Moh Khorofi[1]
Kognitivisme merupakan sebuah aliran psikologi perkembangan manusia
yang berpengaruh terhadap pendidikan, salah satu perannya adalah munculnya Teori
Belajar Kognitivisme. Teori Belajar Kognitivisme lahir dari ketidak puasa para
pemikir pendidikan terhadap teori belajar Behaviorisme yang menyatakan belajar
hanya melibatkan unsur stimulus dan respon individu. Teori belajar kognitif
berpandangan bahwa dalam belajar tidak hanya melibatkan stimulus dan respon,
tapi juga melibatkan aktivitas kejiwaan yang lain seperti pemahaman, kesadaran,
dan sebagainya. dalam teori ini beberapa tokoh seperti Jean Piaget, Jerome S.
Bruner, David P. Ausubel, dan Robert M. Gagne juga ikut berperan dalam
pengembangan teori belajar kognitif. Dalam artikel ini pendekatan yang
digunakan oleh penulis adalah pendekatan teoritis.
Kata kunci: belajar, kognitivisme
Pendahuluan
Manusia
merupakan makhluk sosial yang berpendidikan, dikatakan maskhluk sosial karena
manusia saling tergantung satu sama lain dan dikatakan makhluk berpendidikan
karena setiap manusia memiliki kemampuan menalar atau berfikir. Pendidikan
sangat penting bagi kehidupan manusia karena hanya dengan pendidikan suatu
bangsa atau negara dapat memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas
dan produktif. sehingga pendidikan dapat diibaratkan sebagai lentera yang
menyinari jalan manusia dalam kegelapan.
Pendidikan
bagi manusia tidak hanya merupakan sebuah pengajaran formalitas artinya tidak
hanya sebatas masuk sekolah dan pulang, akan tetapi pendidikan lebih merupakan
sebuah proses melatih manusia untuk mengoptimalkan kemampuan dirinya yang
melingkupi kemampuan intelektual, kemampuan emosional, dan kemampuan spiritual yang dilakukan di lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989, Bab I, Pasal 1
menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
melalui kegatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa
yang akan datang.
Begitu
pentingnya pendidikan bagi manusia, sehingga melahirkan berbagai macam aliran
dalam pendidikan seperti aliran behaviorisme, aliran kognitivisme, dan aliran konstrutivisme
yang melahirkan berbagai macam teori tentang pendidikan salah satunya yaitu
teori belajar kognitif
Oleh
karena itu, dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan salah satu teori belajar
dalam pendidikan yaitu teori belajar kognitif sebagai langkah awal perbandingan
antara teori belajar kognivisme dengan teori-teori belajar yang lain, sehingga
tercipta formulasi pendidikan yang efektif dan efisien.
Pengertian Teori
Belajar Kognitivisme
Sebelum
kita membahas tentang teori belajar kognitivisme, tentunya alangkah lebih baik
jika kita ketahui terlebih dahulu tentang makna dari teori itu sendiri. Secara
ringkas Dale H. Schunk menyatakan bahwa teori adalah prinsip yang diterima
secara ilmiah yang diatawarkan untuk menjelaskan sebuah fenomena.[2]
Sedangkan menurut Kerlingar sebagaimana yang dikutip oleh Suyono dan Hariyanto menyatakan
bahwa teori adalah suatu himpunan dari konstruk-konstruk (konsep-konsep),
definisi-definai dan proposisi-proposisi yang saling berkaitan dan menyatakan
suatu pandangan yang sistematis tentang suatu fenomena dengan cara menentukan
hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan fenomena tersebut.[3]
Dari
dua pendapat para ahli tersebut dapat dipahami bahwa teori adalah suatu
himpunan gagasan yang ilmiah dan bertujuan untuk menjelaskan fakta-fakta atau
fenomena-fenomena yang terjadi dilingkungan masyarakat.
Istilah
cognitive berasal dari kata cognition yang padanannya knowing
yang berarti mengetahui. Dalam arti yang luas cognition berarti
perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan.[4]
Dalam perkembangan selanjutnya cognition ini menjadi sangat populer
dalam ranah wilayah psikologi manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang
berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan
masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini
juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan)
yang bertalian dengan ranah rasa.
Teori
belajar kognitif merupakan teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar.
Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati,
melihat, menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain,
kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori belajar kognitiv lebih
mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri.[5]
Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih
dari itu belajar melibatkan aktifitas mental seorang individu yang sedang
belajar. “Karena itu menurut teori kognitf belajar adalah sebuah proses mental
yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan menggunakan pengetahuan”.[6] Sehingga
perilaku yang tampak pada manusia tidak dapat diukur melainkan dengan proses
mental seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan sebagainya. Dengan kata
lain, pendekatan kognitif dalam belajar memfokuskan pembahasan pada bagaimana
manusia berpikir, memahami, dan mengetahui.
Teori
belajar kognitif berpijak pada tiga hal, yaitu:
1.
Perantara
sentral ( central intermdiaries)
Proses-proses
pusat otak (central baim), misalnya ingatan atau espektasi
merupakan integrator tingkah laku yang bertujuan. Pendapat ini berdasarkan pada
inferensi tingkah laku yang tampak (diamati).
2.
Pertanyaan
tentang apa yang dipelajari? Jawabannya adalah struktur kognitif, bahwa yang
dipelajari adalah fakta, kita mengetahui dimana adanya, yang mengetahui alternate
routes illustratis cognitive structure. Variabel tingkahlaku non
habitual adalah struktur kognitif sebagai bagian dari apa yang dipelajari.
3.
Pemahaman dalam
pemecahan masalah. Pemecahan suatu masalah ialah dengan cara menyajikan
pengalan pada masa lampau dalam bentuk struktur perseptual yang mendasari
terjadinya insight (pemahaman) dimana adanya pengertian mengenai
hubungan-hubungan yang esensial.
Preferensi yang digunakan adalah the contemporary structuring of the
problem.[7]
Sejarah Singkat
Kognitivisme
Teori
belajar kognitif lahir dari ketidak puasan Bode seorang ahli psikologi Gestalt dan
para pemikir pendidikan terhadap teori Behaviorisme yang mengatakan bahwa
belajar hanya sekedar hubungan antara stimulus dan respon pada tahun 1929.
Menurut mereka perilaku seorang selalu didasarkan oleh kognitif, artinya
tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana perilaku itu terjadi.[8]
Peralihan teori belajar dari behavioristik ke kognitif tidak semerta-merta
dengan mudah beralih melainkan harus melalui berbagai macam rintangan akademis,
peralihan dari behavioristik ke kognitif tersebut disebut dengan istilah
revolusi kognitif (cognitive revolution). Revolusi kognitif merupakan
nama suatu gerakan pada tahun 1950-an yang terjadi karena adanya komunikasi dan
riset antar disiplin yang intensif, yang esensinya tidak menyetujui penerapan
konsep behavioristik yang hanya mengandalkan pada stimulus dan respon dan tidak
memperhatikan proses mental atau pikiran.[9]
Revolusi
kognitif (cognitive revolution) melibatkan beberapa ahli psikologi,
antropologi, dan linguistik diantaranya yaitu: Jerome Bruner, Donald Broadbent,
Ulric Neisser, Noam Chomsky, Herbert Simon, dan Allen Newell.[10]
Revolusi kognitif ini mencapai puncaknya pada tahun 1980-an dengan banyaknya
publikasi-publikasi dari para filsuf seperti Daniel Dennet dan ahli-ahli
kecerdasan buatan (artificial intelligence) seperti douglas
hosttadter.
Berdasarkan
pernyataan Steven Piker yang dikutip oleh Suyono dan Hariyanto, ada lima
gagasan pokok yang melandasi terjadinya revolusi kognitif, yaitu:
1.
Dunia mental
dapat dibumikan pada dunia fisis melalui konsep-konsep informasi, komputasi,
dan umpan balik
2.
Pikiran tidak
mungkin seperti papan tulis kosong, karena papan tulis kosong tidak dapat
berbuat apa-apa.
3.
Suatu rentan
yang tidak terbatan menyangkut perilaku dapat dibangkitkan oleh program-program
tertentu di dalam pikiran.
4.
Mekanisme
mental universal dapat menjadi dasar timbulnya berbagai macam variasi tindakan
lintas budaya.
5.
