Kamis, 18 Desember 2014

PENGERTIAN, SEJARAH, DAN TUJUAN ORIENTALIS


A.    Pengertian Orientalis dan Orientalisme
1.      Orientalisme
Orientalis/Orientalisme menurut segi bahasa berasal dari kata orient yang berarti timur, dengan demikian orientalis berarti hal-hal yang berhubungan dengan masalah ketimuran/dunia timur[1]. Kata Orientalisme adalah kata yang dilabelkan kepada sebuah studi/penelitian yang dilakukan selain orang timur terhadap berbagai disiplin ilmu ketimuran, baik dalam bidang bahasa, agama, sejarah, dan permasalahan-permasalahan sosio-kultural bangsa timur[2].
Menurut H.M. Yoesoef Sou’yb orientalisme berasal dari kata orient  dalam bahasa Prancis yang secara etnologis berarti bangsa-bangsa timur. Dan kata ini memasuki berbagai bahasa di eropa temasuk bahasa inggris, oriental adalah sebuah kata sifat yang berarti hal-hal yang bersifat timur yang sangat sangat luas ruang lingkupnya. Suku kata isme (belanda) atau ism (inggris) menunjukkan pengertian tentang suatu paham. Jadi orientalisme adalah suatu paham atau penelitian studi yang mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungan dan peradabannya[3].
Prof. Tk. H. Ismail jakub, S.H. M.A : orientalisme terdiri dari kata oriental dan isme. Oriental artinya bersifat timur, dan isme adalah kata sambung yang menunjukkan suatu paham, ajaran, cita-cita, cara, sistem, atau sikap. Maka orientalisme dapat diartikan ajaran atau paham yang bersifat Timur[4]
2.      Orientalis
Orientalis adalah sekelompok atau golongan yang berasal dari bangsa-bangsa barat (eropa) yang berkonsentrasi atau memfokuskan diri dalam mempelajari kajian ketimuran, khususnya dalam hal keilmuan, peradaban dan agama, terutama pada Negara Arab, Cina dan India.
Secara sederhana kata orientalis bisa diartikan “seorang yang melakukan kajian tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari sastra, bahasa sejarah antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama dengan menggunakan paradigma konklusi yang distortif tentang objek kajian yang dimaksud.
B.     Sejarah Orientalis
Tidak diketahui secara pasti kapan mulai munculnya orientalis, tetapi bisa diperkirakan bahwa orientalis muncul pada saat umat muslim mencapai puncak kegemilangan prestasi peradabannya khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Banyak orang-orang barat yang belajar pada ulama dan cendekiawan muslim pada saat itu terutama di wilayah Kepulauan Laut Putih (Andalusia) dan Sicilia daerah Eropa yang menjadi wilayah kekuasaan umat muslim. Dan banyak diantara mereka adalah pendeta-pendeta agama Nashrani dan Yahudi. Mereka adalah :
1.    Pendeta Gerbert, dia terpilih sebagai pemimpin gereja roma pada tahun 999 M. selepas belajar di berbagai perguruan tinggi di Andalusia (Spanyol)
2.    Pendeta Petrus (1092-1156)
3.    Pendeta Gerrardi Krimon (1114-1187 M.)
Setelah kembali kenegaranya, meraka mengajarkan kepada masyarakat Eropa dan menyebarkan kebudayaan Arab serta menterjemahkan buku-buku karya ulama-ulama muslim.
Mereka merasa bahwa Islam adalah pembelot dari agama mereka dan juga suatu ancaman bagi agama masehi sendiri. Maka dari itu mereka berusaha untuk mempelajari islam guna untuk menghancurkan dan melemahkannya. Mereka berusaha dengan gigih untuk mengetahui tentang seluk-beluk islam lebih mendalam dengan tujuan untuk menghancurkan islam dari dalam. Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa sejarah orientalisme pada fase awal adalah sejarah tentang pergulatan dan pertarungan agama dan ideologi antara bangsa barat yang diwakili oleh agama Nashrani dan Yahudi dengan bangsa timur yang diwakili oleh para penganut agama Islam. Menurut R.W. Southern “Islam merupakan problema masa depan dunia Barat Nasrani secara keseluruhan di Eropa”.[5]
Disamping hal diatas pecahnya Perang Salib (The Crusades) antara umat Islam dan umat Nashrani secara khusus menjadi sebab pemicu bagi orang-orang Eropa untuk melakukan kajian terhadap dunia Islam. Perang salib adalah suatu tragedi dhsyat yang tak pernah dilupakan oleh siapapun. Perang antara dua kekuatan besar yakni islam dan kristen dengan delapan gelombang penyerbuan terhadap umat islam selama hampir dua abad (1096-1270 M), dan berahir dengan kekalahan dan kehancuran kekuatan Dunia Barat (Kristen) sehinnga menyebabkan kemarahan besar dan dendam yang membara bagi bangsa-bangsa barat untuk menghancurkan Islam.
