Kamis, 18 Desember 2014

PENGERTIAN, SEJARAH, DAN TUJUAN ORIENTALIS


A.    Pengertian Orientalis dan Orientalisme
1.      Orientalisme
Orientalis/Orientalisme menurut segi bahasa berasal dari kata orient yang berarti timur, dengan demikian orientalis berarti hal-hal yang berhubungan dengan masalah ketimuran/dunia timur[1]. Kata Orientalisme adalah kata yang dilabelkan kepada sebuah studi/penelitian yang dilakukan selain orang timur terhadap berbagai disiplin ilmu ketimuran, baik dalam bidang bahasa, agama, sejarah, dan permasalahan-permasalahan sosio-kultural bangsa timur[2].
Menurut H.M. Yoesoef Sou’yb orientalisme berasal dari kata orient  dalam bahasa Prancis yang secara etnologis berarti bangsa-bangsa timur. Dan kata ini memasuki berbagai bahasa di eropa temasuk bahasa inggris, oriental adalah sebuah kata sifat yang berarti hal-hal yang bersifat timur yang sangat sangat luas ruang lingkupnya. Suku kata isme (belanda) atau ism (inggris) menunjukkan pengertian tentang suatu paham. Jadi orientalisme adalah suatu paham atau penelitian studi yang mempelajari dan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa timur beserta lingkungan dan peradabannya[3].
Prof. Tk. H. Ismail jakub, S.H. M.A : orientalisme terdiri dari kata oriental dan isme. Oriental artinya bersifat timur, dan isme adalah kata sambung yang menunjukkan suatu paham, ajaran, cita-cita, cara, sistem, atau sikap. Maka orientalisme dapat diartikan ajaran atau paham yang bersifat Timur[4]
2.      Orientalis
Orientalis adalah sekelompok atau golongan yang berasal dari bangsa-bangsa barat (eropa) yang berkonsentrasi atau memfokuskan diri dalam mempelajari kajian ketimuran, khususnya dalam hal keilmuan, peradaban dan agama, terutama pada Negara Arab, Cina dan India.
Secara sederhana kata orientalis bisa diartikan “seorang yang melakukan kajian tentang masalah-masalah ketimuran, mulai dari sastra, bahasa sejarah antropologi, sosiologi, psikologi sampai agama dengan menggunakan paradigma konklusi yang distortif tentang objek kajian yang dimaksud.
B.     Sejarah Orientalis
Tidak diketahui secara pasti kapan mulai munculnya orientalis, tetapi bisa diperkirakan bahwa orientalis muncul pada saat umat muslim mencapai puncak kegemilangan prestasi peradabannya khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Banyak orang-orang barat yang belajar pada ulama dan cendekiawan muslim pada saat itu terutama di wilayah Kepulauan Laut Putih (Andalusia) dan Sicilia daerah Eropa yang menjadi wilayah kekuasaan umat muslim. Dan banyak diantara mereka adalah pendeta-pendeta agama Nashrani dan Yahudi. Mereka adalah :
1.    Pendeta Gerbert, dia terpilih sebagai pemimpin gereja roma pada tahun 999 M. selepas belajar di berbagai perguruan tinggi di Andalusia (Spanyol)
2.    Pendeta Petrus (1092-1156)
3.    Pendeta Gerrardi Krimon (1114-1187 M.)
Setelah kembali kenegaranya, meraka mengajarkan kepada masyarakat Eropa dan menyebarkan kebudayaan Arab serta menterjemahkan buku-buku karya ulama-ulama muslim.
Mereka merasa bahwa Islam adalah pembelot dari agama mereka dan juga suatu ancaman bagi agama masehi sendiri. Maka dari itu mereka berusaha untuk mempelajari islam guna untuk menghancurkan dan melemahkannya. Mereka berusaha dengan gigih untuk mengetahui tentang seluk-beluk islam lebih mendalam dengan tujuan untuk menghancurkan islam dari dalam. Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa sejarah orientalisme pada fase awal adalah sejarah tentang pergulatan dan pertarungan agama dan ideologi antara bangsa barat yang diwakili oleh agama Nashrani dan Yahudi dengan bangsa timur yang diwakili oleh para penganut agama Islam. Menurut R.W. Southern “Islam merupakan problema masa depan dunia Barat Nasrani secara keseluruhan di Eropa”.[5]
Disamping hal diatas pecahnya Perang Salib (The Crusades) antara umat Islam dan umat Nashrani secara khusus menjadi sebab pemicu bagi orang-orang Eropa untuk melakukan kajian terhadap dunia Islam. Perang salib adalah suatu tragedi dhsyat yang tak pernah dilupakan oleh siapapun. Perang antara dua kekuatan besar yakni islam dan kristen dengan delapan gelombang penyerbuan terhadap umat islam selama hampir dua abad (1096-1270 M), dan berahir dengan kekalahan dan kehancuran kekuatan Dunia Barat (Kristen) sehinnga menyebabkan kemarahan besar dan dendam yang membara bagi bangsa-bangsa barat untuk menghancurkan Islam.
Gerakan orientalis tumbuh secara pesat pasca Perang Salib. Orientalis adalah satu bentuk invasi intelektual yang bermuara dari sebab-sebab keagamaan. Dunia barat yang terdiri dari ahlul kitab (Nasrani dan Yahudi), setelah reformasi keagamaan membutuhkan pandangan ulang terhadap ajaran dan kitab-kitab keagamaan mereka. Untuk itu mereka mulai mengadakan studi tentang bahasa Arab dan Islam. Mereka memanfaatkan apa saja dari karya-karya muslim. Dari kajian tentang islam, Orientalisme kemudian berkembang menjadi kajian-kajian tentang kondisi ekonomi, politik dan lain-lain, dengan tetap pada prinsip utama dan sebagai prolog kristenisasi dengan tujuan-tujuannya.
Kegiatan penyelidikan tantang dunia timur oleh para orientalis telah berlangsung selama berabad-abad secara sporadis. Tetapi baru menunjukkan intensitasnya yang luar biasa sejak abad XIX M. Penyelidikan bermula secara terpisah mengenai masing-masing agama itu. Max Muller (1823-1900 M.) pada akhirnya menjelang abad XIX M. Menyalin seluruh kitab yang dipandang suci oleh masing-masing agama timur kedalam bahasa Inggris, terdiri dari 51 jilid tebal, berjudul The Sacred Books Of The East (Kitab-Kitab Suci Dari Dunia Timur) yang biasanya disingkat dengan SBE. Berkat cara Max Muller membahas masing-masing agama itu mengikuti bunyi dan isi masing-masing kitab suci hingga mendekati objektivitas, dan hal itu sangat berbeda dengan cara para orientalis pada masa sebelumnya maupun pada masanya sendiri. Karena itu ia dipandang sebagai pembangun sebuah disiplin ilmu yang baru, yang dikenal dengan comparative religions (perbandingan agama-agama)[6].
Pada tahun 1873 digelar muktamar orientalis pertama di Paris. Muktamar serupa terus diselenggarakan sebagai wadah pertemuan para oreintalis dan wadah pengkajiania tiur atau isu-isu terhangat mengenai dunia timurbaik dari sisi perkembangan keagamaan maupun peradaban dunia timur[7].
C.    Tujuan Orientalis
Sebagaimana yang telah kami jelaskan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya bahwa tujuan para orientalis mempelajari semua hal tentang semua hal yang berkaitan dengan dunia timur islam hususnya yakni untuk melemahkan dan menghancurkan islam dari dalam melalui para pemeluknya sendiri.
Diantara tujuan pokok gerakan orientalisme selain yang telah kami paparkan diatas ialah sebagai berikut :
1.    Memurtadkan kaum muslim dari agamanya sendiri, dengan cara memutus dan memecah belah persatuan umat kepada kelompok-kelompok atau golongan yang saling membenci satu sama lain
2.    Melemahkan rohani umat islam dan menciptakan perasaan selalu kekurangan dalam jiwanya, dan kemudian membawa mereka kepada sikap pasrahdan tunduk kepada kehendak serta arahan orang-orang Barat.
3.    Mendistorsi ajaran islam dengan cara menutup-nutupi kebaikan dan kebenaran  ajarannya, supaya masyarakat awam menganggap bahwa islam sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Oleh karenanya sudah tidak layak untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslim.
Hal ini adalah sesuatu yang paling berbahaya yang selalu dipropaganda dan dikumandangkan oleh para orientalis dan missionaris. Padahal sejarah membuktikan bahwa bagaimana perlakuan baik yang ditunjukkan kaum muslim dan sikap toleransinya terhadap non muslim pada ahir perang Salib sekembalinya para tentara Salib ke Eropa.
4.    Mendukung segala bentuk penjajahan terhadap negara-negara islam dan melaksanakan segala bentuk perlawanan terhadap islam itu sendiri.
5.    Memisahkan kaum muslim dari akar-akar kebudayaan islam mereka yang kuat dengan cara memutarbalikkan pokok-pokok ajarannya dan mencabutnya dari sumber-sumbernya yang asli serta menghancurkan nilai-nilai dasarnya untuk menghancurkan keberlangsungan individu, masyarakat, jiwa dan akal pikiran kaum muslim.

BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpiulan
    Orientalis adalah gerakan yang timbul akibat gesekan antara dunia Barat dan Timur lebih mengerucut lagi yakni perang ideologi dan peradaban antara umat Islam dan Kristen. Gerakan ini muncul sudah sejak lama tetapi baru menampkkan dirinya (secara terorganisir) pasca kekalahan bangsa barat oleh islam pada Perang Salib.
     Awal mulanya para pelajar barat belajar berbagai disiplin kilmu kepada ulama dan cendikiawan muslim. Kemudian setelah mereka kembali kenegaranya mereka mengajarkan apa yang telah mereka dapat dari dunia islam, dan meraka berusaha untuk membangkitkan peradaban mereka kembali yang pada saat itu dalam keadaan suram karena terkungkung oleh otoritas gereja. Selebihnya setelah mereka berhasil membangun peradabannya mereka berusaha untuk meruntuhkan islam. Gerakan ini bertujuan menghancurkan islam dari dalam, yakni menggerogoti pemahaman para pemeluk islam terhadap nilai-nilai dasar islam itu sendiri melalui berbagai macam cara. Mereka meniupkan virus-virus keraguan terhadap semua doktrin fundamental islam terhadap pemeluknya. Tidak hanya itu saja tetapi mereka juga mengatakan bahwa islam sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman sehingga sudah tidak bisa diterapkan lagi. Dengan upaya itu mereka bermaksud untuk mengahncurkan islam melalui media pemeluknya sendiri yang telah meninggalkan nilai-nilai islam sehingga ahirnya mereka yang mengaku islam tidak tahu dan tidak mengerti akan islam hakikat keislamannya sendiri.
     Bagi mereka islam adalah suatu ancaman bagi  masa depan dunia barat dan mereka juga beranggapan bahwa islam adalah kelompok/aliran theology yang membelot dairi agama mereka (Nasrani).
B.       Saran-saran
     Kami sebagai pemakalah menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan pada makalah yang kami buat ini. Maka dari itu kami mengharap saran dan kritik terutama dari bpk. Dosen pengampu dan segenap mahasiswa/i demi hasil yang lebih maksimal dan memuaskan pada tugas-tugas baik dalam mata pelajaran yang sama atau yang lainnya di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Hamim Thoha, Islam dan NU Dibawah Tekanan Problematika Kontemporer, Diantama Surabaya, 2004.
Abdul Rouf Hasan M. el-Badawiy, Abdurrahman Ghirrah, Orientalisme Dan Missionarisme, Menelikung Pola Pikir Umat Islam, Dialektika Kehidupan Politik, Agama, Pendidikan Dan Sosial Masyarakat Muslim,  PT Rosdakarya, Bandung, 2008.
Buchari Mannan, Menyingkap Tabir Orientalisme, Amzah, Jakarta, 2006.

[1]Di kutip dari Longman dictionary of English. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.
[2] Al Ummah, Dr. Moh zaqzuq Orientalisme Dan Kemunduran Berpikir Mengahadapi Pergulatan Peradaban, hal 18, 1404
[3] Di kutip dari H.M. Joesoef Sou’yb, Orientalis dan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1985, hlm. 1. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.
[4] Di kutip dari Tk. H. Ismail Jakub, Orientalisme dan Orientalisten, Faizan, Surabaya, 1970, hal. 11. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.  
[5] Dr. Mahmoud Hadi Zaqzuq, Al-Istisyroq wal khalfiah lis shira’ Al-Hadiry, Dar El-Manar, hlm. 28. Dalam :Buchari mannan, “orientalisme,ruang lingkup, dan jati dirinya”,menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006.
[6] Buchari mannan, menyingkap tabir orientalis, AMZAH, Jakarta, 2006. hlm. 10-11.
[7] Ajnihatul mukr ats tsalatsah, hal. 89-90

