Di abad ideologi ini banyak orang berbicara sesuatu mengatasnamakan Tuhan, tak terlebih hal tersebut sampai-sampai meremehkan esensi kemanusiaan,menghilangkan aksiologi atas pertimbangan moral, perpecahan di mana-mana, klaim kebenaran menjadi hak masing-masing kelompok dan tak terelakkan lagi darah persaudaraan pun menjadi taruhannya.
Berbicara tentang Tuhan sebenarnya bukan hal remeh dan sepele sebagaimana halnya pembicaraan yang mengotak-atik produk pemikiran tokoh dunia, terutama filsafat dengan nalar spekulatifnya (epistemologi), karena pertaruhannya adalah sakralitas keyakinan manusia sebagai junjungan terbesar dalam kepercayaan agama dunia, bukan saja satu dari sekian agama akan tetapi seluruh agama beserta keseluruhannya. Dalam catatan sejarah peradaban manusiapun pasti tidak pernah lepas dari yang namanya Tuhan, apalagi sang Tuhan biasanya menjadi substansi puncak pencarian jati diri setiap individu, bentuk pesimisme di atas kompleksitas problem kehidupan, juga sebagai tujuan tertinggi dari segala upaya besar yang dilakukan oleh manusia.
Tuhan itu adalah suatu pegangan absolut, yang mana keterbatasan manusia menjadi bukti eksistensinya, sehingga tidak pernah ada sesuatu apapun yang dipahami secara sempurna kecuali Tuhan itui sendiri. Namun Tuhan yang diagung-agungkan oleh manusia sepanjang peradabannya seakan-akan menjadi benalu atas kekejaman yang dilakukannya sendiri, term Tuhan bukan lagi sang dzat yang maha baik, maha suci, maha bijaksana dan lain sebagainya, tetapi sebagai legitimasi nilai-nilai palsu yang dengannya masing-masing kelompok saling serang dan menghancurkan. Itukah kebenaran atas nama Tuhan yang selalu dijunjung-junjung? Ataukah kekejian dibalik kekeliruian pemahaman atas interpretasi Tuhan sebagai dasar spirit perjuangan? Lalu apa standar kebenaran Tuhan? Perhitungan seperti apakah cara untuk memahaminya? Inilah pertanyaan yang mungkin menjadi Tugas besar bagi kita semua untuk menjawabnya.
Tema “Tuhan Membusuk” adalah wacana kritik dan penelanjangan atas kekeliruan pemahaman terkait Tuhan, terutama kelompok yang hanya mendasarkan pemahamannya kepada teks-teks keagamaan semata. Kritik terhadap pendekatan normatif di sini bukan dalam artian secara substansial pendekatan tersebut keliru, akan tetapi metodelogi pendekatan normatif terhadap teks memerlukan pra-syarat tertentu, karena teks-teks keagamaan tidaka lahir dari kontemplasi dan refleksi belaka, namun juga dilatar belakangi oleh sosio-kultural, politik dan letak geografis pada dasawarsa tertentu. Hal ini diharapkan untuk menghindari interpretasi mentah pada teks, karena tidak sedikit orang mengidentikkan kebenaran dengan yang namanya teks, mengikuti alur serta pola pemecahan masalah dalam menghadapi sesuatu secara persis dama dengan teks, meskipun konteks permasalahannya secara esensial jelas berbeda. Ketika metode yang seperti ini dipaksakan, maka yang terjadi bukanlah pemecahan masalah tepat sasaran, tetapi malah penindasan, perpecahan, diskriminasi dan lain sebagainya.