Gerakan orientalis tumbuh secara pesat pasca Perang Salib. Orientalis adalah satu bentuk invasi intelektual yang bermuara dari sebab-sebab keagamaan. Dunia barat yang terdiri dari ahlul kitab (Nasrani dan Yahudi), setelah reformasi keagamaan membutuhkan pandangan ulang terhadap ajaran dan kitab-kitab keagamaan mereka. Untuk itu mereka mulai mengadakan studi tentang bahasa Arab dan Islam. Mereka memanfaatkan apa saja dari karya-karya muslim. Dari kajian tentang islam, Orientalisme kemudian berkembang menjadi kajian-kajian tentang kondisi ekonomi, politik dan lain-lain, dengan tetap pada prinsip utama dan sebagai prolog kristenisasi dengan tujuan-tujuannya.
Kegiatan penyelidikan tantang dunia timur oleh para orientalis telah berlangsung selama berabad-abad secara sporadis. Tetapi baru menunjukkan intensitasnya yang luar biasa sejak abad XIX M. Penyelidikan bermula secara terpisah mengenai masing-masing agama itu. Max Muller (1823-1900 M.) pada akhirnya menjelang abad XIX M. Menyalin seluruh kitab yang dipandang suci oleh masing-masing agama timur kedalam bahasa Inggris, terdiri dari 51 jilid tebal, berjudul The Sacred Books Of The East (Kitab-Kitab Suci Dari Dunia Timur) yang biasanya disingkat dengan SBE. Berkat cara Max Muller membahas masing-masing agama itu mengikuti bunyi dan isi masing-masing kitab suci hingga mendekati objektivitas, dan hal itu sangat berbeda dengan cara para orientalis pada masa sebelumnya maupun pada masanya sendiri. Karena itu ia dipandang sebagai pembangun sebuah disiplin ilmu yang baru, yang dikenal dengan comparative religions (perbandingan agama-agama)[6].
Pada tahun 1873 digelar muktamar orientalis pertama di Paris. Muktamar serupa terus diselenggarakan sebagai wadah pertemuan para oreintalis dan wadah pengkajiania tiur atau isu-isu terhangat mengenai dunia timurbaik dari sisi perkembangan keagamaan maupun peradaban dunia timur[7].
C.    Tujuan Orientalis
Sebagaimana yang telah kami jelaskan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwa tujuan para orientalis mempelajari semua hal tentang semua hal yang berkaitan dengan dunia timur islam hususnya yakni untuk melemahkan dan menghancurkan islam dari dalam melalui para pemeluknya sendiri.
Diantara tujuan pokok gerakan orientalisme selain yang telah kami paparkan diatas ialah sebagai berikut :
1.    Memurtadkan kaum muslim dari agamanya sendiri, dengan cara memutus dan memecah belah persatuan umat kepada kelompok-kelompok atau golongan yang saling membenci satu sama lain
2.    Melemahkan rohani umat islam dan menciptakan perasaan selalu kekurangan dalam jiwanya, dan kemudian membawa mereka kepada sikap pasrahdan tunduk kepada kehendak serta arahan orang-orang Barat.
3.    Mendistorsi ajaran islam dengan cara menutup-nutupi kebaikan dan kebenaran  ajarannya, supaya masyarakat awam menganggap bahwa islam sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Oleh karenanya sudah tidak layak untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslim.
Hal ini adalah sesuatu yang paling berbahaya yang selalu dipropaganda dan dikumandangkan oleh para orientalis dan missionaris. Padahal sejarah membuktikan bahwa bagaimana perlakuan baik yang ditunjukkan kaum muslim dan sikap toleransinya terhadap non muslim pada ahir perang Salib sekembalinya para tentara Salib ke Eropa.
