Rabu, 02 November 2016

TEORI BELAJAR KOGNITIVISME

Moh Khorofi[1]

Kognitivisme merupakan sebuah aliran psikologi perkembangan manusia yang berpengaruh terhadap pendidikan, salah satu perannya adalah munculnya Teori Belajar Kognitivisme. Teori Belajar Kognitivisme lahir dari ketidak puasa para pemikir pendidikan terhadap teori belajar Behaviorisme yang menyatakan belajar hanya melibatkan unsur stimulus dan respon individu. Teori belajar kognitif berpandangan bahwa dalam belajar tidak hanya melibatkan stimulus dan respon, tapi juga melibatkan aktivitas kejiwaan yang lain seperti pemahaman, kesadaran, dan sebagainya. dalam teori ini beberapa tokoh seperti Jean Piaget, Jerome S. Bruner, David P. Ausubel, dan Robert M. Gagne juga ikut berperan dalam pengembangan teori belajar kognitif. Dalam artikel ini pendekatan yang digunakan oleh penulis adalah pendekatan teoritis.
Kata kunci: belajar, kognitivisme



Pendahuluan
Manusia merupakan makhluk sosial yang berpendidikan, dikatakan maskhluk sosial karena manusia saling tergantung satu sama lain dan dikatakan makhluk berpendidikan karena setiap manusia memiliki kemampuan menalar atau berfikir. Pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia karena hanya dengan pendidikan suatu bangsa atau negara dapat memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan produktif. sehingga pendidikan dapat diibaratkan sebagai lentera yang menyinari jalan manusia dalam kegelapan.
Pendidikan bagi manusia tidak hanya merupakan sebuah pengajaran formalitas artinya tidak hanya sebatas masuk sekolah dan pulang, akan tetapi pendidikan lebih merupakan sebuah proses melatih manusia untuk mengoptimalkan kemampuan dirinya yang melingkupi kemampuan intelektual, kemampuan emosional, dan kemampuan spiritual  yang dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989, Bab I, Pasal 1 menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.
Begitu pentingnya pendidikan bagi manusia, sehingga melahirkan berbagai macam aliran dalam pendidikan seperti aliran behaviorisme, aliran kognitivisme, dan aliran konstrutivisme yang melahirkan berbagai macam teori tentang pendidikan salah satunya yaitu teori belajar kognitif
Oleh karena itu, dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan salah satu teori belajar dalam pendidikan yaitu teori belajar kognitif sebagai langkah awal perbandingan antara teori belajar kognivisme dengan teori-teori belajar yang lain, sehingga tercipta formulasi pendidikan yang efektif dan efisien.
Pengertian Teori Belajar Kognitivisme
Sebelum kita membahas tentang teori belajar kognitivisme, tentunya alangkah lebih baik jika kita ketahui terlebih dahulu tentang makna dari teori itu sendiri. Secara ringkas Dale H. Schunk menyatakan bahwa teori adalah prinsip yang diterima secara ilmiah yang diatawarkan untuk menjelaskan sebuah fenomena.[2] Sedangkan menurut Kerlingar sebagaimana yang dikutip oleh Suyono dan Hariyanto menyatakan bahwa teori adalah suatu himpunan dari konstruk-konstruk (konsep-konsep), definisi-definai dan proposisi-proposisi yang saling berkaitan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis tentang suatu fenomena dengan cara menentukan hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan fenomena tersebut.[3]
Dari dua pendapat para ahli tersebut dapat dipahami bahwa teori adalah suatu himpunan gagasan yang ilmiah dan bertujuan untuk menjelaskan fakta-fakta atau fenomena-fenomena yang terjadi dilingkungan masyarakat.
Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang padanannya knowing yang berarti mengetahui. Dalam arti yang luas cognition berarti perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan.[4] Dalam perkembangan selanjutnya cognition ini menjadi sangat populer dalam ranah wilayah psikologi manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.
Teori belajar kognitif merupakan teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati, melihat, menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain, kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori belajar kognitiv lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri.[5] Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan aktifitas mental seorang individu yang sedang belajar. “Karena itu menurut teori kognitf belajar adalah sebuah proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan menggunakan pengetahuan”.[6] Sehingga perilaku yang tampak pada manusia tidak dapat diukur melainkan dengan proses mental seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan sebagainya. Dengan kata lain, pendekatan kognitif dalam belajar memfokuskan pembahasan pada bagaimana manusia berpikir, memahami, dan mengetahui.
