Pemuda merupakan generasi penerus bangsa, maju tidaknya suatu bangsa tergantung dari sebesar apa kualitas dari pemuda tersebut. Ketika suatu bangsa tidak memiliki generasi muda yang berkualitas, maka bangsa tersebut hanya tingga menunggu kehancurannya, sama halnya dengan suatu bangsa yang dianugrahi kekayaan alam yang melimpah, ketika mereka tidak memiliki generasi yang berkualitas, maka mereka tidak akan dapat mengelola kekayaan alam tersebut yang pada akhirnya juga pada kehancuran bangsa tersebut.
Generasi muda yang berkualitas hanya dapat diraih melalui proses pendidikan dan pengalaman yang mereka dapat. Proses pendidikan dan pengalaman dapat melatih cara berpikir mereka secara sistematis dan kreatif. Ketika seorang pemuda dihadapkan pada suatu permasalahan yang sifatnya insidental seperti hanya ketika mereka sedang mengalami titik jenuh karena ada dalam jajaran pengangguran, maka dengan berbekal pada proses pendidikan dan pengalaman yang mereka dapat, mereka secara kreatif akan mencari solusi dari permasalahan tersebut entah itu dengan membuat sebuah inovasi usaha yang menarik atau dengan bermitra dengan keprofesian lainnya.
Akhir-akhir ini, kualitas dari para pemuda kita seakan sedang mengalami degradasi yang signifikan, hal itu disebabkan oleh kurangnya pembinaan terhadap para pemuda, tapi lebih dari itu, juga disebabkan oleh mind set yang terbangun dalam pola pikir dan pola prilaku mereka telah keracuni oleh budaya-budaya asing (westernisasi) yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa indonesia dan terjebak dalam cara pandang konsumenisme yang tidak memiliki inovasi dalam mengembangkan taraf hidupnya. Sebagai contoh dalam berpenampilah, tidak sedikit para pemuda kita yang dengan gembiranya menirukan stylis asing seperti memakai rok mini, celana mini, dan pakaian ketan bagi perempuan, dan memakai model rambut punk bagi para pria yang jelas-jelas dalam islam dilarang karena tergolong dalam qoza’, hal ini menunjukkan ketidak mampuan generasi muda kita dalam menghadapi akulturasi budaya yang disebabkan oleh globalisasi. Ketika permasalahan-permasalahan tersebut yang bisa dikategorikan dalam permasalahan ideologis tidak segera diatasi, maka permasalahan-permasalahan tersebut akan melahirkan permasalahan-permasalahan yang lain yang akan menjadi tradisi dalam masyarakat, dan tradisi tersebut juga akan mengeneralisir dalam pola pikir masyarakat yang akhirnya akan menjadi sebuah budaya yang sangat sulit untuk diperbaiki.
Pemerintah sebagai payung negara dan payung bangsa, tidak boleh hanya berdiam diri dan berbangga hati dengan program-program yang telah mereka rencanakan. Kenapa demikian? Karena tidak sedikit program-program kepemudaan yang telah direncanakan baik dalam lingkup daerah mauun pusat kurang memiliki nilai edukatif terhadap para pemuda, hal itu dibuktikan dengan banyaknya program kepemudaan yang diwujudkan dalam bentuk materi yang hanya bisa dinikmati sesaat seperti sarana olah raga. Dan tidak sedikit juga program kepemudaan yang telah dipolitisasi oleh beberapa golongan untuk kepentingan pribadi. Dan dari itu semua, kita dapat mengatakan “mau dibawa kemana masa depan generasi muda kita?” tentunya itu merupakan pertanyaan yang dilematis bagi bangsa kita ketika dihadapakan pada keinginan yang diharapkan dengan realitas yang terjadi saat ini.
Ketidak sesuaian antara harapan dan realitas tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi masyarakat indonesia khususnya pemerintah sebagai payung negara sehingga dibutuhkan kerja ekstra dari pemerintah untuk menyelesaikan persoalan tersebut, tentunya itu semua tidak hanya dengan realisasi program-program saja, tapi lebih dari itu, setiap program haruslah berkesinambungan dan terkontrol dengan baik. Untuk mencapai itu semua harus ada kesadaran dan kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat.