4.    Mendukung segala bentuk penjajahan terhadap negara-negara islam dan melaksanakan segala bentuk perlawanan terhadap islam itu sendiri.
5.    Memisahkan kaum muslim dari akar-akar kebudayaan islam mereka yang kuat dengan cara memutarbalikkan pokok-pokok ajarannya dan mencabutnya dari sumber-sumbernya yang asli serta menghancurkan nilai-nilai dasarnya untuk menghancurkan keberlangsungan individu, masyarakat, jiwa dan akal pikiran kaum muslim.

BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpiulan
    Orientalis adalah gerakan yang timbul akibat gesekan antara dunia Barat dan Timur lebih mengerucut lagi yakni perang ideologi dan peradaban antara umat Islam dan Kristen. Gerakan ini muncul sudah sejak lama tetapi baru menampkkan dirinya (secara terorganisir) pasca kekalahan bangsa barat oleh islam pada Perang Salib.
     Awal mulanya para pelajar barat belajar berbagai disiplin kilmu kepada ulama dan cendikiawan muslim. Kemudian setelah mereka kembali kenegaranya mereka mengajarkan apa yang telah mereka dapat dari dunia islam, dan meraka berusaha untuk membangkitkan peradaban mereka kembali yang pada saat itu dalam keadaan suram karena terkungkung oleh otoritas gereja. Selebihnya setelah mereka berhasil membangun peradabannya mereka berusaha untuk meruntuhkan islam. Gerakan ini bertujuan menghancurkan islam dari dalam, yakni menggerogoti pemahaman para pemeluk islam terhadap nilai-nilai dasar islam itu sendiri melalui berbagai macam cara. Mereka meniupkan virus-virus keraguan terhadap semua doktrin fundamental islam terhadap pemeluknya. Tidak hanya itu saja tetapi mereka juga mengatakan bahwa islam sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman sehingga sudah tidak bisa diterapkan lagi. Dengan upaya itu mereka bermaksud untuk mengahncurkan islam melalui media pemeluknya sendiri yang telah meninggalkan nilai-nilai islam sehingga ahirnya mereka yang mengaku islam tidak tahu dan tidak mengerti akan islam hakikat keislamannya sendiri.
     Bagi mereka islam adalah suatu ancaman bagi  masa depan dunia barat dan mereka juga beranggapan bahwa islam adalah kelompok/aliran theology yang membelot dairi agama mereka (Nasrani).
B.       Saran-saran
     Kami sebagai pemakalah menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan pada makalah yang kami buat ini. Maka dari itu kami mengharap saran dan kritik terutama dari bpk. Dosen pengampu dan segenap mahasiswa/i demi hasil yang lebih maksimal dan memuaskan pada tugas-tugas baik dalam mata pelajaran yang sama atau yang lainnya di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Hamim Thoha, Islam dan NU Dibawah Tekanan Problematika Kontemporer, Diantama Surabaya, 2004.
Abdul Rouf Hasan M. el-Badawiy, Abdurrahman Ghirrah, Orientalisme Dan Missionarisme, Menelikung Pola Pikir Umat Islam, Dialektika Kehidupan Politik, Agama, Pendidikan Dan Sosial Masyarakat Muslim,  PT Rosdakarya, Bandung, 2008.
Buchari Mannan, Menyingkap Tabir Orientalisme, Amzah, Jakarta, 2006.

[1]Di kutip dari Longman dictionary of English. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.
[2] Al Ummah, Dr. Moh zaqzuq Orientalisme Dan Kemunduran Berpikir Mengahadapi Pergulatan Peradaban, hal 18, 1404
[3] Di kutip dari H.M. Joesoef Sou’yb, Orientalis dan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1985, hlm. 1. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.
[4] Di kutip dari Tk. H. Ismail Jakub, Orientalisme dan Orientalisten, Faizan, Surabaya, 1970, hal. 11. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.  
[5] Dr. Mahmoud Hadi Zaqzuq, Al-Istisyroq wal khalfiah lis shira’ Al-Hadiry, Dar El-Manar, hlm. 28. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.
[6] Buchari mannan, menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006. hlm. 10-11.
