
"Kebangkitan suatu bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan. Sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan yang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi, di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan ketenangan dalam melangkah telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan." (Hasan Al-Banna; Risalah Ila Ayyu Syain Nad u An-Naas.)
Dalam sejarah kehidupan bangsa-bangsa, kebangkitan dan kemajuan
adalah sebuah keniscayaan yang mesti diyakini. Namun, kelemahan yang sedang
mengungkung suatu bangsa seringkali memicu keputusasaan sehingga bayang-bayang
ketidakpastian dan kemustahilan menjadi begitu kuat. Realitas kejiwaan
masyarakat inilah yang ingin didobrak oleh Hasan Al-Banna, dengan salah satu
ungkapannya: "Inna haqaiqa al-yaumi hiya ahlamu al-amsi, wa ahlama
al-yaumi haqaiqu al-ghadi (Sesungguhnya kenyataan hari ini adalah mimpi
kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari)."
Di atas keyakinan ini, Hasan Al-Banna menyodorkan perpektif baru
dalam menatap kebangkitan. Bahwa, kehancuran material adalah indikasi
fenomenalogis yang zhahir dari kelemahan suatu bangsa, sementara akar penyebab
kelemahan yang sebenarnya ada pada kehancuran jiwa masyarakatnya. Ini yang
secara kuat dicemaskan oleh Abul Hasan An-Nadwi dengan ucapannya,
"Kemanusiaan sedang ada dalam sakratul maut." (Abul Hasan An-Nadwi, Madza
Khasira al-Alam bi Inkhithathi al-Muslimin , 1969). Bahkan, kecemasan dunia
modern yang digjaya seperti Amerika misalnya, juga terletak di sini. Laurence
Gould pernah mengingatkan publik Amerika, "Saya tidak yakin bahaya
terbesar yang mengancam masa depan kita adalah bom nuklir. Peradaban AS hancur
ketika tekad mempertahankan kehormatan dan nilai-nilai moral dalam hati nurani
warga kita telah mati." (Hamilton Howze, The Tragic Descent: America in
2020 , 1992).
Dari pemahaman inilah, Hasan Al-Banna menyimpulkan bahwa pilar
kekuatan utama untuk bangkit adalah kesabaran (ash-shabru), keteguhan (ats-tsabat),
kearifan (al-hikmah), dan ketenangan (al-anat) yang kesemuanya
menggambarkan kekuatan kejiwaan (al-quwwah an-nafsiyah) suatu bangsa.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka
mengubah kondisi kejiwaannya஦quot; (QS. 13:11)
Transisi politik merupakan titik-berangkat (muntholaq) untuk
membangun kembali umat. Kepada para pelaku perubahan (anashir at-taghyir),
Hasan Al-Banna mengingatkan dua pandangan dasar (an-nadhoriyah al-asasiyah)
yang mesti dipegang teguh. Pertama, sekalipun jalan ini sangat panjang dan
berliku, tetapi tidak ada pilihan lain selain ini. Kedua, bahwa seorang pekerja
pertama kali harus bekerja menunaikan kewajibannya, baru kemudian boleh
mengharap hasil kerjanya.
Dalam proses pembangunan kembali umat, Hasan Al-Banna menyimpulkan
adanya lima babak yang akan dilalui. Kesimpulan ini berangkat dari analisa
sejarah perjalanan bangsa-bangsa dan upaya memahami arahan-arahan Rabbani (taujihat
rabbaniyah). Apa kelima babakan itu?
1.
Kelemahan
(adh-dho fu).
Faktor
utama kelemahan adalah terjadinya kesewenang-wenangan rezim kekuasaan yang
tiranik. Kekuasaan inilah yang memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan
masyarakat dan memberangus potensi-potensi kebaikannya dengan dalih kepentingan
kekuasaan. "Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi
dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari
mereka, membunuh anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan
mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang yang membuat kerusakan." (QS.
28:4) Itulah sebabnya tujuan pertama transisi politik menurut Al-Banna adalah
membebaskan umat dari belenggu penindasan dalam kehidupan politik
.
2.
Kepemimpinan
(az-zuaamah).