Teori belajar kognitif berpijak pada tiga hal, yaitu:
1.      Perantara sentral ( central intermdiaries)
Proses-proses pusat otak (central baim), misalnya ingatan atau espektasi merupakan integrator tingkah laku yang bertujuan. Pendapat ini berdasarkan pada inferensi tingkah laku yang tampak (diamati).
2.      Pertanyaan tentang apa yang dipelajari? Jawabannya adalah struktur kognitif, bahwa yang dipelajari adalah fakta, kita mengetahui dimana adanya, yang mengetahui alternate routes illustratis cognitive structure. Variabel tingkahlaku non habitual adalah struktur kognitif sebagai bagian dari apa yang dipelajari.
3.      Pemahaman dalam pemecahan masalah. Pemecahan suatu masalah ialah dengan cara menyajikan pengalan pada masa lampau dalam bentuk struktur perseptual yang mendasari terjadinya insight (pemahaman) dimana adanya pengertian mengenai hubungan-hubungan  yang esensial. Preferensi yang digunakan adalah the contemporary structuring of the problem.[7]
Sejarah Singkat Kognitivisme
Teori belajar kognitif lahir dari ketidak puasan Bode seorang ahli psikologi Gestalt dan para pemikir pendidikan terhadap teori Behaviorisme yang mengatakan bahwa belajar hanya sekedar hubungan antara stimulus dan respon pada tahun 1929. Menurut mereka perilaku seorang selalu didasarkan oleh kognitif, artinya tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana perilaku itu terjadi.[8] Peralihan teori belajar dari behavioristik ke kognitif tidak semerta-merta dengan mudah beralih melainkan harus melalui berbagai macam rintangan akademis, peralihan dari behavioristik ke kognitif tersebut disebut dengan istilah revolusi kognitif (cognitive revolution). Revolusi kognitif merupakan nama suatu gerakan pada tahun 1950-an yang terjadi karena adanya komunikasi dan riset antar disiplin yang intensif, yang esensinya tidak menyetujui penerapan konsep behavioristik yang hanya mengandalkan pada stimulus dan respon dan tidak memperhatikan proses mental atau pikiran.[9]
Revolusi kognitif (cognitive revolution) melibatkan beberapa ahli psikologi, antropologi, dan linguistik diantaranya yaitu: Jerome Bruner, Donald Broadbent, Ulric Neisser, Noam Chomsky, Herbert Simon, dan Allen Newell.[10] Revolusi kognitif ini mencapai puncaknya pada tahun 1980-an dengan banyaknya publikasi-publikasi dari para filsuf seperti Daniel Dennet dan ahli-ahli kecerdasan buatan (artificial intelligence) seperti douglas hosttadter.
Berdasarkan pernyataan Steven Piker yang dikutip oleh Suyono dan Hariyanto, ada lima gagasan pokok yang melandasi terjadinya revolusi kognitif, yaitu:
1.      Dunia mental dapat dibumikan pada dunia fisis melalui konsep-konsep informasi, komputasi, dan umpan balik
2.      Pikiran tidak mungkin seperti papan tulis kosong, karena papan tulis kosong tidak dapat berbuat apa-apa.
3.      Suatu rentan yang tidak terbatan menyangkut perilaku dapat dibangkitkan oleh program-program tertentu di dalam pikiran.
4.      Mekanisme mental universal dapat menjadi dasar timbulnya berbagai macam variasi tindakan lintas budaya.
5.      Pikiran adalah suatu sistem kompleks yang tersusun dari bagian-bagian yang saling berinteraksi.[11]
Teori Belajar Berbasis Kognitivisme
Dalam teori belajar kognitivisme ada dua pemikiran pokok, yaitu teori pemrosesan informasi dan teori skema.[12] Kedua gagasan ini dikembangkan dengan baik oleh para pengembang kognitivisme seperti Jean Piaget, Jerome S. Bruner, David P. Ausubel, dan Robert M. Gagne sehingga menghasilkan berbagai macam teori yang berbasis kognitivisme. Berikut penulis paparkan beberapa teori belajar yang berbasi kognitivisme.
