Sabtu, 27 Mei 2017

HMI SEBAGAI BENTENG INDONESIA

Dalam beberapa dekade ini, kita telah memasuki masa milenium ke-dua yang ditandai dengan tingginya proses globalisasi dalam masyarakat dunia baik dalam segi politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan pendidikan. Tingginya akulturasi budaya antar bangsa dan negara yang disebabkan globalisasi, sangat berpengaruh terhadap eksistensi nilai-nilai luhur  dari setiap bangsa. Seperti halnya di indonesia yang pada awalnya memiliki kepercayaan kepada ritual-ritual keagamaan dalam suatu keberhasilan, sekarang telah bergeser pada paradigma berpikir materialis-empiris yang mengenyampingkan nilai-nilai yang bersifat transendental yang pada masa lalu telah menjadi sumber semangat juang dalam meraih kesuksesan bahkan dalam proses meraih kemerdekaan sekalipun. Akulturasi budaya dan nilai yang tidak terkontrol dan tidak terkendali hanya akan menggeser nilai-nilai luhur, bahkan lebih dari itu juga dapat menghapus nilai-nilai luhur bangsa ini. Akan tetapi ketika akulturasi budaya dan nilai-nilai tersebut dapat diawasi dan dikendalikan, maka bukan tidak mungkin akulturasi budaya dan nilai-nilai tersebut akan menjadi bagian dari pengembangan peradaban bangsa ini.
HMI sebagai organisasi perjuangan memiliki peran dan posisi yang sangat strategis  dalam mengawal jalannya akulturasi budaya dan nilai-nilai sebagai dampak dari adanya globalisasi. Kenapa demikian? Karena HMI sebagai organisasi mahasiswa islam tertua di indonesia bisa dikatakan telah matang dalam mengawal dan menyelesaikan berbagai macam problem keumatan dan kebangsaan yang dibawa oleh globalisasi. Artinya HMI tidak hanya sebatas organisasi kemahasiswaan yang hanya melihat indonesia dalam keca mata keislaman saja, tapi lebih dari itu HMI juga melihat indonesia dalam kacamata kebangsaan, dan itu terlihat dengan jelas dalam tujuan HMI yang terakhir bahwa : “bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai allah swt” .
Keikut sertaan HMI dalam mengawal dan mengontrol tingginya akulturasi budaya dan nillaitersebut juga dapat dilihat dalam setiapproes perkaderan HMI yang selalu berusaha mencetak dan membina kader-kader pajuang yang akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam, dan bertanggung jawab. Sehingga dengan perkaderan HMI yang sedemikian rupa menjadikan HMI sebagai salah satu sumber munculnya para pengawas dan pengontrol globalisasi . dan dengan begitu HMI juga dapat dikatakan telah berpartisipasi aktif dalam dalam proses percaturan politik internasional.
HMI sebagai salah satu sumber intelektual muslim telah mengalami perjalanan sejarah yang sangat panjang dalam memperjuangkan indonesia yang bermartabat dan tidak terbawa arus negatif globalisasi dan westernisasi yang berbau kapitalis. Dan dalam setiap perjuangan tersebut telah menampakkan hasil yang memuaskan dengan tidak tergesernya budaya dan nilai-nilai luhurbangsa indonesia. Akan tetapi beberapa tahun ini, kader-kader HMI seakan telah hilang dalam pengawasan globalisasi tersebut. Akibatnya saat ini sering terjadi westernisasi budaya masyarakat indonesia, tidak hanya itu juga sering terjadi penghapusan budaya dan nilai-nilai luhur dalam masyarakat indonesia yang seyogyanya harus selalu dipegang teguh oleh masyarakat indonesia sebagai dasar semangat juang bangsa indonesia yang pada akhirnya diwariskan kepada generasi penerus bangsa. Sehingga hal tersebut memunculkan pertanyaan yang kiranya sangat penting untuk dijawab, yaitu: dimanakah kader HMI?
Seyogyanya kader HMI secara dhohir selalu ada, tapi ketika kita lihat perannya dalam mengawal proses akulturasi budaya sebagai imbas dari globalisasi seakan redup. Hal itu karena kader-kader HMI dewasa ini telah tenggelam dalam putaran politik pragmatis, hal tersebut merupakan salah satu penyebab kurang pekanya kader HMI terhadap westernisasi di indonesia. Sehingga tidak sedikit kader HMI dewasa ini yang kurang faham terhadap problem-problem keumatan dan kebangsaan. Padahal saat ini indonesia sedang mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan karena disamping dihadapkan pada globalisasi dan westernisasi, juga dihadapkan pada kondisi masyarakat indonesia khususnya kader HMI saat ini yang tidak sadar akan adanya globalisasi dan westernisasi. Hal itu mengantarkan indonesia dalam kepungan ideologi-ideologi dunia yang telah menghegemoni struktur kekuasaan dan ekonomi sosial yang sewaktu-waktu akan meluluh-lantahkan bangsa indonesia.
Oleh sebab itu, sudah saatnya kader-kader HMI bangun dan sadar dari keterlenaannya terhadap politik pragmatis dan kembali kepada perkaderan yang sebenarnya. Sehingga HMI sekarang dan dimasa yang akan datang menjadi benteng pertahanan indonesia dari berbagai macam serangan bangsa asing yang ingin menjajah indonesia baik secara terbuka maupun secara semu, baik dalam politik, ekonomi, sosial budaya, maupun pendidikan.