Rabu, 17 Desember 2014

TEMA "TUHAN MEMBUSUK" SEBAGAI WACANA KRITIK SOSIAL


Di abad ideologi ini banyak orang berbicara sesuatu mengatasnamakan Tuhan, tak terlebih hal tersebut sampai-sampai meremehkan esensi kemanusiaan,menghilangkan aksiologi atas pertimbangan moral, perpecahan di mana-mana, klaim kebenaran menjadi hak masing-masing kelompok dan tak terelakkan lagi darah persaudaraan pun menjadi taruhannya.
Berbicara tentang Tuhan sebenarnya bukan hal remeh dan sepele sebagaimana halnya pembicaraan yang mengotak-atik produk pemikiran tokoh dunia, terutama filsafat dengan nalar spekulatifnya (epistemologi), karena pertaruhannya adalah sakralitas keyakinan manusia sebagai junjungan terbesar dalam kepercayaan agama dunia, bukan saja satu dari sekian agama akan tetapi seluruh agama beserta keseluruhannya. Dalam catatan sejarah peradaban manusiapun pasti tidak pernah lepas dari yang namanya Tuhan, apalagi sang Tuhan biasanya menjadi substansi puncak pencarian jati diri setiap individu, bentuk pesimisme di atas kompleksitas problem kehidupan, juga sebagai tujuan tertinggi dari segala upaya besar yang dilakukan oleh manusia.
Tuhan itu adalah suatu pegangan absolut, yang mana keterbatasan manusia menjadi bukti eksistensinya, sehingga tidak pernah ada sesuatu apapun yang dipahami secara sempurna kecuali Tuhan itui sendiri. Namun Tuhan yang diagung-agungkan oleh manusia sepanjang peradabannya seakan-akan menjadi benalu atas kekejaman yang dilakukannya sendiri, term Tuhan bukan lagi sang dzat yang maha baik, maha suci, maha bijaksana dan lain sebagainya, tetapi sebagai legitimasi nilai-nilai palsu yang dengannya masing-masing kelompok saling serang dan menghancurkan. Itukah kebenaran atas nama Tuhan yang selalu dijunjung-junjung? Ataukah kekejian dibalik kekeliruian pemahaman atas interpretasi Tuhan sebagai dasar spirit perjuangan? Lalu apa standar kebenaran Tuhan? Perhitungan seperti apakah cara untuk memahaminya? Inilah pertanyaan yang mungkin menjadi Tugas besar bagi kita semua untuk menjawabnya.
Tema “Tuhan Membusuk”  adalah wacana kritik dan penelanjangan atas kekeliruan pemahaman terkait Tuhan, terutama kelompok yang hanya mendasarkan pemahamannya kepada teks-teks keagamaan semata. Kritik terhadap pendekatan normatif di sini bukan dalam artian secara substansial pendekatan tersebut keliru, akan tetapi metodelogi pendekatan normatif terhadap teks memerlukan pra-syarat tertentu, karena teks-teks keagamaan tidaka lahir dari kontemplasi dan refleksi belaka, namun juga dilatar belakangi oleh sosio-kultural, politik dan letak geografis pada dasawarsa tertentu. Hal ini diharapkan untuk menghindari interpretasi mentah pada teks, karena tidak sedikit orang mengidentikkan kebenaran dengan yang namanya teks, mengikuti alur serta pola pemecahan masalah dalam menghadapi sesuatu secara persis dama dengan teks, meskipun konteks permasalahannya secara esensial jelas berbeda. Ketika metode yang seperti ini dipaksakan, maka yang terjadi bukanlah pemecahan masalah tepat sasaran, tetapi malah penindasan, perpecahan, diskriminasi dan lain sebagainya.
Terminologi “Tuhan Membusuk” di sini buka dalam artian makna Tuhan secara substantif dan esensial. Tapi, hanya sebuah analogi tentang persepsi dan gambaran wujud Tuhan yang dimaterilkan oleh manusia atau kelompok-kelompok tertentu. Berdasarkan sumber yang dijelaskan oleh pihak yang ikut terlibat dalam kajian ini, dijelaskan bahwa, ada suatu kata  tersimpan (dhamir mustatir: Arab) pada tema “Tuhan Membusuk”, kira-kira menjadi “Tuhan akan Membusuk”. Interpretasinya adalah, bahwa konteks realita masa kini (modern), memberikan suatu pesan simbol terhadap nasib masa depan Tuhan yang sudah tidak punya nilai jual di mata manusia. Sebagaimana kondisi yang terjadi saat ini, spirit dasar agama yang seharusnya mengarahkan manusia kesana-kemari, tergantikan oleh spirit materialistik yang dianggap lebih menjamin. Manusia sudah terperangkap pada fetishisme (istilah Aristoteles, atau pemberhalaan sesuatu selain Tuhan dalam pandangan mistika agama). Kondisi dan situasi yang seperti ini sepertinya menjadi tidak terbendung lagi. Apalagi, di zaman yang semakin kompleks di bawah arus neoliberalisme dan sistem global. Mindset dan kesadaran inilah yang mungkin serasa sangat perlu di refleksikan oleh para penganut umat beragama pada umumnya. Kekhawatirannya tidak terletak pada eksis dan tidaknya Tuhan, kerena bagaimanapun Tuhan tidak akan pernah mati. Akan tetapi,  pada posisi dimana-nilai kemanusiaan menjadi tidak berarti akibat membusuknya spirit keluhuran yang maha Luhur. Ada beberapa poin penting kenapa tema ini dibuat dengan bahasa yang provokatif, disertai emosi dan konotasi yang jelas kurang nyaman dan bahkan mungkin terbilang tidak etis bagi kalangan umat beragama. Maksudnya tidak lain hanya untuk menyampaikan pesan simbolik pada banyak orang, bahwa banyak manusia sudah tidak kenal jati dirinya, mereka sibuk beragama tapi lupa ber-Tuhan. Sibuk mengukur dan merenungkan, bahkan menghakimi aqidah orang lain, sehingga lupa dan lalai letak dimensi dirinya.
Dari ketidak selarasan pola mental dan sikap yang seperti itulah manusia mulai kehilangan tiga hal, yaitu; 1. Disidentifikasi, tentang yang primer, sekunder, hak Tuhan dan kewajiban hamba. 2. Disposisi, tentang persamaan, perbedaan, esensi atas dan substansi bawah. Dan, 3. Disorientasi, apa komitmen tujuannya, keluhuran cita-citanya dan garis lurus tauhidnya. Hampir-hampir semuanya dipahami secara meleset. Jika realitanya seperti ini, maka bagaimana mungkin kemembusukan itu tidak akan terjadi?. Dari pesan spritual tema, kita mencoba beranjak ke analisa pendekatan historis terkait wacana ini.
Dalam sejarah teologi dan pemikiran Islam, kita pastilah pernah mendengar salah satu golongan yang bernama Khawarij, golongan ini adalah sekelompok orang yang pada mulanya berjuang dipihak ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertempuran Shiffin. Namun mereka merasa tidak puas terhadap putusan (tahkim) yang disepakati ‘Ali ibn Abi Thalib dan Mu’awiyah, mereka akhirnya keluar dari pasukan ‘Ali, bahkan menentang ‘Ali dengan sangat keras, juga berpendapat bahwa ‘Ali dan Muawiyah telah melanggar hukum Allah dan mengklaim kafir mereka karena arbitrasenya tidak sesuai dengan hukum yang ada dalam al-Quran (al-Milal wa al-Nihal). Apa yang kemudian melatar belakangi cara sikap mereka (Khawarij) yang seperti itu? Ada hal yang perlu diketahui tentang mereka,bahwa kaum Khawarij adalah orang-orang suku pedalaman Arab yang dilihat dari letak geografisnya berada pada suatu wilayah yang gersang dan tandus, yaitu di wilayah gurun. Kondisi yang seperti itu secara tidak langsung sangat berpengaruh besar pada cara berpikir mereka yang dangkal dan cara sikap yang kaku dan keras, hingga akhirnya terbawa pada aspek psikologi keagamaan mereka. Pemahaman mereka tentang keagamaan yang dangkal dan  cara Sikap mereka yang frontal pada akhirnya berujung pada pembunuhan ‘Ali ibn Abi Thalib yang dilakukan oleh salah seorang khawarij yang bernama Abdurrahman ibn Muljam. Di sini penulis tidak bermaksud untuk berbicara sejarah masa lampau yang sudah usang dimakan zaman. Namun penulis lebih menitik tekankan pada relevansi fenomenanya dengan realita yang terjadi saat ini, yang kemudian menjadi poin penting bagi gambaran anarkisme dan apatisme dalam agama, akibat pergeseran nilai.
Wallaahu a’lam
Kritik dan sarannya ditungg