1.      Teori kognitif Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa jerman yang padanan artinya adalah shape (bentuk) dan figure (gambar).[13] Gestalt adalah sebuah pandangan atau perspektif yang menekankan bahwa kesadaran manusia tidak dapat dipecah kedalam bebarapa bagian dan teori ini lebih mengutamakan sebuah pengorganisasian.[14] Gestalt dengan tokoh-tokohnya seperti Max Wertheimer, Wolfgang Kohler, dan Kurt Kofka  belum merasa puas terhadap hasil penelitian tokoh-tokoh sebelumnya yang menyatakan bahwa belajar sebagai stimulus dan respon dan manusia sebagai makhlukyang mekanis. Setelah adanya ketidak puasan terhadap para ahli sebelumnya, para tokoh Gestalt melakukan penelitian-penelitian yang sifatnya persepsional. Mereka menyatakan bahwa belajar tidak hanya karena adanya keterlibatan stimulus yang selalu mempengaruhi manusia, tapi lebih dari itu manusia adalah makhluk individu yang utuh antara jasmaniyah dan rohaniyah. Sehingga ketika manusia dihadapkan dengan lingkungannya, manusia tidak hanya melibatkan keterlibatan respon dalam dirinya, tetapi juga melibatkan unsur subjektivitas yang tidak akan sama antara individu yang satu dengan yang lain.
Teori Gestalt berbeda dengan teori-teori behavioristik seperti teori trial and error Thorndike, teori Gestalt menyatakan bahwa belajar adalah proses yang didasarkan pada pemahaman.[15] Karena pada dasarnya setiap tingkah laku seseorang seslalu didasarkan pada aktivitas kognisi yaitu sebuah aktivitas memahami lingkungan yang berada disekitar individu. Dengan kata lain, teori Gestal menyatakan bahwa yang paling penting dalam proses belajar adalah pemahaman individu terhadapa apa yang dipelajarinya. Oleh karenanya teori Gestalt juga disebut dengan istilah teori insight atau teori pemahaman.
Menurut pengikut Gestalt belajar tidak terlepas dari proses individu mempersepsi stimulus yang didapatkannya dari lingkungannya. Para penganut Gestalt percara bahwa belajar adalah proses yang menghasilkan persepsi yang baru dimana indivdu dapan membentu sebuah konsep yang sesuai dengan pikiran mereka.
Wolfgolher Kohler menjelaskan teori Gestalt dengan melakukan percobaan terhadap seekor simpanse yang diberi nama Sultan. Dalam percobaannya terhadap simpanse, Kohler ingin mengetahui bagaimana fungsi Insight pada simpanse dalam memecahkan masalah dan tidak hanya mengandalkan stimulus dan respon atau trial and error. Berikut penulis paparkan salah satu percobaan Kohler terhadap simpanse dalam rangkan untuk mengetahui fungsi insight dalam memecahkan masalah.
Kohler mamasukkan seekor simpanse kedalam kandang dan tidak jauh dari kandang simpanse tersebut ada sebuah tongkat dan sebuah pisang yang agak jauh dari kandang. Simpanse tersebut berusaha meraih pisang tersebut dengan tangannya tetapi tidak berhasil karena tangan simpanse tersebut terlalu pendek. Selang beberapa menit simpanse tersebut terdiam dan mengambil tongkat didekat kandangnya, dan ternyata simpanse tersebut berusaha mengambil pisang tersebut dengan menggunakan tongkat tersebut untuk merihnya.[16]
Dari eksperimen tersebut, kohler menjelaskan bahwa simpanse dapat menyelesaikan problem dengan insightnya, dan seterusnya insight tersebut akan dipakai dalam menghadapi problem-problem yang serupa.
Percobaan yang dilakukan oleh Kohler menunjukkan pentingnya pembentukan insight dalam belajar. Penggunaan insight dalam belajar (Insightfull Learning) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Insight tergantung pada kemampuan dasar.
b.      Insight tergantung pada pengalaman masa lampau yang relevan
c.       Insight tergantun pada situasi yang dihadapi
d.      Insight didahului oleh proses mencari dan mencoba-coba (trial and error)
e.       Solusi problem yang dialam dengan insight dapat diulangi dengan mudah.
f.       Jika insight telah terbentuk, maka problem yang lain akan dapat dengan mudah dipecahkan dengan mudah.
Gagasan pokok teori Gestalt adalah pengelompokan atau grouping, hal ini dapat kita pahami dari beberapa hukum Gestalt, yaitu:
1)      Proximity, kedekata, objek yang berdekatan satu sama lain cenderung berkelompok.