[7] Ajnihatul mukr ats tsalatsah, hal. 89-90

Rabu, 17 Desember 2014

TEMA "TUHAN MEMBUSUK" SEBAGAI WACANA KRITIK SOSIAL


Di abad ideologi ini banyak orang berbicara sesuatu mengatasnamakan Tuhan, tak terlebih hal tersebut sampai-sampai meremehkan esensi kemanusiaan,menghilangkan aksiologi atas pertimbangan moral, perpecahan di mana-mana, klaim kebenaran menjadi hak masing-masing kelompok dan tak terelakkan lagi darah persaudaraan pun menjadi taruhannya.
Berbicara tentang Tuhan sebenarnya bukan hal remeh dan sepele sebagaimana halnya pembicaraan yang mengotak-atik produk pemikiran tokoh dunia, terutama filsafat dengan nalar spekulatifnya (epistemologi), karena pertaruhannya adalah sakralitas keyakinan manusia sebagai junjungan terbesar dalam kepercayaan agama dunia, bukan saja satu dari sekian agama akan tetapi seluruh agama beserta keseluruhannya. Dalam catatan sejarah peradaban manusiapun pasti tidak pernah lepas dari yang namanya Tuhan, apalagi sang Tuhan biasanya menjadi substansi puncak pencarian jati diri setiap individu, bentuk pesimisme di atas kompleksitas problem kehidupan, juga sebagai tujuan tertinggi dari segala upaya besar yang dilakukan oleh manusia.
Tuhan itu adalah suatu pegangan absolut, yang mana keterbatasan manusia menjadi bukti eksistensinya, sehingga tidak pernah ada sesuatu apapun yang dipahami secara sempurna kecuali Tuhan itui sendiri. Namun Tuhan yang diagung-agungkan oleh manusia sepanjang peradabannya seakan-akan menjadi benalu atas kekejaman yang dilakukannya sendiri, term Tuhan bukan lagi sang dzat yang maha baik, maha suci, maha bijaksana dan lain sebagainya, tetapi sebagai legitimasi nilai-nilai palsu yang dengannya masing-masing kelompok saling serang dan menghancurkan. Itukah kebenaran atas nama Tuhan yang selalu dijunjung-junjung? Ataukah kekejian dibalik kekeliruian pemahaman atas interpretasi Tuhan sebagai dasar spirit perjuangan? Lalu apa standar kebenaran Tuhan? Perhitungan seperti apakah cara untuk memahaminya? Inilah pertanyaan yang mungkin menjadi Tugas besar bagi kita semua untuk menjawabnya.
Tema “Tuhan Membusuk”  adalah wacana kritik dan penelanjangan atas kekeliruan pemahaman terkait Tuhan, terutama kelompok yang hanya mendasarkan pemahamannya kepada teks-teks keagamaan semata. Kritik terhadap pendekatan normatif di sini bukan dalam artian secara substansial pendekatan tersebut keliru, akan tetapi metodelogi pendekatan normatif terhadap teks memerlukan pra-syarat tertentu, karena teks-teks keagamaan tidaka lahir dari kontemplasi dan refleksi belaka, namun juga dilatar belakangi oleh sosio-kultural, politik dan letak geografis pada dasawarsa tertentu. Hal ini diharapkan untuk menghindari interpretasi mentah pada teks, karena tidak sedikit orang mengidentikkan kebenaran dengan yang namanya teks, mengikuti alur serta pola pemecahan masalah dalam menghadapi sesuatu secara persis dama dengan teks, meskipun konteks permasalahannya secara esensial jelas berbeda. Ketika metode yang seperti ini dipaksakan, maka yang terjadi bukanlah pemecahan masalah tepat sasaran, tetapi malah penindasan, perpecahan, diskriminasi dan lain sebagainya.
