, karena masyarakat sebagai penghuni lingkungan hidup. Menjunjung tinggi kesadaran lingkungan adalah sebuah alternatif individu, dan akhirnya menuntut kesadaran kolektif
Pembelajaran ekoeducation juga perlu diberikan kepada setiap masyarakat, sebab masyarakat merupakan sistem sosial yang memiliki interaksi dan komunikasi langsung dengan lingkungan hidupnya. Masyarakat memiliki andil besar dalam melestarikan dan menjaga keseimbangan (equilibrium) lingkungan, karena masyarakat sebagai penghuni lingkungan hidup. Menjunjung tinggi kesadaran lingkungan adalah sebuah alternatif individu, dan akhirnya menuntut kesadaran kolektif
Peran masyarakat dalam
penyadaran lingkungan perlu di wujudkan melalui program yang terencana baik
secara organisatoris maupun personal, yaitu melalui pembelajaran ekoeducation
yang perlu di berikan kepada khalayak umum masyarakat di RT dan RW setempat.
Dengan memberikan pembelajaran ekoeducation kepada setiap penghuni rumah
tangga, mereka akan mendapatkan pengetahuan dan juga sikap yang sadar akan
lingkungan hidup. Melalui penyadaran itulah baik pemerintah ataupun masyarakat itu
sendiri akan tertanan nilai-nilai untuk menghargai lingkungan hidupnya.
Membangun suri tauladan, itulah yang dapat memberikan perhatian dengan
memperlakukan lingkungan hidup dengan penuh tanggung jawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
partisipasi pemikiran anda kami tunggu