Pikiran adalah
suatu sistem kompleks yang tersusun dari bagian-bagian yang saling
berinteraksi.[11]
Teori Belajar
Berbasis Kognitivisme
Dalam
teori belajar kognitivisme ada dua pemikiran pokok, yaitu teori pemrosesan
informasi dan teori skema.[12]
Kedua gagasan ini dikembangkan dengan baik oleh para pengembang kognitivisme
seperti Jean Piaget, Jerome S. Bruner, David P. Ausubel, dan Robert M. Gagne
sehingga menghasilkan berbagai macam teori yang berbasis kognitivisme. Berikut
penulis paparkan beberapa teori belajar yang berbasi kognitivisme.
1.
Teori
kognitif Gestalt
Gestalt
berasal dari bahasa jerman yang padanan artinya adalah shape (bentuk)
dan figure (gambar).[13]
Gestalt adalah sebuah pandangan atau perspektif yang menekankan bahwa kesadaran
manusia tidak dapat dipecah kedalam bebarapa bagian dan teori ini lebih
mengutamakan sebuah pengorganisasian.[14]
Gestalt dengan tokoh-tokohnya seperti Max Wertheimer, Wolfgang Kohler, dan Kurt
Kofka belum merasa puas terhadap hasil
penelitian tokoh-tokoh sebelumnya yang menyatakan bahwa belajar sebagai
stimulus dan respon dan manusia sebagai makhlukyang mekanis. Setelah adanya
ketidak puasan terhadap para ahli sebelumnya, para tokoh Gestalt melakukan
penelitian-penelitian yang sifatnya persepsional. Mereka menyatakan bahwa
belajar tidak hanya karena adanya keterlibatan stimulus yang selalu
mempengaruhi manusia, tapi lebih dari itu manusia adalah makhluk individu yang
utuh antara jasmaniyah dan rohaniyah. Sehingga ketika manusia dihadapkan dengan
lingkungannya, manusia tidak hanya melibatkan keterlibatan respon dalam
dirinya, tetapi juga melibatkan unsur subjektivitas yang tidak akan sama antara
individu yang satu dengan yang lain.
Teori
Gestalt berbeda dengan teori-teori behavioristik seperti teori trial and
error Thorndike, teori Gestalt menyatakan bahwa belajar adalah proses yang
didasarkan pada pemahaman.[15]
Karena pada dasarnya setiap tingkah laku seseorang seslalu didasarkan pada
aktivitas kognisi yaitu sebuah aktivitas memahami lingkungan yang berada
disekitar individu. Dengan kata lain, teori Gestal menyatakan bahwa yang paling
penting dalam proses belajar adalah pemahaman individu terhadapa apa yang
dipelajarinya. Oleh karenanya teori Gestalt juga disebut dengan istilah teori insight
atau teori pemahaman.
Menurut
pengikut Gestalt belajar tidak terlepas dari proses individu mempersepsi
stimulus yang didapatkannya dari lingkungannya. Para penganut Gestalt percara
bahwa belajar adalah proses yang menghasilkan persepsi yang baru dimana indivdu
dapan membentu sebuah konsep yang sesuai dengan pikiran mereka.
Wolfgolher
Kohler menjelaskan teori Gestalt dengan melakukan percobaan terhadap seekor
simpanse yang diberi nama Sultan. Dalam percobaannya terhadap simpanse, Kohler ingin
mengetahui bagaimana fungsi Insight pada simpanse dalam memecahkan masalah dan
tidak hanya mengandalkan stimulus dan respon atau trial and error.
Berikut penulis paparkan salah satu percobaan Kohler terhadap simpanse dalam
rangkan untuk mengetahui fungsi insight dalam memecahkan masalah.
Kohler
mamasukkan seekor simpanse kedalam kandang dan tidak jauh dari kandang simpanse
tersebut ada sebuah tongkat dan sebuah pisang yang agak jauh dari kandang.
Simpanse tersebut berusaha meraih pisang tersebut dengan tangannya tetapi tidak
berhasil karena tangan simpanse tersebut terlalu pendek. Selang beberapa menit
simpanse tersebut terdiam dan mengambil tongkat didekat kandangnya, dan
ternyata simpanse tersebut berusaha mengambil pisang tersebut dengan
menggunakan tongkat tersebut untuk merihnya.[16]
Dari
eksperimen tersebut, kohler menjelaskan bahwa simpanse dapat menyelesaikan
problem dengan insightnya, dan seterusnya insight tersebut akan dipakai
dalam menghadapi problem-problem yang serupa.