Terminologi “Tuhan Membusuk” di sini buka dalam artian makna Tuhan secara substantif dan esensial. Tapi, hanya sebuah analogi tentang persepsi dan gambaran wujud Tuhan yang dimaterilkan oleh manusia atau kelompok-kelompok tertentu. Berdasarkan sumber yang dijelaskan oleh pihak yang ikut terlibat dalam kajian ini, dijelaskan bahwa, ada suatu kata  tersimpan (dhamir mustatir: Arab) pada tema “Tuhan Membusuk”, kira-kira menjadi “Tuhan akan Membusuk”. Interpretasinya adalah, bahwa konteks realita masa kini (modern), memberikan suatu pesan simbol terhadap nasib masa depan Tuhan yang sudah tidak punya nilai jual di mata manusia. Sebagaimana kondisi yang terjadi saat ini, spirit dasar agama yang seharusnya mengarahkan manusia kesana-kemari, tergantikan oleh spirit materialistik yang dianggap lebih menjamin. Manusia sudah terperangkap pada fetishisme (istilah Aristoteles, atau pemberhalaan sesuatu selain Tuhan dalam pandangan mistika agama). Kondisi dan situasi yang seperti ini sepertinya menjadi tidak terbendung lagi. Apalagi, di zaman yang semakin kompleks di bawah arus neoliberalisme dan sistem global. Mindset dan kesadaran inilah yang mungkin serasa sangat perlu di refleksikan oleh para penganut umat beragama pada umumnya. Kekhawatirannya tidak terletak pada eksis dan tidaknya Tuhan, kerena bagaimanapun Tuhan tidak akan pernah mati. Akan tetapi,  pada posisi dimana-nilai kemanusiaan menjadi tidak berarti akibat membusuknya spirit keluhuran yang maha Luhur. Ada beberapa poin penting kenapa tema ini dibuat dengan bahasa yang provokatif, disertai emosi dan konotasi yang jelas kurang nyaman dan bahkan mungkin terbilang tidak etis bagi kalangan umat beragama. Maksudnya tidak lain hanya untuk menyampaikan pesan simbolik pada banyak orang, bahwa banyak manusia sudah tidak kenal jati dirinya, mereka sibuk beragama tapi lupa ber-Tuhan. Sibuk mengukur dan merenungkan, bahkan menghakimi aqidah orang lain, sehingga lupa dan lalai letak dimensi dirinya.
Dari ketidak selarasan pola mental dan sikap yang seperti itulah manusia mulai kehilangan tiga hal, yaitu; 1. Disidentifikasi, tentang yang primer, sekunder, hak Tuhan dan kewajiban hamba. 2. Disposisi, tentang persamaan, perbedaan, esensi atas dan substansi bawah. Dan, 3. Disorientasi, apa komitmen tujuannya, keluhuran cita-citanya dan garis lurus tauhidnya. Hampir-hampir semuanya dipahami secara meleset. Jika realitanya seperti ini, maka bagaimana mungkin kemembusukan itu tidak akan terjadi?. Dari pesan spritual tema, kita mencoba beranjak ke analisa pendekatan historis terkait wacana ini.
Dalam sejarah teologi dan pemikiran Islam, kita pastilah pernah mendengar salah satu golongan yang bernama Khawarij, golongan ini adalah sekelompok orang yang pada mulanya berjuang dipihak ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertempuran Shiffin. Namun mereka merasa tidak puas terhadap putusan (tahkim) yang disepakati ‘Ali ibn Abi Thalib dan Mu’awiyah, mereka akhirnya keluar dari pasukan ‘Ali, bahkan menentang ‘Ali dengan sangat keras, juga berpendapat bahwa ‘Ali dan Muawiyah telah melanggar hukum Allah dan mengklaim kafir mereka karena arbitrasenya tidak sesuai dengan hukum yang ada dalam al-Quran (al-Milal wa al-Nihal). Apa yang kemudian melatar belakangi cara sikap mereka (Khawarij) yang seperti itu? Ada hal yang perlu diketahui tentang mereka,bahwa kaum Khawarij adalah orang-orang suku pedalaman Arab yang dilihat dari letak geografisnya berada pada suatu wilayah yang gersang dan tandus, yaitu di wilayah gurun. Kondisi yang seperti itu secara tidak langsung sangat berpengaruh besar pada cara berpikir mereka yang dangkal dan cara sikap yang kaku dan keras, hingga akhirnya terbawa pada aspek psikologi keagamaan mereka. Pemahaman mereka tentang keagamaan yang dangkal dan  cara Sikap mereka yang frontal pada akhirnya berujung pada pembunuhan ‘Ali ibn Abi Thalib yang dilakukan oleh salah seorang khawarij yang bernama Abdurrahman ibn Muljam. Di sini penulis tidak bermaksud untuk berbicara sejarah masa lampau yang sudah usang dimakan zaman. Namun penulis lebih menitik tekankan pada relevansi fenomenanya dengan realita yang terjadi saat ini, yang kemudian menjadi poin penting bagi gambaran anarkisme dan apatisme dalam agama, akibat pergeseran nilai.
Wallaahu a’lam
Kritik dan sarannya ditungg