2)      Symmetry, kesamaan, makin mirip suatu objek makin cderung mereka mengelompok.
3)      Good contiuniatio, kesinambungan, objek yang membentuk garis sambung cenderung mengelompok.
2.      Teori Belajar Medan Kognitif dari Kurt Lewis
Kurt Lewis mengembangkan Teori Medan Kognitif (Cognitive Field) dengan menaruh perhatian terhadap kepribadian dan psikologi sosial. Lewis memandang bahwa setiap individu berada dalam suatu medan psikologis yang disebut ruang hidup (Life Space).[17] Life Space merupakan manivestasi lingkungan dimana individu bereaksi, seperti individu bereaksi dengan tumbuhan, hewan, bahkan masyarakat.
Dalam ruang hidup, seorang individu memiliki tujuan yang ingin dicapai yang didorong oleh motif hidupnya, sehingga individu tersebut berusaha untuh mencapainya. Ketika individu tersebut telah berhasil mencapai tujuan tersebut, maka ia akan memasuki medan kognitif baru dan akan menemui tujian dan rintangan baru, dan seterusnya hal ini terus berlanjut.[18]
Seteleh kita baca uraian diatas, dapat dipahami bahwa hal ini prinsipnya sama dengan percobaan Kohler terhadap seekor simpanse pada pembahasan teori Gestalt sebelumnya, yang membedakan hanya terletak pada sudut pandangnya saja yaitu apabila teori Gestalt menitik beratkan pada Insight (pemahaman), maka teori medan kognitif menitik beratkan pada medan dalam menghadapi masalahnya.
Implementasi  teori Gestalt dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut:
a)      Pengalaman pemahaman (Insight)
b)      Pembelajaran bermakna (Meaningful Learning)
c)      Perilaku bertujuan (Purposive Behavior)
d)     Prinsip ruang hidup (Life Space)
e)      Transfer dalam belajar.[19]
3.      Jean Piaget, teorinya disebut "Cognitive Developmental"
Dalam teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dan fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmental karena penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif.[20] Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif. Jean Piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap:
a.       Tahap sensory – motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana.
b.      Tahap pra – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.
c.       Tahap concrete – operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.
d.      Tahap formal – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola pikir "kemungkinan".[21]
Dalam pandangan Piaget, proses adaptasi seseorang dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua bentuk proses, yaitu: asimilasi dan akomodasi.[22] Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima seseorang cocok dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang tersebut. Sebaliknya, akomodasi terjadi jika struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi/di kode ulang disesuaikan dengan informasi yang baru diterima.
Dalam teori perkembangan kognitif ini Piaget juga menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga stabilitas mentalnya. Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.
4.      Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Bruner.
Berbeda dengan Piaget, Burner melihat perkembangan kognitif manusia berkaitan dengan kebudayaan. Bagi Bruner, perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan, terutama bahasa yang biasanya digunakan.[23]
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan. (Discovery Learning).
5.      Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Ausebel
Yang memandang bahwa Proses belajar terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru yang dimana Proses belajar terjadi melaui tahap-tahap:
a.       Memperhatikan stimulus yang diberikan
b.      Memahami makna stimulus menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.[24]
Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan demikian akan mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan dipelajari oleh siswa. Advanced organizer memberikan tiga manfaat yaitu :
1)      Menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari.
2)      Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan yang akan dipelajari.
3)      Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.
6.      Teori belajar dari Robert M. Gagne
Gagne menggabungkan antara ide-ide behaviorisme dengan kognivisme dalam pembelajaran. menurut Gagne, dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang pada akhirnya dikelola oleh individu dan di keluarkan dalam bentuk kegiatan sehari-hari.[25] Dalam teorinya, Gagne menjelaskan bahwa dalam pemrosesan informasi terjadi interaksi antara faktor internal individu dengan eksternal individu. Vaktor internal merupakan individu itu sendiri, sedangkan eksternal adalah lingkungan dimana indivdu tersebut mendapatkan informasi, faktor eksternal ini disebut dengan sembilan peristiwa pembelajaran, yaitu:
a.       Memberikan perhatian (Gain Attention)
b.      Memberi tahu siswa tentang tujuan pembelajaran (Informlearner Of Objectives)
c.       Dibangun atas pengetahuan yang telah lalu ( Recall Prior Knowledge)
d.      Menyajikan pembelajaran sebagai rangsangan ( Present Material)
e.       Memberikan panduan belajar ( provide guide learning)
f.       Memberikan umpan balik (provide feedback)
g.      Menilai kinerja (asses performence)
h.      Meningkatkan retensi/ingatan dan transfer pengetahuan (enhance retention and transfer)[26]
Sembilan peristiwa pembelajarn ini menurut Gagne secara tidak langsung juga disebut sebagai langkah-langkah pembelajaran menurut Gagne.