Percobaan
yang dilakukan oleh Kohler menunjukkan pentingnya pembentukan insight
dalam belajar. Penggunaan insight dalam belajar (Insightfull Learning)
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Insight tergantung pada kemampuan dasar.
b.
Insight tergantung pada pengalaman masa lampau yang relevan
c.
Insight tergantun pada situasi yang dihadapi
d.
Insight didahului oleh proses mencari dan mencoba-coba (trial and error)
e.
Solusi
problem yang dialam dengan insight dapat diulangi dengan mudah.
f.
Jika
insight telah terbentuk, maka problem yang lain akan dapat dengan mudah
dipecahkan dengan mudah.
Gagasan pokok teori Gestalt adalah
pengelompokan atau grouping, hal ini dapat kita pahami dari beberapa hukum Gestalt,
yaitu:
1)
Proximity, kedekata, objek yang berdekatan satu sama lain cenderung
berkelompok.
2)
Symmetry, kesamaan, makin mirip suatu objek makin cderung mereka
mengelompok.
3)
Good
contiuniatio, kesinambungan, objek yang membentuk garis sambung cenderung
mengelompok.
2.
Teori
Belajar Medan Kognitif dari Kurt Lewis
Kurt
Lewis mengembangkan Teori Medan Kognitif (Cognitive Field) dengan
menaruh perhatian terhadap kepribadian dan psikologi sosial. Lewis memandang
bahwa setiap individu berada dalam suatu medan psikologis yang disebut ruang
hidup (Life Space).[17] Life
Space merupakan manivestasi lingkungan dimana individu bereaksi, seperti
individu bereaksi dengan tumbuhan, hewan, bahkan masyarakat.
Dalam
ruang hidup, seorang individu memiliki tujuan yang ingin dicapai yang didorong
oleh motif hidupnya, sehingga individu tersebut berusaha untuh mencapainya.
Ketika individu tersebut telah berhasil mencapai tujuan tersebut, maka ia akan
memasuki medan kognitif baru dan akan menemui tujian dan rintangan baru, dan
seterusnya hal ini terus berlanjut.[18]
Seteleh
kita baca uraian diatas, dapat dipahami bahwa hal ini prinsipnya sama dengan
percobaan Kohler terhadap seekor simpanse pada pembahasan teori Gestalt sebelumnya,
yang membedakan hanya terletak pada sudut pandangnya saja yaitu apabila teori Gestalt
menitik beratkan pada Insight (pemahaman), maka teori medan kognitif
menitik beratkan pada medan dalam menghadapi masalahnya.
Implementasi teori Gestalt dalam pembelajaran antara lain
sebagai berikut:
a)
Pengalaman
pemahaman (Insight)
b)
Pembelajaran
bermakna (Meaningful Learning)
c)
Perilaku
bertujuan (Purposive Behavior)
d)
Prinsip
ruang hidup (Life Space)
e)
Transfer
dalam belajar.[19]
3.
Jean
Piaget, teorinya disebut "Cognitive Developmental"
Dalam teorinya, Piaget memandang
bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dan fungsi intelektual dari
konkret menuju abstrak. Piaget adalah ahli psikolog developmental karena
penelitiannya mengenai tahap tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur
yang mempengaruhi kemampuan belajar individu.
Menurut Piaget, pertumbuhan
kapasitas mental memberikan kemampuan-kemapuan mental yang sebelumnya tidak
ada. Pertumbuhan intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif.[20]
Dengan kata lain, daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia
akan berbeda pula secara kualitatif. Jean Piaget mengklasifikasikan
perkembangan kognitif anak menjadi empat tahap:
a.
Tahap
sensory – motor, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2
tahun, Tahap ini diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih
sederhana.
b.
Tahap
pra – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7
tahun. Tahap ini diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa
tanda, dan telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak
abstrak.
c.
Tahap
concrete – operational, yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan
dengan anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak
sudah tidak memusatkan diri pada karakteristik perseptual pasif.
d.