Sabtu, 08 November 2014

Makna Hari Pahlawan 10 November 2012


Makna Hari Pahlawan 10 November 2012 Hari Pahlawan Nasional dapat merujuk pada sejumlah peringatan hari pahlawan nasional di berbagai negara. Hari Pahlawan sering diselenggarakan pada hari kelahiran pahlawan nasional maupun peringatan peristiwa yang mengantarkan mereka jadi pahlawan.
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVvgzVxl0pbrxmWNDhcbFGwF1EhvkJwyCjcDyeqkoHQBJf9ZJuqRTgocx1WhGNKcozAR-8q4RHQt6ZApGgezva3CPPUUg2di3D4EIvpne6bSNyBGdshSESx_lHW9H8lgvdHTBjzvBQWhw/s1600/hari-pahlawan.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwbfwFlOQJRA9D5VjOdM9CObcSl1g05AqxKru43Xop4J0Nx_PqPpCAZMzeqraSX9Sgv4JJTfEeVSaEtBS4Z72BILMcptC7hQIKXLo-dR5smsJMFCTQDVeorF7z7SrjVyeGd-1TTOYZec0/s1600/58113_bung_tomo_300_225.jpg
Makna Hari Pahlawan
Setiap tanggal 10 November tahun bangsa kita merayakan Hari Pahlawan. Pada saat itulah kita mengenang jasa para pahlawan yang telah bersedia mengorbankan jiawa,raga dan hartanya untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan.  

Mengapa tanggal 10 November dipilih sebagai Hari Pahlawan karena pada saat itu para pejuang kita bertempur mati-matian untuk melawan tentara Inggris di Surabaya.Padahal saat itu kita hanya mempunyai beberapa pucuk senjata api, selebihnya para pejuang menggunakan bambu runcing. Namun para pejuang kita tak pernah gentar untuk melawan penjajah. 
Kita masih ingat tokoh yang terkenal pada saat perjuangan itu yakni Bung Tomo yang mampu menyalakan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya.

Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat hanya seremonial saja. Memang kita tidak ikut mengorbankan nyawa seperti para pejuang di Surabaya pada waktu itu.Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. 
Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah kita merayakan Hari Pahlawan setiap 10 November.Akan tetapi kepahlawanan tidak hanya sekedar itu saja. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. 
Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan. Bangsa ini sedang membutuhkan banyak pahlawan, pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan Indonesia yang bersih dan bebas korupsi. Negeri kita sedang diwarnai kasus korupsi yang sudah mencapai stadium terakhir. Karena sudah melibatkan para pejabat tinggi dan yang paling menyedihkan sudah melibatkan para penegak hukumnya sendiri. Yang semestinya mereka membantu membrantas korupsi namun sekarang kebalikan dari semua itu. Dan kita sangat membutuhkan orang-orang berani untuk memberantasnya.Karena korupsi adalah akar dari kehancuran sebuah Negara. 

Karekteristik seorang pahlawan adalah jujur, pemberani, dan rela melakukan apapun demi kebaikan dan kesejahteraan orang banyak.


Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. 
Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang.

Jumat, 31 Oktober 2014

POLA DASAR PERKADERAN


Dalam menjalankan fungsinya sebagai organisasi kader, HMI menggunakan pendekatan sistematik dalam keseluruhan proses perkaderannya. Semua bentuk aktifitas/kegiatan perkaderan disusun dalam semangat integralistik untuk mengupayakan tercapainya tujuan organisasi. Oleh karena itu, sebagai upaya memberikan kejelasan dan ketegasan sistem perkaderan yang dimaksud harus dibuat pola dasar perkaderan HMI secara nasional. Pola dasar ini disusun dengan memperhatikan tujuan organisasi dan arah perkaderan yang telah ditetapkan. Selain itu juga dengan mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan organisasi serta tantangan dan kesempatan yang berkembang dilingkungan eksternal organisasi.
Pola dasar ini membuat garis besar keseluruhan tahapan yang harus ditempuh oleh seorang kader dalam proses perkaderan di HMI, yakni sejak rekrutmen kader, pembentukan kader dan gambaran jalur-jalur pengabdian kader.

1. Pengertian Dasar

Kader
Menurut AS. Hornby (dalam kamusnya Oxford Advanced Learner’s Dictionary) dikatakan bahwa “ Cadre is small group of people who are specially chosen and tarined a particular purpose “ . Jadi pengertian kader adalah “ Sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar “. Hal ini dapat dijelaskan, Pertama, seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan-aturan permainan organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi. Bagi HMI aturan-aturan itu sendiri dari segi nilai adalah Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dalam pemahaman memaknai perjuangan sebagai alat  untuk mentransformasikan nilai-nilai ke-Islaman yang membebaskan (Leberation Force) dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (Musrhad’afin). Sedangkan dari segi operasionalisasi organisasi adalah AD/ART HMI, pedoman perkaderan dan pedoman ketentuan organisasi lainnya. Kedua, seorang kader mempunyai komitmen yang terus menerus (permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran. Ketiga, seorang kader memiliki bobot dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. Jadi fokus penekanan kaderisasi adalah aspek kualitas. Keempat, seorang keder memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan ” sosial engineering”.
Kader HMI adalah anggota HMI yang telah melalui proses perkaderan  sehingga memiliki ciri kader sebagaimana yang diungkapkan diatas dan memilik integritas kepribadian yang utuh : Beriman, Berilmu dan Beramal shaleh, sehingga siap mengemban tugas dan amanah kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Perkaderan
Perkaderan adalah usaha organisasi yang dilaksanakan secara sadar dan sistematis, selaras dengan pedoman perkaderan HMI sehingga memungkinkan seorang anggota HMI mengaktualisasikan potensi dirinya menjadi seorang kader Muslim-Intelektual-Profesional yang memiliki kualitas insan cita

2. Rekrutmen Kader
Sebagi konsekuensi dari organisasi kader, maka aspek kualitas kader merupakan fokus perhatian dalam proses perkaderan HMI guna menjamin terbentuknya output yang berkualitas sebagaimana yang disyaratkan dalam tujuan organisasi, maka selain kualitas proses perkaderan itu sendiri, kualitas input calon kader menjadi faktor penentu yang tidak kalah pentingnya.
Kenyataan ini mengharuskan adanya pola-pola perencanaan dan pola rekrutmen yang lebih memprioritaskan kepada tersedianya input calon kader yang berkualitas. Dengan demikian rekrutmen kader merupakan upaya aktif dan terencana sebagai ikhtiar untuik mendapatkan input calon kader yang berkualitas bagi proses perkaderan HMI dalam mencapai tujuan organisasi.




Kriteria Rekrutmen
Rekrutmen  kader yang lebih memprioritaskan pada pengadaan kader yang berkualitas tanpa mengabaikan aspek kuantitas, mengharuskan adanya kriteria rekrutmen. Kriteria rekrutmen ini akan mencakup kriteria sumber-sumber kader dan kriteria kualitas calon kader.