Terminologi “Tuhan Membusuk” di sini buka dalam artian makna Tuhan secara substantif dan esensial. Tapi, hanya sebuah analogi tentang persepsi dan gambaran wujud Tuhan yang dimaterilkan oleh manusia atau kelompok-kelompok tertentu. Berdasarkan sumber yang dijelaskan oleh pihak yang ikut terlibat dalam kajian ini, dijelaskan bahwa, ada suatu kata tersimpan (dhamir mustatir: Arab) pada tema “Tuhan Membusuk”, kira-kira menjadi “Tuhan akan Membusuk”. Interpretasinya adalah, bahwa konteks realita masa kini (modern), memberikan suatu pesan simbol terhadap nasib masa depan Tuhan yang sudah tidak punya nilai jual di mata manusia. Sebagaimana kondisi yang terjadi saat ini, spirit dasar agama yang seharusnya mengarahkan manusia kesana-kemari, tergantikan oleh spirit materialistik yang dianggap lebih menjamin. Manusia sudah terperangkap pada fetishisme (istilah Aristoteles, atau pemberhalaan sesuatu selain Tuhan dalam pandangan mistika agama). Kondisi dan situasi yang seperti ini sepertinya menjadi tidak terbendung lagi. Apalagi, di zaman yang semakin kompleks di bawah arus neoliberalisme dan sistem global. Mindset dan kesadaran inilah yang mungkin serasa sangat perlu di refleksikan oleh para penganut umat beragama pada umumnya. Kekhawatirannya tidak terletak pada eksis dan tidaknya Tuhan, kerena bagaimanapun Tuhan tidak akan pernah mati. Akan tetapi, pada posisi dimana-nilai kemanusiaan menjadi tidak berarti akibat membusuknya spirit keluhuran yang maha Luhur. Ada beberapa poin penting kenapa tema ini dibuat dengan bahasa yang provokatif, disertai emosi dan konotasi yang jelas kurang nyaman dan bahkan mungkin terbilang tidak etis bagi kalangan umat beragama. Maksudnya tidak lain hanya untuk menyampaikan pesan simbolik pada banyak orang, bahwa banyak manusia sudah tidak kenal jati dirinya, mereka sibuk beragama tapi lupa ber-Tuhan. Sibuk mengukur dan merenungkan, bahkan menghakimi aqidah orang lain, sehingga lupa dan lalai letak dimensi dirinya.
Dari ketidak selarasan pola mental dan sikap yang seperti itulah manusia mulai kehilangan tiga hal, yaitu; 1. Disidentifikasi, tentang yang primer, sekunder, hak Tuhan dan kewajiban hamba. 2. Disposisi, tentang persamaan, perbedaan, esensi atas dan substansi bawah. Dan, 3. Disorientasi, apa komitmen tujuannya, keluhuran cita-citanya dan garis lurus tauhidnya. Hampir-hampir semuanya dipahami secara meleset. Jika realitanya seperti ini, maka bagaimana mungkin kemembusukan itu tidak akan terjadi?. Dari pesan spritual tema, kita mencoba beranjak ke analisa pendekatan historis terkait wacana ini.
Dalam sejarah teologi dan pemikiran Islam, kita pastilah pernah mendengar salah satu golongan yang bernama Khawarij, golongan ini adalah sekelompok orang yang pada mulanya berjuang dipihak ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertempuran Shiffin. Namun mereka merasa tidak puas terhadap putusan (tahkim) yang disepakati ‘Ali ibn Abi Thalib dan Mu’awiyah, mereka akhirnya keluar dari pasukan ‘Ali, bahkan menentang ‘Ali dengan sangat keras, juga berpendapat bahwa ‘Ali dan Muawiyah telah melanggar hukum Allah dan mengklaim kafir mereka karena arbitrasenya tidak sesuai dengan hukum yang ada dalam al-Quran (al-Milal wa al-Nihal). Apa yang kemudian melatar belakangi cara sikap mereka (Khawarij) yang seperti itu? Ada hal yang perlu diketahui tentang mereka,bahwa kaum Khawarij adalah orang-orang suku pedalaman Arab yang dilihat dari letak geografisnya berada pada suatu wilayah yang gersang dan tandus, yaitu di wilayah gurun. Kondisi yang seperti itu secara tidak langsung sangat berpengaruh besar pada cara berpikir mereka yang dangkal dan cara sikap yang kaku dan keras, hingga akhirnya terbawa pada aspek psikologi keagamaan mereka. Pemahaman mereka tentang keagamaan yang dangkal dan cara Sikap mereka yang frontal pada akhirnya berujung pada pembunuhan ‘Ali ibn Abi Thalib yang dilakukan oleh salah seorang khawarij yang bernama Abdurrahman ibn Muljam. Di sini penulis tidak bermaksud untuk berbicara sejarah masa lampau yang sudah usang dimakan zaman. Namun penulis lebih menitik tekankan pada relevansi fenomenanya dengan realita yang terjadi saat ini, yang kemudian menjadi poin penting bagi gambaran anarkisme dan apatisme dalam agama, akibat pergeseran nilai.
Wallaahu a’lam
Kritik dan sarannya ditungg
Rabu, 17 Desember 2014
TEMA "TUHAN MEMBUSUK" SEBAGAI WACANA KRITIK SOSIAL
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
partisipasi pemikiran anda kami tunggu