Teori Gagne tentang pembelajaran terdiri dari tidak prinsip, yaitu: syarat pembelajaran (condition of learning), sembilan peristiwa pembelajaran (nine event of intructions), dan taksonomi hasil belajar (tacsonomi of lerning outcomes).
Implikasi Teori Kognitivistik dalam Dunia Pendidikan
Adapun Impilikasi Teori Kognitivisme dalam dunia pendidikan yang lebih dispesifikasikan dalam Pembelajaran sesuai dengan Teori yang telah dikemukan diatas sebagai berikut:
1.      Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2.      Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3.      Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing, Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
4.      Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
5.      Menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah, anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya, dan dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dadalam benaknya.
6.      Implikasinya dalam pembelajaran adalah seorang pendidik, mereka harus dapat memahami bagaimana cara belajar siswa yang baik, sebab mereka para siswa tidak akan dapat memahami bahasa bila mereka tidak mampu mencerna dari apa yang mereka dengar ataupun mereka tangkap.
Dan dari beberapa teori diatas jelas masing-masing mempunya implikasi yang berbeda, namun secara umum teori kognitivisme lebih mengarah pada bagaimana memahami struktur kognitif siswa.

Implikasi Teori Belajar Kognitif Dalam Pembelajaran PAI

Kesimpulan
Pengertian belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi teori adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.
Di antara para teori kognitif, paling tidak ada tiga yang terkenal yaitu Piaget, Bruner, dan Ausubel. Menurut Piaget, kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta melalui proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Sedangkan Bruner mengatakan bahwa belajar terjadi lebih ditentukan oleh cara seseorang mengatur pesan dan informasi, dan bukan ditentukan oleh umur. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap anaktif, ikonik, dan simbolik. Sementara itu Ausubel mengatakan bahwa proses belajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks. Pebedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin. Wahyuni, Esa Nur, Teori Belajar dan Pembelajaran ( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015).
Dahar, Ratna Wilis, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran (Surabaya: Erlangga, 2011).
H. Schunk, Dale, Learning Theories ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012)
Hamalik, Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran ( Jakarta: PT Bumuaksara, 2012).
Khodijah, Nyayu, Psikologi Pendidikan ( Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2014).
Sholihin, Mochlis, Psikologi Belajar:Aplikasi Teori-Teori Belajar Dalam Proses Pembelajaran ( Surabaya: Pena Salsabila, 2013).
Suyono. Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015)
Syah, Muhibbin, Psikologi Pembelajaran ( Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2012).


[1] Penulis adalah mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana STAIN Pamekasan. Nomor Hp. 082333278114 e-mail: mkhorofi199@gmail.com
[2] Dale H. Schunk, Learning Theories ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 15.
[3] Suyono, Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), 27.
[4] Muhibbin Syah, Psikologi Pembelajaran ( Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2012), 22.
[5] Suyono, Hariyanto, Belajar, 75.
[6] Baharuddin, Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran ( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), 126.
[7] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran ( Jakarta: PT Bumuaksara, 2012), 45.
[8] Suyono, Hariyanto, Belajar, 73.
[9] Ibid, 74.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran (Surabaya: Erlangga, 2011), 27.
[13] Suyono, Hariyanto, Belajar, 79.
[14] Baharuddin, Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar, 127.
[15] Ibid.
[16] Ibid, 130.
[17] Nyayu Khodijah, Psikologi Pendidikan ( Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2014), 77.
[18] Suyono, Hariyanto, Belajar, 81.
[19] Ibid, 82.
[20] Mochlis Sholihin, Psikologi Belajar:Aplikasi Teori-Teori Belajar Dalam Proses Pembelajaran ( Surabaya: Pena Salsabila, 2013), 84.
[21] Ibid, 85.
[22] Suyono, Hariyanto, Belajar, 86.
[23] Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar, 74.
[24] Ibid,95.
[25] Suyono, hariyanto, Belajar,92.
[26] Ibid, 93.