Kriteria Sumber-sumber Kader
Sesuai dengan statusnya sebagai orgnisasai mahasiswa, maka yang menjadi sumber kader HMI adalah Perguruan Tingi atau institut lainnya yang sederajat seperti apa yang disyaratkan dalam AD/ART HMI. Guna mendapatkan input kader yang berkualitas maka pelaksanaan rekrutnmen kader perlu diorientasika pada Perguruan Tinggi atau lembaga pendidika sederjat yang berkulitas dengan memperhatikan kriteria-kriteria yang berkembang di masing-masing daerah.

Kriteria Kualitas Calon Kader
Kualitas calon kader yang diprioritaskan ditentukan oleh kriteria-kriteria tertentu dengan memperhatikan integritas priadi dan calon kader, potensi dsar akademik, potensi berprestasi, potensi dasar kepemimpinan serta bersedia melakukan peningkatan kualitasindividu secara terus-menerus.

Metode dan Pendekatan Rekrutmen
Metode dan pendekatan rekrutmen merupakan cara atau pola yang ditempuh untuk melakukan pendekatan kepada calon-calon kader agar mereka mengenal dan tertarik menjadi kader HMI. Untuk mencpai tujuan tersebut maka pendekatan rekrutmen dilakukan dua kelompok ssaran.

Tingkat Pra Perguruan Tinggi
Pendekatan ini dimaksudkan untuk memperkenalkan sedini mungkin keberdan HMI ditengah-tengah masyarakat khususnya masyarakat ilmiah ditingkat pra perguruan tinggi atau siswa-siswa sekolah menengah. Strategi pendekatan haruslah memperhatikan aspek psikologis sebagai remaja.
Tujuan pendektan ini adalah agar terbentuknya opini awal yang positif dikalangan siswa-siswa sekolah menengah terhadap HMI. Untuk kemiudian pada gilirannya terbentuk pula rasa simpati dan minat untuk mengetahuinya lebih lanjut.
Pendekatan rekrutmen dapat dilakukan dengan pendekatan aktifitas (activity approch) dimana siswa dilibatkan seluas-luasnya pada sebuah aktifitas. Bentuk pendekatan ini bisa dilakukan lewat fungsionalisasi lembaga-lembaga kekaryaan HMI serta perangkat organisasi HMI lainnya secara efektif dan efisien, dapat juga dilakukan pendekatan perorangan (personal approach).

Tingkat Perguruan Tinggi
Pendekatan rekrutmen ini dimksudkan untuk membngun persepsi yang benar dn utuh dikalangn mahasiswa terhadp keberadn organisasi HMI sebagai mitra Pergurun Tinggi didalam mencetak kader-kader bangsa. Strategi pendekatan harus mampu menjawab kebutuhan nalar mahasiswa (student reasioning), minat mahasiswa (student interest), dan kesejahteraan mahasiswa (student welfare).
Pendekatan diatas dapat dilakukan lewat aktifitas dan pendekatan perorangan, dengan konsekuensi pendekatan fungsionalisasi masing-masing aparat HMI yang berhubungan langsung dengan bais calon kader HMI. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan cara kegiatan yang berbentuk formal seperti masa perkenalan calon anggota ((Maperca) dan pelatihan kekaryaan. Dalam kegiatan Maperca, materi yang dpat disajikan adalah:
a.       selayang pandang tentang HMI
b.      Pengantar wawasan keislaman
c.       Wawasan perguruan tinggi
Metode dan pendektan rekrutmen seperti tersebut diatas diharapkan akan mampu membangun rasa simpati dan hasrat untuk mengembangkan serta mengaktualisasikan seluruh potensi dirinya lewat pelibatan diri pada proses perkaderan HMI secara terus menerus.

3. Pembentukan Kader
Pembentuka kader merupakan sekumpulan aktifitas perkaderan yang integrasi dalam upaya mencapai tujuan HMI.



Latihan Kader
Latihan kader merupakan perkaderan HMI yang dilakukan secara sadar, terencana, sistematis, dan berkesinambungan serta memiliki pedoman dan aturan yang baku secara rasional dalam rangka mencapai tujuan HMI. Latihan ini berfungsi memberikan kemampuan tertentu kepada para pesertanya sesuai dengan tujuan dan target pada masing-masing jenjang latihan. Latihan kader merupakan media perkaderan formal HMI yang dilaksanakan secara berjenjang serta menuntut persyaratan tertentu kepada para pesertanya sesuai dengan tujuan dan target padamasing-masing jenjang latihan. Latihan kader merupakan media perkaderan frmal HMI yang dilaksanakan secara berjenjang serta menuntut persyaratan tertentu dari pesertnya. Pada masing-masing jenjang latihan ini menitikberatkan padpembentukan watak dan karakter kader HMI melalui transfer nilai, wawasan, da ketermpilan serta pemberin rangsangan dan motivasi untuk mengaktualisasikan kemampuannya. Latihan Kader terdiri atas tiga jenjang , yaitu:
  1. Basic Training (Latihan Kader I)
  2. Intermediate Training (Latihan Kader II)
  3. Advance traaining (Latihan Kader III)

Pengembangan
Pengembangan merupkan lnjutan atau kelengkapan latihan dalam keseluruhan proses perkaderan HMI. Hal ini merupakan penjabaran dari pasal 5 Anggaran Dasar HMI.

Up Grading
Up Grading dimaksudkan sebagai mediaperkaderan HMI yang menitikberatkan pada pengembangan nalar, minat, dan kemampuan peserta pada bidang tertentu yang bersifat praktis, sebagai kelanjutan dari perkaderan yang dikembangkan melalui latihan kader.

Pelatihan
Pelatihan adalah training jangka pendek yang bertujuan membentuk dan mengembangkan profesionalisme kader sesuai dengan latr belakang disiplin ilmunya masing-masing.

Aktifitas
a.      Aktifitas organisasional
Aktifitas orgnisasional merupakan suatu aktifitas yang bersifat organisasi  
yang  dilakukan oleh kader dalam lingkup organisasi.
1.      Intern orgnisasi yaitu segala aktifitas organisasi yang dilakukan oleh kader dalam lingkup tugas HMI.
2.      Ekstern organisasi yaitu segla aktifitas organisasi yang dilakukan oleh kader dalm lingkup tugas organisasi diluar HMI
b.      Aktifitas Kelompok
       Aktifitas kelompok merupakan aktifitas yang dilakukan oleh kader dalam 
       suatu kelompok yang tidak memiliki hubungan struktur dengan
       organisasi formal, yaitu:
1.      Intern organisasi, yaitu segala aktifitas kelompok yang dilakukan oleh kader HMI dalam lingkup organisasi HMI yang tidak memiliki hubungan struktur (bersifat informal).
2.      Eksternal organisasi, yaitu segala aktifitas kelompok yang dilakukan oleh kader diluar lingkup organisasi dan tidak memiliki hubungan dengan organisasi formal manapun.
c.       Aktifitas perorangan
Aktifits perrangan merupakan aktifitas yang dilakukan oleh kader secara perorangan.
1.      Intern organisasi, yaitu segala aktifitas yang dilakukan oleh kader secara perorangan untuk menyahuti tugas dan kegiatan organisasi HMI.
2.      Ekstern organisasi, yaitu segala aktifitas yang dilakukan oleh kader secara perorangan diluar tuntutan tugas dan kegitan organisasi HMI.