Tahap
formal – operational, yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia
11-15 tahun. Ciri pokok tahap yang terahir ini adalah anak sudah mampu berpikir
abstrak dan logis dengan menggunakan pola pikir "kemungkinan".[21]
Dalam pandangan Piaget, proses
adaptasi seseorang dengan lingkungannya terjadi secara simultan melalui dua
bentuk proses, yaitu: asimilasi dan akomodasi.[22]
Asimilasi terjadi jika pengetahuan baru yang diterima seseorang cocok dengan
struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang tersebut. Sebaliknya, akomodasi
terjadi jika struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang harus direkonstruksi/di
kode ulang disesuaikan dengan informasi yang baru diterima.
Dalam teori perkembangan kognitif
ini Piaget juga menekankan pentingnya penyeimbangan (equilibrasi) agar
seseorang dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuan sekaligus menjaga
stabilitas mentalnya. Equilibrasi ini dapat dimaknai sebagai sebuah
keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan
pengalaman luar dengan struktur dalamya. Proses perkembangan intelek seseorang
berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan
akomodasi.
4.
Teori
Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Bruner.
Berbeda dengan Piaget, Burner
melihat perkembangan kognitif manusia berkaitan dengan kebudayaan. Bagi Bruner,
perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan,
terutama bahasa yang biasanya digunakan.[23]
Menurut Bruner untuk mengajar
sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu.
Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan
padanya. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat
ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya
sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal
dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang
sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi
disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang
terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan
melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan. (Discovery
Learning).
5.
Teori
Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Ausebel
Yang memandang bahwa Proses belajar
terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan
pengetahuan baru yang dimana Proses belajar terjadi melaui tahap-tahap:
a.
Memperhatikan
stimulus yang diberikan
b.
Memahami
makna stimulus menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.[24]
Menurut Ausubel siswa akan belajar
dengan baik jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan
dengan baik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan demikian akan
mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah
konsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan
dipelajari oleh siswa. Advanced organizer memberikan tiga manfaat yaitu :
1)
Menyediakan
suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari.
2)
Berfungsi
sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan yang akan
dipelajari.
3)
Dapat
membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.
6.
Teori
belajar dari Robert M. Gagne
Gagne
menggabungkan antara ide-ide behaviorisme dengan kognivisme dalam pembelajaran.
menurut Gagne, dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang pada
akhirnya dikelola oleh individu dan di keluarkan dalam bentuk kegiatan
sehari-hari.[25]
Dalam teorinya, Gagne menjelaskan bahwa dalam pemrosesan informasi terjadi
interaksi antara faktor internal individu dengan eksternal individu. Vaktor
internal merupakan individu itu sendiri, sedangkan eksternal adalah lingkungan
dimana indivdu tersebut mendapatkan informasi, faktor eksternal ini disebut
dengan sembilan peristiwa pembelajaran, yaitu:
a.
Memberikan
perhatian (Gain Attention)
b.
Memberi
tahu siswa tentang tujuan pembelajaran (Informlearner Of Objectives)
c.
Dibangun
atas pengetahuan yang telah lalu ( Recall Prior Knowledge)
d.
Menyajikan
pembelajaran sebagai rangsangan ( Present Material)
e.
Memberikan
panduan belajar ( provide guide learning)
f.
Memberikan
umpan balik (provide feedback)
g.
Menilai
kinerja (asses performence)
h.
Meningkatkan
retensi/ingatan dan transfer pengetahuan (enhance retention and transfer)[26]
Sembilan peristiwa pembelajarn ini
menurut Gagne secara tidak langsung juga disebut sebagai langkah-langkah
pembelajaran menurut Gagne.
Teori Gagne tentang pembelajaran
terdiri dari tidak prinsip, yaitu: syarat pembelajaran (condition of
learning), sembilan peristiwa pembelajaran (nine event of intructions),
dan taksonomi hasil belajar (tacsonomi of lerning outcomes).
Implikasi Teori
Kognitivistik dalam Dunia Pendidikan
Adapun
Impilikasi Teori Kognitivisme dalam dunia pendidikan yang lebih
dispesifikasikan dalam Pembelajaran sesuai dengan Teori yang telah dikemukan
diatas sebagai berikut:
1.
Bahasa
dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru
mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2.
Anak-anak
akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru
harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3.
Bahan
yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing, Berikan
peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
4.
Di
dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan
diskusi dengan teman-temanya.
5.
Menghadapkan
anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah, anak akan
berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah
dimilikinya, dan dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau
mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai
keseimbangan di dadalam benaknya.
6.