Sejarah
perubahan menunjukkan bahwa upaya bangkit kembali dari kehancuran membutuhkan
seorang pemimpin yang kuat. Kepemimpinan ini mesti muncul pada dua wilayah,
yaitu pemimpin di tengah-tengah masyarakat (az-zuaamah ad-da wiyah) yang
menyeru kepada kebaikan dan pemimpin pemerintahan (az-zuaamah as-siyasiyah)
yang sejatinya muncul atau menjadi bagian dari mata rantai barisan penyeru
kebaikan itu. "Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka
berkuasa di muka bumi஦quot; (QS. 24:55). Ini artinya kekuatan-kekuatan
Islam mesti mempersiapkan diri secara sistematis, sehingga masa transisi
politik menjadi kesempatan untuk meneguhkan kepemimpinan dakwah dan untuk
meraih kepemimpinan politik. Inilah tantangan sekaligus rintangan terberat kaum
muslimin pada hari ini.
3.
Pertarungan
(ash-shiraa u)
Ketika
suatu bangsa memasuki masa transisi politik, Al-Banna mengingatkan akan muncul
dan maraknya berbagai kekuatan ideologis yang lengkap dengan tawaran sistem dan
para penyerunya. Akan terjadi kompetisi terbuka untuk menanamkan pengaruh,
meraih dukungan dan memperebutkan kekuasaan.
Ada
dua karakter dasar ideologi-ideologi kuffar. Pertama, secara hakiki ia
berlawanan dengan ideologi Islam. Dan kedua, untuk menjamin eksistensinya di
muka bumi, ideologi-ideologi kuffar itu akan berupaya menghancurkan ideologi
Islam. Pertarungan terberat adalah pada upaya untuk membebaskan diri dari
mentalitas, sikap, perilaku dan budaya yang sudah terkooptasi oleh ideologi
materialisme-sekuler. Pertarungan ini tidak bisa dimenangkan dengan kekuatan
senjata, tetapi dengan bangunan keimanan baru yang memantulkan izzah (harga
diri) umat di hadapan peradaban-peradaban kuffar.
4.
Iman
(Al-Iman)
Pertarungan
ideologi di fase transisi menuju kebangkitan adalah masa-masa ujian berat bagi
umat. Pertarungan akan memunculkan dua golongan manusia. Pertama, mereka yang
tidak istiqamah dengan cita-cita Islam dan menggadaikan perjuangannya demi
keuntungan-keuntungan material. Perjuangan bagi mereka adalah bagaimana
mengumpulkan sebanyak-banyaknya perhiasan dunia sesuatu yang tidak mereka
miliki sebelumnya. Golongan kedua, adalah mereka yang istiqamah dan iltizam
dengan garis dan cita-cita perjuangan. Besarnya kekuatan musuh justru menambah
keimanan mereka dan semakin mendekatkan diri mereka kepada Allah. Inilah
golongan yang sedikit, tapi dijanjikan kemenangan oleh Allah. Proses
kebangkitan umat tidak akan berjalan tanpa keberadaan mereka; orang-orang yang
akan menorehkan garis sejarah panjang perjuangan yang diliputi berbagai
keistimewaan dan keajaiban.
5.
Pertolongan
Allah (Al-Intishar)
Inilah
hakikat kemenangan bagi umat, yaitu ketika Allah swt. telah menurunkan
pertolongannya untuk mencapai kemenangan sejati. Kemenangan tidak semata diukur
oleh terkalahkannya musuh. Tetapi, kemenangan adalah ketika tangan-tangan Allah
ikut bersama kita menghancurkan seluruh kekuatan musuh. Inilah awal tumbuhnya
kehidupan baru di mana Allah akan menerangi dengan cahayaNya dan Allah akan
menaungi kehidupan umat dengan Keperkasaan dan Kasih-sayangNya. Di sinilah
pembalikan keadaan (tabdil) dalam kehidupan akan terjadi. Kemakmuran,
keamanan, kedamaian dan keadilan akan menjadi nikmat yang bisa dimiliki setiap
makhluk yang mendiami negeri itu. "Sesungguhnya Kami telah memberikan
kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap
dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya
atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu
dengan pertolongan yang besar." (QS. Al-Fath: 1-3)