Pengabdian Kader
Dalam rangka meningkatkan upaya mewujudkan masyarakat cita HMI yaitu masyrakat adil makmur yang diridhai llah SWT, maka diperlukan peningkatan kualitas dan kuantitas pengabdian kader. Pengabdian kder ini merupakan penjabaran dari peranan HMI sebagai organisasi perjuangan. Dan oleh karena itu seluruh bentuk-bentuk pembangunan yang dilakukan merupakan jalur pengabdian kader HMI, maka jalur pengabdiannya adalah sebagai berikut:
a. Jalur akademis (pendidikan, penelitian, dan pengembangan)
b.      Jalur dunia profesi (dokter, konsultan, pengcara, pengacara, manager, jurnalis, dn lain-lain)
c.       Jalur birokrasi dan pemerintahan
d.      Jalur dunia usaha (koperasi, BUMN, dan swasta)
e.       Jalur sosial politik
f.       Jalur TNI/Kepolisian
g.       Jalur ssial kemasyarakatan
h.      Jalur LSM/LPSM
i.        Jlur kepemudaan
j.        Jalur olahraga dan seni budaya
k.      Jalur-jalur lain yang masih terbuka yang dapat dimasuki oleh kader-kader HMI

Arah Perkaderan
Arah dalam pengertian umum adalah petunjuk yang membimbing jalan dalam bentuk bergerak menuju kesuatu tujuan. Arah juga dapat diartikan sebagai pedoman yang dapat dijadikan patokan dalam melakukan usaha yang sistematis untuk mencapai tujuan.
Jadi, arah perkaderan adalah suatu pedoman yang dijadikan petunjuk untuk penuntun yang menggambarkan arah yang harus dituju dalam keseluruhan proses perkaderan HMI. Arah perkaderan sangat erat kaitannya dengan tujuan perkaderan, adan tujuan HMI sebagai tujuan umum yang hendak dicapai HMI merupakan garis arah dan titik sentral seluruh kegiatan dan usaha-usaha HMI. Oleh karena itu, tujuan HMI merupakan titik sentral dan garis arah setiap perkaderan, maka ia merupakan ukuran atau norma dari semua kegiatan HMI.

Maksud dan Tujuan
 Maksud dan tujuan perkaderan adalah usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan organisasi melalui suatu proses sadar dan sistematis sebagai alat transformasi nilai keislaman dalam proses rekayasa peradaban melalui pembentukan kader berkualitas muslim-intelektual-profesional sehingga berdaya guna dan berhasil guna sesuai dengan pedoman perkaderan HMI.
Target
Terciptanya kader muslim-intelektual-profesional yang berakhlakul karimah serta mampu mengemban amanah Allah sebagai khalifah fil ardhi dalam upaya mencapai tujuan organisasi.

Wujud Profil Kader HMI di Masa Depan
Bertolak dari landasan-landasan, pola dasar, dan arah perkaderan HMI, maka aktifitas perkaderan HMI diarahkan dalam rangka membentuk kader HMI muslim-intelektual-profesional yang dalam aktualisasi peranannya berusaha mentransformasikan nilai-nilai keislaman yang memiliki kekuatan pembebasan (liberation force) dan memiliki keberpihakan terhadap kaum tertindas (mustadh'afin).
Aspek-aspek yang ditekankan dalam usaha pelaksanaan kaderisasi tersebut ditujukan pada:
  1. Pembentukan integritas watak dan kepribadian, yakni kepribadian yang terbentuk sebagai pribadi muslim yang menyadari tanggung jawab kekhalifahannya dimuka bumi, sehingga citra akhlakul karimah senantiasa tercermin dalam pola pikir, sikap, dan perbuatannya.
  2. Pengembangan kualitas intelektual, yakni segala usaha pembinaan yang mengarah pada penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai Islam.
  3. Pengembangan kemampuan profesional, yakni segala usaha pembinaan yang mengarah kepada peningkatan kemampuan mentransformasikan ilmu pengetahuan kedalam perbuatan nyata sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya secara konsepsional, sistematis dan praksis untuk mencapai prestasi kerja yang maksimal sebagai pewujudan amal shaleh.
Usaha mewujudkan ketiga aspek harus terintegrasi secara utuh sehingga kader HMI benar-benar lahir menjadi pribadi dan kader Muslim-Intelektual-Profesional, yang mampu menjawab tuntutan perwujudan masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT.

KADER, HMI DAN PERJUANGAN

HAKIKAT KADER
Sebagai seorang anggota HMI, kita menyandang atribut seorang mahasiswa muslim yang lebih maju taraf berpikirnya dari mahasiswa kebanyakan yang non HMI. Kita mempunyai pikiran, perasaan, metode hingga cita-cita luhur yang khas. Semua pikiran, perasaan dan cita-cita kita merupakan intisari pergerakan HMI dalam mewujudkan misinya ; merealisasikan nilai-nilai Islam di Indonesia. Setiap mahasiswa muslim yang memasuki HMI sudah dibekali dengan seperangkat pengetahuan  tentang bagaimana ia memajukan agama dan bangsanya. Tetapi diantara kita, masing-masing masih mewarisi pikiran, perasaan, sikap-sikap dan kebiasaan dari masyarakat yang belum bangkit taraf pemikirannya, sehingga diantara kita masih ada yang tidak mengetahui keberadaan dan fungsinya sebagai anggota HMI.. hal ini diakibatkan karena kita hidup dalam masyarakat yang terjepit dan dihisap oleh kapitalisme. Sampai hari ini, kita masih dipengaruhi oleh gagasan bobrok dari masyarakat ini. Oleh karena itu, wajib kirannya seorang anggota HMI merubah dirinya dengan sungguh-sungguh menjadi seorang kader HMI.

Proses mengubah diri kita sendiri dengan sungguh-sungguh dan penuh kesadaran serta pengorbanan, kita melawan ide-ide, sikap-sikap, emosi dan kebiasaan –kebiasaan kita yang tidak sejalan dengan perjuangan misi HMI. Kita sedang membentuk watak dan karakter kader HMI ditengah beratnya penuh perjuangan meninggalkan segala apa yang telah menjadi tradisi kita, yaitu musuh kta sendiri serta musuh-musuh yang siap memadamkan cahaya Islam. Betapa beratnya, kita melawan diri kita sendiri dengan penuh kesadaran,bahwa sikap-sikap dan kebiasaan kita terdahulu adalah pengahalang sekaligus ancaman bagi perjuangan HMI. Ketika  kita teguh, konsisten dan semakin kuat hasrat memperbaiki diri, semakin tertempalah kita sebagai seorang kader. Mengubah diri pribadi tidak cukup terhenti dalam beberapa jam atau hari saja. Ia memerlukan perjuangan yang panjang dan butuh pengorbanan yang besar. Kita harus terus-menerus menghilangkan pengaruh ide-ide yang melingkupi masyarakat yang sedang bobrok yang masih membekas dalam sikap dan tingkah laku kita. Hanya dengan cara demikianlah kita dapat mengemban dan menjalankan misi mulia HMI dengan lebih baik disertai dengan keteguhan hati yang membaja dalam meyalakan api perjuangan menghancurkan musuh-musuh bangsa Indonesia sampai menuju kebangkitan Islam.
Watak-watak dasar seorang kader HMI, yakni:

Ø    Kita mengubah diri kita untuk memperkuat keyakinan dan tanpa rasa takut menghadapi pengorbanan dan kematian demi kebenaran Islam.
Ø  Bersungguh-sungguh, hati-hati dan bergairah dalam perjuangan membangkitkan umat Islam dan bangsa Indonesia.
Ø  Bersatu dan hangat dalam semangat ukhuwah Islamiyah dengan sesama organisasi Islam lainnya.
Ø  Toleransi dan bersikap santun penuh pengertian terhadap individu atau organisasi yang tidak sejalan dengan prinsip-  prinsip perjuangan.
Ø  Berani menerima kritik dan bersedia memperbaiki kesalahan dan kelemahan


Sedangkan ciri-ciri pokok seorang kader adalah :
Ø  Pertama, seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan-aturan permainan organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi. Bagi HMI aturan-aturan itu sendiri dari segi nilai adalah Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dalam pemahaman memaknai perjuangan sebagai alat  untuk mentransformasikan nilai-nilai ke-Islaman yang membebaskan (Liberation Force) dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (Musthad’afin). Sedangkan dari segi operasionalisasi organisasi adalah AD/ART HMI, pedoman perkaderan dan pedoman ketentuan organisasi lainnya.
Ø  Kedua, seorang kader mempunyai komitmen yang terus menerus (permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran.
Ø  Ketiga, seorang kader memiliki bobot dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. Jadi fokus penekanan kaderisasi adalah aspek kualitas.
Ø  Keempat, seorang keder memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan ” sosial engineering”.

SIKAP SEORANG KADER TERHADAP HMI
Setelah   kita berusaha merubah diri kita agar menjadi kader HMI secara individu, maka fase perjuangan selanjutnya adalah  bagaimana menuntaskan perjuangan membangkitkan umat Islam dan bangsa Indonesia melalui sebuah alat perjuangan, yaitu HMI.
HMI sebagai organisasi kader yang kohesif –saling terkait-secara ketat, yang terdiri dari kader-kader. Melakukan pembinaan secara sistematis, terus menerus dan masif demi mewujudkan tujuan/cita ideologi Islam yang  yang diturunkan menjadi kualitas insan cita serta mendistribusikan kader-kader dipelbagai medan perjuangan seperti ; pendidikan, kebudayaan, social politik, BEM Universitas, organisasi masyarakat, keprofesian, dll. HMI sebagai organisasi kader mencetak organisatoris ulung yang mampu menarik massa secara luas dan memimpin mereka dengan moral dan intelectual dan kemudian melibatkan mereka secara langsung dalam perjuangan mewujudkan kebangkitan Islam dan bangsa Indonesia. Sebagai organisasi kader dan perjuangan, HMI mengamanahkan kepada para kader untuk mengemban misi tranformasi dan pembebasan umat Islam dan bangsa Indonesia
Seorang kader memandang dan menghargai tugas-tugas dan tanggung jawabnya secara penuh dalam perjuangan organisasi. Seorang kader harus menyadari bahwa tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab sebagai kader merupakan bagian dari tugas besar nan mulia (Jihad) membebaskan umat Islam dan bangsa Indonesia dari belenggu penghisapan dan penindasan. Amanah organisasi merupakan merupakan panggilan perjuangan dan penuh keikhlasan dengan sekuat tenaga untuk melaksanakannya. Melaksanakan amanah organisasi dengan penuh tanggung jawab berarti pengabdian kepada Allah SWT.
Seorang kader akan selalu siap sedia, bergelora semangatnya dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas organisasi. Ia selalu tegar dan semakin menaik semangatnya dalam melaksanakan tugas. Seorang kader selalu berinisiatif penuh suka cita dan bertanggung jawab dalam memajukan organisasi dalam rangka perjuangan membebaskan bangsanya dari belenggu imperialisme sampai menuju kebangkitan Islam.
Dengan penuh kesadaran, seorang kader memandang ketika ia berinisiatif memajukan HMI berarti disaat yang sama ia menyumbangkan tenaga dan buah pikirannya demi kemajuan umat Islam dan bangsanya. Sebaliknya, apabila ia tidak mengambil inisiatif, pasif bahkan tidak peduli akan perjuangan HMI berarti saat itulah ia membiarkan umat Islam dan bangsanya meluncur menuju kemerosotan.
Seorang kader HMI adalah manusia-manusia pelopor dalam perjuangan organisasi. Kader HMI selalu baerpikir jauh maju kedepan, karena baginya kesungguh-sungguhan dia dalam menjalankan amanah organisasi merupakan sumbangan bagi masa depan agama dan bangsanya. Semangat militannya terus berkobar, tidak merasa lemah dan pasrah dalam menghadapi penderitaan dalam perjuangan organisasi. Inisiatifnya selalu muncul ketika dalam situasi yang memungkinkan perjuangan organisasi menjadi terhambat. Ide-ide segar selalu kreatif ketika perjuangan organisasi membutuhkannya dalam rangka mencapai kemenangan dalam perjuangan. Tenaganya selau siap sebagai pengawal perjuangan organisasi ketika menhadapi tantangan yang hebat dari musuh-musuh yang siap melumpuhkan gerak kebangkitan umat dan bangsa.. seorang kader selalu siap memenuhi tugas-tugas dan tanggung jawab. Ia siap menerima tugas organisasi berikan padanya tanpa menghitung ongkos dan beban atau kesulitan-kesulitan dan pengorbanan-pengorbanan yang harus dia lalui. Seorang kader tidak membeda-bedakan tugas berdasarkan berat atau ringannya tugas atau hanya menerima tugas yang hanya disenanginya saja dan ketika menjalankan tugas organisasi, , ia tidak menharapkan pujian dari seorangpun.
PENDIDIKAN KADER
Perjuangan dalam membangkitkan umat dan bangsa, tidaklah terjadi secara ceroboh, asal-asalan, tidak teratur dan tergesa-gesa yang hanya mengandalkan luapan emosi atau bergerak secara bias melenceng dari garis perjuangan. Setiap perjuangan yang berhasil selalu rapi, terkonsep, tidak asal-asalan serta sistemik. Oleh karena itu,  pembinaan kader—pengkaderan—sangat penting dalam perjuangan oleh kader-kader pejuang yang sesadar-sadarnya.. Setiap kegiatan atau aksi organisasi  yang dilakukan tanpa panduan tidak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penghisapan dan penindasan.. Pengkaderan, memberikan kemampuan kader untuk menganalisa secara ilmiah mengenai syarat-syarat perubahan masyarakat kearah yang lebih baik. Pengkaderan memberi semangat kepada kader apa yang seharusnya ia lakukan., merumuskan rencana-rencana serta menetapkan metode dalam mencapai cita-cita perjuangan.
Arah dan orientasi perkaderan kita adalah membangun sikap kritis, yaitu sebuah pendidikan yang membuat seorang kader berani membicarakan masalah-masalah dalam masyarakat dan turun langsung ke lingkungannya. Kekritisan kader yaitu, sebuah kemampuan kader untuk memberi tahu dan memperingatkan lingkungannya dari bahaya-bahaya zamannya, kebobrokan sistem yang mengelilingi sahabat dan masyarakatnya dan mampu menawarkan solusi dari permasalahan tersebut serta memberikan kekuatan bagi kader untuk menghadapi bahaya akibat konsekuensi perjuangannya, bukan perkaderan yang menjadikan akal seorang kader menyerah pada kondisi kebobrokan masyarakatnya.
Perkaderan berfungsi menyebarluaskan nilai-nilai Islam. Perkaderan menyadarkan semua pihak bahwa perjuangan menegakkan nilai-nilai Islam adalah komitmen bersama. Karenanya perkaderan dalam HMI harus mengarah pada tranformasi nilai-nilai Islam dan pembebasan masyarakat berdasarkan nilai-nilai tersebut.
Pendidikan kader mempunyai peran yang sangat penting bagi perjuangan. Ia tidak saja memberikan jalan perjuangan menuju kebangkitan umat dan bangsa yang benar, tetapi juga menciptakan panduan bagi pola pikir, pola sikap serta perasaan dalam kehidupan kader seharí-hari. Dengan perkaderan yang sistemik, seorang kader dapat mengamati ide-ide dusta yang ditiupkan penguasa dan dari oknum-oknum yang ingin menyasarkan garis perjuangan organisasi. Perkaderan bagi seorang kader dapat diwujudkan melaui turut serta dalam diskusi-diskusi, membaca buku dan publikasi lainnya serta melalui analisa.
MENGAPA PERKADERAN SANGAT PENTING
Perkaderan menjadi sangat penting bagi perjuangan organisasi karena ia mengajarkan analisa yang benar mengenai kondisi masyarakat Indonesia dan akar-akar masalah dari masyarakat dan jalan pemecahannya. Dengan jalan mempelajari Islam secara mendalam serta wawasan pengetahuan yang mendukung, akan mengobarkan semangat kader melawan imperialisme yang menghisap dan menindas masyarakat.. menyatukan pikiran dan gerak dalam satu perjuangan yang rapi demi mereka yang tertindas.
Perkaderan memberikan pengetahuan yang utuh dan sistematis mengenai cara pandang kita terhadap permasalahan-permasalahan masyarakat. Semua pengetahuan kita tentang apa, bagaimana dan untuk siapa kita berjuang akan membentuk sebuah ideologi. Pengajaran tentang ideologi Islam dalam setiap perkaderan kita akan memberikan pemahaman yang benar bagi kader  tentang bagaimana ia berjuang mewujudkan nilai-nilai Islam sebagai jalan pemecahan bagi permasalahan-permasalahan masyarakat.
Perkaderan berbasis nilai-nilai (ideologi) Islam merupakan keharusan serta proses yang terus menerus bagi seorang kader. Tantangan perjuangan akan semakin menaikkan semangat dan menjadikan kita antusias dalam mempelajari prinsip-prinsip Islam dalam perubahan masyarakat.. Mempelajari masalah-masalah masyarakat serta mengaanalisa akar permasalahan tersebut akan menemukan jawaban dengan cara mengkomparasikan dengan nilai-nilai Islam. Hasil dari analisa tersebut akan membimbing kita dalam menganalisa dan memecahkan masalah-masalah yang bakal kita hadapi dalam perjuangan. Pengetahuan tentang isu umat yang tertindas didalam kita akan menetapkan garis perjuangan terhadap berbagai isu ekonomi, politik serta situasi masyarakat akan menempatkan kita dalam pelbagai sector perjuangan.