Implikasinya
dalam pembelajaran adalah seorang pendidik, mereka harus dapat memahami
bagaimana cara belajar siswa yang baik, sebab mereka para siswa tidak akan
dapat memahami bahasa bila mereka tidak mampu mencerna dari apa yang mereka
dengar ataupun mereka tangkap.
Dan
dari beberapa teori diatas jelas masing-masing mempunya implikasi yang berbeda,
namun secara umum teori kognitivisme lebih mengarah pada bagaimana memahami
struktur kognitif siswa.
Implikasi Teori
Belajar Kognitif Dalam Pembelajaran PAI
Kesimpulan
Pengertian
belajar menurut teori kognitif adalah perubahan persepsi dan pemahaman, yang
tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Asumsi
teori adalah bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang
telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilikinya. Proses belajar
akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi
dengan struktur kognitif yang telah dimiliki seseorang.
Di antara
para teori kognitif, paling tidak ada tiga yang terkenal yaitu Piaget, Bruner,
dan Ausubel. Menurut Piaget, kegiatan belajar terjadi sesuai dengan pola
tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang, serta melalui proses
asimilasi, akomodasi dan equilibrasi. Sedangkan Bruner mengatakan bahwa belajar
terjadi lebih ditentukan oleh cara seseorang mengatur pesan dan informasi, dan
bukan ditentukan oleh umur. Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap
anaktif, ikonik, dan simbolik. Sementara itu Ausubel mengatakan bahwa proses
belajar terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang telah
dimilikinya dengan pengetahuan baru. Proses belajar akan terjadi melalui
tahap-tahap memperhatikan stimulus, memahami makna stimulus, menyimpan dan
menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Dalam kegiatan pembelajaran, keterlibatan siswa secara
aktif amat dipentingkan. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar
perlu mengaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki
siswa. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu,
dari sederhana ke kompleks. Pebedaan individual pada diri siswa perlu
diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin.
Wahyuni, Esa Nur, Teori Belajar dan Pembelajaran ( Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2015).
Dahar,
Ratna Wilis, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran (Surabaya: Erlangga,
2011).
H. Schunk,
Dale, Learning Theories ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012)
Hamalik,
Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran ( Jakarta: PT Bumuaksara, 2012).
Khodijah,
Nyayu, Psikologi Pendidikan ( Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2014).
Sholihin,
Mochlis, Psikologi Belajar:Aplikasi Teori-Teori Belajar Dalam Proses Pembelajaran
( Surabaya: Pena Salsabila, 2013).
Suyono.
Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2015)
Syah, Muhibbin, Psikologi Pembelajaran ( Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2012).
[1] Penulis adalah
mahasiswa Program Magister PAI Pascasarjana STAIN Pamekasan. Nomor Hp.
082333278114 e-mail: mkhorofi199@gmail.com
[2] Dale H.
Schunk, Learning Theories ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 15.
[3]
Suyono,
Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2015), 27.
[4] Muhibbin Syah,
Psikologi Pembelajaran ( Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2012), 22.
[5] Suyono, Hariyanto,
Belajar, 75.
[6] Baharuddin, Esa
Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran ( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,
2015), 126.
[7] Oemar Hamalik,
Kurikulum dan Pembelajaran ( Jakarta: PT Bumuaksara, 2012), 45.
[8] Suyono, Hariyanto,
Belajar, 73.
[9] Ibid, 74.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] Ratna Wilis
Dahar, Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran (Surabaya: Erlangga, 2011),
27.
[13] Suyono, Hariyanto,
Belajar, 79.
[14] Baharuddin, Esa
Nur Wahyuni, Teori Belajar, 127.
[15] Ibid.
[16] Ibid, 130.
[17] Nyayu Khodijah,
Psikologi Pendidikan ( Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2014), 77.
[18] Suyono, Hariyanto,
Belajar, 81.
[19] Ibid, 82.
[20] Mochlis Sholihin,
Psikologi Belajar:Aplikasi Teori-Teori Belajar Dalam Proses Pembelajaran (
Surabaya: Pena Salsabila, 2013), 84.
[21] Ibid, 85.
[22] Suyono, Hariyanto,
Belajar, 86.
[23] Ratna Wilis Dahar,
Teori-Teori Belajar, 74.
[24] Ibid,95.
[25] Suyono,
hariyanto, Belajar,92.
[26] Ibid, 93.