SIKAP SEORANG KADER DALAM PENDERITAAN
Sejarah telah membuktikan bahwa setiap perjuangan dalam membebaskan masyarakat kearah yang lebih baik akan selalu menghadapi tantangan yang terjal, seperti penolakan, pendustaan dan penganiayaan.. Bisa jadi masyarakat yang belum tercerahkan atau alam pikirannya masih dipengaruhi oleh pikiran-pikiran yang bobrok akan mendustakan, mencibir bahkan menuduh kita sebagai pengacau yang hina. Itulah perkataan yang akan kita tarima bagi para kader pengemban misi. Oleh karena itu wajib bagi kader untuk membangkitkan umat dan bangsanya, mengangkat martabatnya dan mengubah apa-apa yang  terdapat dalam jiwa-jiwa masyarakat yang secara tidak sadar mengikuti kemauan kelas penguasa dan penindas.
Aktivitas untuk mewujudkan kebangkitan itu dalam realitas kehidupan harus disertakan dengan kesungguhan dan kerja keras serta kesanggupan menghadapi ujian dan cobaan. Kesiapan jiwa, rasa tanggung jawab dan kepemimpinan atas umat merupakan konsekuensi bagi kader. Kewajiban kader yang dituntut pertanggung jawaban dari setiap kader adalah pertanggungjawaban atas masa depan HMI dan satu miliar lebih umat Islam . selain itu kewajiban penting yang dituntut pertanggungjawabannya adalah mengenai ilmu/pengetahuan yang ia dapat. Apakah ilmu yang ia dapat hanya untuk konsumsi pribadi atau ia berikan untuk kemaslahatan umat dan bangsanya.
Seorang kader faham secara sadar bahwa akan selalu ada penderitaan, pengorbanan dan kematian membangkitkan umat dan bangsanya. Hal ini merupakan yang sangat alami, karena menegakan kebenaran akan selalu mendapat perlawanan dari pihak-pihak yang menghisap dan menindas. Seorang kader tidak boleh gentar menerima celaan dari orang yang suka mencela dalam perjuangan, tidak tunduk kepada penguasa, tidak pula menjilat kepada para penguasa serta tidak berdiam diri terhadap kemungkaran .
Keberanian dan kesabaran seorang kader dalam menghadapi masyarakat maupun para penguasa yang menindas. Masyarakat akan menampakkan sikap permusuhan dan perlawanan terhadap setiap pemikiran baru yang hendak mengubah gaya hidup, membersihkan sisa-sisa feodalisme dan kapitalis birokrat yang telah terbentuk dan menjadi tradisi yang telah dijalankan . keberanian dan kesabaran diperlukan untuk melindungi kepentingan umat dan perubahan. Ia diperlukan untuk membebaskan umat dan bangsa dari penghisapan dan penindasan dan mendirikan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.  
Seorang kader siap menderita dan berkorban, dan bahkan mati demi perjuangan. Penderitaan seorang kader adalah pantas karena ini demi kemenangan umat dan bangsa menuju kebangkitan Islam. Ia mengetahui bahwa segera kita menyaksikan fajar kemenangan yang telah lama kita tunggu.  Ditengah-tengah bahaya dan penindasan, kesiapan untuk berkorban dan mati akan memberikan keteguhan dan keberanian kepada seorang kader untuk memelihara dan berjuang untuk kepentingan umat, bangsa dan kebangkitan Islam..